Aku teringat satu memori kala libur lebaran tahun 2015 bersama suami dan delapan (Monic, Lina, Maury, Vany, Gracias, Awang, Anton, Ratih) orang sahabat di salah satu pesisir Pulau Indonesia. Persahabatan kami terjalin sekitar delapan tahunan saat aktif di komunitas organisasi sebuah gereja Katolik. Padatnya rutinitas hidup, tidak membuat kami lupa untuk menikmati senang-senang. Jadi, libur lebaran selalu kami manfaatkan menikmati indahnya pesona Indonesia.

Saat itu udara panas menyengat menemani langkah kaki kami menyusuri bibir pantai nan cantik, didukung cakrawala yang indah bersama hembusan angin nan hangat memasuki pori-pori jiwa serta pasir putih yang terasa lembut saat di pijak. Terukir jelas telapak kaki ku di pantai seakan memberi tanda bahwa aku sudah menginjakkan kaki di Pantai Batu Besar Ujung Genteng, Sukabumi.

Pantai ini cukup banyak dikunjungi turis mancanegara. Terlihat turis-turis menenteng papan selancar dan beraksi dengan lihai nya. Memang gulungan ombak di pantai ini sangat mendukung aksi mereka. Rata-rata ketinggian ombak sekitar tiga meteran dugaanku. Dengan demikian tak berlebihan jika ku sebut Pantai Batu Besar ini salah satu surga bagi para penikmat olahraga selancar. Selain ombak yang ideal untuk berselancar, pohon-pohon nan hijau di sepanjang pantai pun berderet rapi seakan sedang memagari pantai yang berpasir putih. Perpaduan warna alam yang harmoni.

Aku ingat betul saat itu dua jam kami menyusuri pantai Batu Besar ini dari Pantai Cibuaya, hingga kami menemukan segerombolan orang banyak yang sedang berkerubung seakan ada kejadian menarik untuk di abadikan. Betapa kagetnya kami saat diketahui bahwa ada salah satu wisatawan asal Bekasi ditemukan dalam keadaan meninggal. Diduga wisatawan tersebut sedang asyik ber-selfie di bibir pantai, lalu jatuh terbawa arus hingga tingginya ombak menyeretnya ke tengah laut. Terlihat petugas SAR dan beberapa warga ramai membantu membopong jenazah. Sungguh ini kejadian pertama kali buat kami dalam bewisata menyaksikan hal tersebut.

Takdir memang sulit untuk diketahui, namun dari kejadian itu membuat kami agar lebih mawas diri dalam berwisata. Pantainya memang cantik untuk diabadikan bukan berarti keselamatan diabaikan. Aku menyikapi bahwa tak ada yang salah dengan selfie namun akan berbahaya jika dilakukan secara nyeleneh.

Advertisement

Kami menjemput senja, rona merah dan oranye langit tampak saat mentari menyelusup ke peraduan. Senja yang syahdu nan eksotis tampaknya tepat melukiskan kata sore hari itu. Aku terbenam bersama suami dan delapan orang sahabat menikmati suguhan Tuhan yang sungguh luar biasa ini. Dalam relung hati ku yakini aku bangga hidup di tanah pertiwi, tanah air indah dan menawan, Indonesia.