Saya pergi bersama delapan orang teman saya. Terdiri dari dua orang laki-laki (Bang Rizki sebagai juru kemudi dan Miming) dan tujuh orang perempuan (Saya, Amel,Kak Rima, Kak Resa, Kak Lisa, Kak Ros, dan Kak Mirah). Saat itu, 17-Oktober-2010, status kami masih sebagai mahasiswa. Kami berangkat dari Padang pada hari minggu pagi. Targetnya perjalanan ini akan selesai dalam tiga hari saja, termasuk PP (Pulang-Pergi). Kami menuju tempat destinasi melalui jalur darat, dengan menggunakan mobil sewaan. Sebenarnya tujuan awal kami kesana adalah berta’ziyah ke rumah seorang teman yang sedang kemalangan. Namun ternyata perjalanan ini tak hanya sekedar itu, tapi juga menyuguhkan berbagai ilmu dan keindahan dari sang Pencipta.

Kami mengambil jalur Lintas Tengah dibandingkan dengan Lintas Sumatera. Ini dikarenakan juru kemudi kami satu-satunya belum pernah lewat sana. Dalam rute Padang-Palembang, kami harus melewati satu provinsi lain, yaitu Jambi. Di sinilah, atau tepatnya di daerah Lahat, yang terkenal dengan rawan terhadap kejahatan jalanannya, apalagi malam hari. Atau biasa disebut dengan Bajing Loncat. Dan tepatlah, kami magrib baru tiba di Jambi. Artinya perjalanan kami Jambi-Palembang akan terjadi di malam hari.

Suasana malam sangat mencekam dan sepi. Dan kami adalah sasaran empuk bagi kerajaan penjahat jalanan, karena mobil kami berkaca transparan. Terlihatlah dengan mudah dari luar siapa saja orang yang ada di dalamnya. 2 pemuda kurus dan kecil, serta tujuh orang perempuan berhijab yang tak punya banyak daya. Sepanjang perjalanan kami banyak berdzikir untuk keselamatan perjalanan ini. Pada tanggal 18 Oktober dini hari, tiba-tiba mobil kami terhenti dipinggir jalan sepi. Saya bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan? Mungkin yang lain juga berpikir yang sama, namun tak satu pun dari kami mampu bersuara. Hingga tiba-tiba sebuah mobil di belakang kami ikut berhenti. Salah seorang turun dari mobil itu. Berpostur tubuh tinggi, besar, kuat, dan gagah datang menghampiri kaca mobil juru kemudi kami. Ketika dibuka terlihatlah orang itu menggunakan sebo hitam yang hanya menampakkan mata saja, pakaiannya sangat rapi dan lengkap, serta menenteng senapan laras panjang.

Dengan tergagap akhirnya juru kemudi mengatakan kalau dia ingin istirahat sebentar karena keletihan. Baru kemudian tampak oleh kedua mataku ada sebuah plang agak jauh diseberang jalan bertuliskan “Polsek Sarolangun”. Syukurlah, bapak tadi bukanlah termasuk Bancing Loncat yang kami takutkan, melainkan Tim Buser yang sedang bertugas. Perjalanan kami lanjutkan.

Tibalah kami di kota Palembang pada pagi menjelang siang. Tersibaklah pandangan kami akan kota Palembang yang terkenal dengan makanan khasnya, Pempek Palembang. Dan kami pun berkesempatan melewati Jembatan Ampera yang fenomenal itu. Meski katanya jembatan ini terlihat indah di malam hari, namun bagi saya melihatnya di siang hari juga tak kalah takjubnya, tetap terlihat kokoh dan simbolis.

Advertisement

Sesampainya di kota Palembang, tak satu pun diantara kami yang mengetahui pasti dimana rumah yang kami tuju itu. Akhirnya perjalan selanjutnya dipandu by phone oleh tuan rumah yang kami tuju. Kami diarahkan untuk menemukan Simpang Selapan. Perjalanan ini seperti teka-teki, rumit dan menegangkan, tapi menyenangkan.

