Diamku tak hanya menyiratkan makna, namun sebenarnya ada hati yang sedang terkoyak di sana. Hancur dan hampir tak ada yang tersisa.

Satu hal yang harus kupahami, dimana ada pertemuan pasti akan ada perpisahan, namun aku berpikir sejak awal pertemuan kita tak diamini oleh semesta

Awalnya kita sejalan, hobi kita yang sama, kebersamaan kita di sela kuliah, kau menjanjikan masa depan dan memintaku untuk menua bersama membuat saya ternganga. Semua kata-katamu yang manis itu menentramkan hati, perhatianmu membuaiku ketika ku sedang pilu, kalimat sayang dan janji manismu semakin membuatku yakin dan percaya bahwa memang kau lah orangnya

Saya sempat merasa jumawa karena dicinta sebesar semesta. Sampai hari itu tiba…

Perempuan itu tiba-tiba muncul sebagai kekasih hatimu. Kau tak mengakui itu, tapi semua kebersamaan kalian toh akhirnya kuketahui, dan itu sudah lebih dari cukup untuk dijadikan bukti. Apa perlu kuceritakan bagaimana hebatnya kau meremuk hati ini?

Advertisement

Kini terbayang di ingatanku bagaimana kau memperlakukanku sebagai opsi, bukan sebagai pilihan pertama, pada diriku bertanya, “Apa yang kurang dariku? tak cukupkah kau menetap di dadaku saja?"

Selepas ku tahu kenyataan pahit itu, hari-hari sempat ku lewati payah sekali, ku sering bangun pada jam dua pagi, mencerap air mata dan bersenandika, “Tega sekali kau kepada ku?” Aku merasa dipecundangi, menarik napaspun terasa menguras banyak energi. Kau tak akan pernah mengerti bagaimana aku menyeret langkah hingga mampu berjalan tegak kembali.

Cukup! Seharusnya kau tak usah memberikan imbuhan harapan-harapan yang manis itu, aku tak ingin menjadi pilihan kedua. Melihatmu berjalan dalam dua hubungan sekaligus kau mempertahankanku sementara ikatan lain jalan terus. Lancang sekali kau sebagai seorang pria!

Jika kau menghubungi nanti, tolong jangan pernah bertanya kenapa aku bersikap sedingin ini. Kau seharusnya tahu diri. Gadis ini tak mau kau sakiti lagi.

Sudah cukup, setelah ini kau tak perlu menghadap wajahku lagi. Sampai kapanpun kau tak akan bisa memperbaiki hati yang telah terkoyak ini. Tidak perlu menawarkan hubungan apapun untuk bisa dijalin kembali. Kini semua harapanku sudah kukubur di palung hati . Hal yang ku butuhkan saat ini hanya jarak dan waktu agar kita tak saling bertemu.

Dari gadis yang kau percundangi.

Tanpa perlu ku beritahu kau pasti tahu siapa aku.