Agustus, 2012.

Siang ini, seperti siang-siang di hari sebelumnya, saya menumpang bus Trans Jakarta untuk pergi ke kampus.

Cuaca panas seperti biasa, sekali-sekali saya mengintip ke spion untuk melihat wajah supir yang membawa bus ini. Cara yang biasa saya pakai untuk mengatasi rasa bosan saya dalam perjalanan. Saya suka memperhatikan wajah-wajah orang di sekitar saya tanpa mereka sadari.

Tak lama, datanglah seorang penumpang baru. Badannya mengeluarkan wangi lembut, rambut hitamnya dikuncir ekor kuda dan melambai halus di udara. Matanya dilapisi eyeliner hitam dan maskara yang terpoles rapi. Kulit wajahnya yang mulus dilapisi bedak tipis-tipis dan natural.

Bibirnya bersemu merah jambu karena lipstik matte yang digunakannya. Pakaiannya rapi dan sopan. Dari skinny jeans dan heels yang ia kenakan, saya tahu ia memiliki selera fashion yang baik, namun tidak untuk seorang laki-laki.

Advertisement

Ya, si cantik yang saya puji-puji barusan itu adalah seorang lelaki.

Si Cantik berdiri tegak memegang gantungan di bus Transjakarta,

beberapa pasang mata mengawasinya dari atas sampai bawah, entah mengagumi kemampuan make up dan fashionnya, atau mencemooh dirinya dalam diam.

Entah, hanya Tuhan yang tahu.

Suasana di bus Transjakarta saat itu tidak seramai biasanya, semua bangku area wanita terisi penuh, hanya Si Cantik yang berdiri. Tak berapa lama di halte BI, turun beberapa orang wanita, menyisakan empat bangku kosong.

Si Cantik pun duduk di salah satu bangku tersebut.

Kemudian bus Transjakarta ini sampai di Halte Sarinah. Wanita-wanita lainnya pun datang. Tempat duduk seketika penuh, dan dua orang wanita terpaksa berdiri.

Beberapa orang wanita yang tadinya memandang Si Cantik dengan hati-hati mulai berani menatapnya dengan intens, alis mata mereka dikerutkan sedikit, menggambarkan ketidak sukaan.

Si Cantik berdiri, dan menawarkan wanita-wanita tersebut untuk duduk. Mereka menolak sambil tersenyum kecil.

Lewat beberapa halte, tiba-tiba supir bus Transjakarta yang saya tumpangi berkomentar sambil separuh tertawa.

“Kok bisa ya yang laki tapi bukan laki duduk, yang cewe berdiri?”

Ekspresi muka Si Cantik berubah. Dia tersenyum, senyum miris, matanya memandang ke bawah, pipinya merah. Ada kepedihan yang tersirat dari bahasa tubuhnya.

Ia bangkit berdiri, sekali lagi menawarkan ke beberapa perempuan untuk duduk di bangku yang ia tempati tadi. Tidak ada yang bersedia. Semua tersenyum, menggelengkan kepala.

Supir transjakarta terkekeh-kekeh.

Tak lama busway berhenti di halte Setiabudi, Si Cantik pun turun dari busway membawa rasa malunya. Selang beberapa detik, masuklah seorang bapak-bapak bertubuh besar, berkulit gelap, berkumis. Dengan santainya, ia berjalan ke arah bangku yang diduduki Si Cantik tadi, dan ia duduk tenang.

Satu detik, lima belas, tujuh belas, lima menit, delapan menit, saya menghitung waktu dari jam di blackberry saya. Menunggu si supir mengkritik lelaki besar itu.

Akhirnya saya sampai di Halte Benhil, bangun dari duduk saya, berjalan keluar pintu meninggalkan supir jelek yang mendadak bisu itu.

Pitiful.

Supir pengecut.

Modal ngatain orang lemah doang.

Mudah sekali orang mengemukakan kejelekan dari orang-orang lemah. Mudah sekali manusia yang terlahir normal menertawakan perbedaan dalam diri seseorang. Mengatai Si Cantik “banci” secara tidak langsung. Menertawainya dalam hati tanpa menyadari kejantanannya sesungguhnya.

Si Cantik mungkin seorang transgender.

Ia tahu fisiknya laki-laki.

Ia peka akan tatapan sinis orang-orang di sekitarnya.

Ia mendengar dalam diam bisikan-bisikan penuh cerca manusia di sekitarnya, tapi ia tidak melawan.

Ia berkembang.

Ia menjadi kuat.

Ia bukan banci, ia seorang pemberani.

Berani menunjukkan dirinya, seorang wanita dalam bungkus fisik seorang pria, kepada manusia-manusia di sekitarnya.

Jadi, siapa yang banci dalam cerita saya barusan? Apakah Si Cantik? Atau si supir? Atau lelaki berbadan besar itu? Atau kita semua?

Tidak semua orang berani terbuka kepada orang lain, menampilkan jati diri yang ia anggap benar kepada orang-orang di sekitar kita.

Menampik setiap hinaan yang ia terima dengan senyum kecut, mata basah, bahu tertunduk, namun hati yang teguh.

Kalau dipikir-pikir, memangnya Si Cantik mau, terlahir seperti ini? Berbeda dari orang-orang pada umumnya.

Tidak ada orang yang mau terlahir menjadi homo, menjadi transgender, menjadi banci. Mereka ingin sama seperti orang lain, tapi ada sesuatu dalam diri mereka yang membuat mereka berbeda.

Lahir dengan perbedaan adalah hal wajar bagi setiap manusia. Bukan sebuah kesalahan bila seorang manusia berusaha untuk memperjuangkan identitas dirinya. Mengapa orang-orang mencemooh mereka?

Hanya karena mereka berbeda, kaumnya sedikit, mereka lemah, orang bisa seenaknya mengatai mereka, merendahkan mereka. Mengecap mereka adalah pendosa, karena perbedaan dalam diri mereka tidak ditulis dalam kitab suci sebagai hal yang benar.

Untuk apa malaikat diciptakan, kalau manusia punya kuasa menghakimi?

Kalau kata Gusdur, “Manusia tidak perlu membela Tuhan, karena Tuhan memang tak perlu dibela”

Jelas, manusia yang lemah, punya kekuatan apa untuk membela Tuhan? Atau jangan-jangan, manusia terkadang memakai tameng dengan alasan membela Tuhan, padahal maksud sebenarnya hanya untuk menjatuhkan manusia lain yang lebih lemah?