Tiga jam setelah kami baru menemukan yang dimaksud dengan Simpang Selapan. Simpang yang sunyi dan tenang. Tak seorang pun kami jumpai di sepanjang jalan tadi. Namun tak berapa jauh dari simpang, rumah satu persatu mulai terlihat, menandakan adanya suasana kehidupan. Masih dengan panduan dari tuan rumah, kami terus melaju ke setiap arah dan simpang untuk bisa mencapai daerah destinasi.

Disinilah aku mulai melihat cara-cara tradisional masyarakat palembang. Rumah-rumah mereka berbentuk panggung, dengan tempat tangga yang sama. Masyarakatnya terlihat hidup harmonis meski dalam kesederhanaan. Melihat anak-anak yang bermain-main lombat sungai untuk mandi-mandian serta para ibu-ibu berkemben sedang mencuci pakaian di sungai. Tak berapa lama pemandangan berubah menjadi hutan. Kemudian bertemu pemukiman lagi, kemudian hutan lagi. Entah berapa pemukiman yang harus kami lewati saat itu. Namun tetap dengan jalan yang sama, sempit, berkubang, dan sepi.

Dalam perjalanan menuju desa tuan rumah,Desa Tulung Selapan, kami juga menemukan sebuah jalan yang lurus saja sepanjang mata memandang, seperti tak ada ujungnya. Masih jalan yang sempit tapi yang ini sudah beraspal, kiri kanan adalah rawa-rawa berumput hijau datar dan luas sekali sejauh mata sanggup memandangnya. Atau mungkin bisa disebut sebagai padang rawa.

Akhirnya sampai juga kami di rumah yang di tuju pada waktu magrib. Desa ini terletak paling ujung di daerah OKI, atau Ogan Komering Ilir. Soal pemandangan, jangan ditanya, sudah pasti menakjubkan. Lelah, letih dan lesu selama perjalan terbayar sudah. Meski di ujung pelosok, namun rumah-rumah yang ada disini banyak yang seperti istana, ada banyak masjid yang dibangun dengan bentuk unik dan menarik, atau saya menyebutnya seperti kue yang dihias untuk ulang tahun, berwarna-warni dan menarik sekali ketika mata melihat.

Kami tak sabar ingin cepat keluar dari mobil yang sudah membunglon dari silver ke warna cokelat, karena melewati kubangan-kubangan lumpur yang naudzubillah dalamnya. Tibalah kami di tepi sungai. Sangat mengejutkan, disini suasananya sangat hidup sekali. Sangat ramai, jauh dari prediksi kami. Rumah-rumah dibangun berdempet-dempet di tepi sungai.

Tuan rumah menghampiri, dan menyambut kami dengan hangat. Tak begitu jelas kesedihan di raut wajahnya, perempuan ini memang sosok yang tangguh. Setelah itu, kami mengiringi langkahnya untuk benar-benar sampai di rumahnya. Kami menyusuri gang-gang kecil berbelok-belok yang dibuat dari susunan papan tebal dan kokoh. Sungguh menakjubkan ternyata susunan rumah dempet tadi tak hanya ada dipinggir sungai saja, melainkan terus bersusunan diatas sungai hingga mencapai ketengahnya. Dan rumah yang kami tuju berada di ujung dekat dengan tengah sungai. Tengah sungai ini sengaja tidak dirumahi karena menjadi jalur transportasi air bagi masyarakat disekitar sini. Dan ketika saya melihat kesebalik sungai, ternyata adalah pemandangan yang sama, rumah-rumah padat di atas air. Bahkan fasilitas umum juga dibangun di atas air, misalnya saja masjid. Biduk-biduk atau perahu juga hilir mudik disana. Bahkan transportasi ini bisa di bilang ojeknya daerah sini.

Ternyata di tengah sungai ada jembatan terbuat dari kayu semuanya, melintang menjadi penghubung antar sisi sungai. Saya berdiri ditengah jembatan tradisional itu menyaksikan matahari terbenam. Pancaran merah saga sang mentari yang hendak kembali ke peraduan itu, menjadi kado terindah bagi teka-teki perjalananku.