Bulan Oktober yang lalu aku berlibur ke rumah Opa, dan aku mendapatkan banyak cerita mengenai masa mudanya. Usai berbincang-bincang ringan dengan Paman dan Tanteku, selama 4 jam kemudian Opa secara khusus menceritakan bagaimana ia memperjuangkan kehidupannya saat seusiaku dulu, dengan maksud menginspirasi perjuangan yang tengah kulakukan pada saat ini.

Opa mulai bernostalgia mengenang masa-masa perang di Pulau Sumatera, saat pasukannya menyerbu benteng lawan dan membumi hanguskan pemberontak yang ingin memecah belah Negara Indonesia.

Namun tak lupa, Opa juga menyisipkan cerita-cerita romantis yang membuat khayalanku kembali ke masa tahun 60-an dimana pacaran adalah hal yang tabu dan sopan santun dijaga sedemikian baiknya.

Saat Opaku berusia 20 tahun, ia menjadi seorang tentara di Lampung, sehingga Opa ikut serta berperang melawan pemberontak yang menyebar di Pulau Sumatera, mulai dari Aceh, Padang, Bengkulu hingga Palembang. Ratusan pasukan tentara menyisir berbagai provinsi, naik turun gunung, berjalan kaki menempuh jarak ribuan kilometer dengan menembus lebatnya hutan Sumatera yang masih dikuasai binatang buas.

Opa mulai menceritakan serunya aksi tembak-menembak yang seru dan menegangkan, sampai kisah duka dimana beberapa sahabatnya mati terbunuh. Dengan gagah berani pasukan tentara NKRI berjuang membela tanah Sumatera, hal ini yang kemudian membuat Opa sampai tidak sempat menginjakkan kaki di Pulau Jawa. Semua dilakukan demi tugas negara, membela tanah air, menjaga kesatuan bangsa, rela berpindah-pindah lokasi bertahun-tahun lamanya demi menyelesaikan misi damai menekan pemberontakan di Pulau Sumatera.

Advertisement

Ketika berlatih perang di Pulau Bangka, Opaku yang saat itu masih berusia 20 tahun bertemu dengan Omaku yang berusia 11 tahun. Opa sering bermain ke rumah Oma, karena saat itu bapak dari Omaku adalah bapak angkat adat di Pulau Bangka untuk Opa, yang saat itu memang seluruh tentara yang berperang tengah berlatih disana.

Opa mengingat dengan baik betapa kesengsemnya Opa pada keluguan dan manisnya Oma yang saat itu masih SR (Sekolah Rakyat), Opa sering memperhatikan Oma yang masih gemar bermain bersama teman-temannya, gundu, petak umpet, dan lompat tali. Dengan rambut berkepang dua dan kulit hitam manisnya Oma, Opa pun jatuh cinta.

Dan terucaplah satu kalimat yang membuatku mesam-mesem sendiri saat mendengarnya:

Fat, nanti kalau kamu sudah besar, kamu jadi istri saya ya?”

Omaku yang saat itu masih kecil hanya bisa berlari sembari berteriak:

“Tidak mau, kakak sudah tua!”

Opa terkekeh-kekeh mengenang kisah cintanya itu, dan menurutku itu adalah kisah teromantis melebihi novel apapun juga.

Kelanjutannya, Opa kembali ke Pulau Sumatera untuk berjuang lagi sebagai tentara.

Dua tahun pun berlalu.

Sekembalinya ke Pulau Bangka untuk kegiatan berlatih perang, Opaku mencari-cari dimana Oma kini berada. Tenyata perubahan fisik telah membuat Opaku pangling sehingga tidak mengenali lagi. Oma telah tumbuh menjadi seorang gadis manis yang saat itu tengah disibukkan dalam kegiatan kelas menjahit.

Pesonanya yang anggun bahkan sampai melumpuhkan hati lima orang tentara yang merupakan teman-teman Opa, untuk kemudian atas kesepakatan bersama, mereka mendatangi rumah Oma dalam rangka melamarnya.

Opa dan kelima temannya itu berharap-harap cemas akan jawaban yang menanti mereka, masing-masing mengajukan pertanyaan yang sama, sayangnya ditolak mentah-mentah oleh Oma: Namun pada giliran terakhir yang tiba pada Opaku, pertanyaan:

“Maukah kau menjadi istriku?”

Mendapat jawaban: “Ya” sembari Oma yang menunduk malu.

Bersuka citalah hati Opa yang disambut gembira pula oleh keluarga Oma.

Opa kemudian berjanji akan kembali ke Pulau Bangka setelah bertugas dua tahun nanti.

Janji dan komitmen melalui pertunangan mengikat mereka berdua sampai akhirnya penantian demi penantian berlalu sembari diwarnai manisnya kata cinta melalui perkabaran surat yang tak pernah terputus.

Dua tahun berlalu dan penantian itu bermuara pada indahnya pernikahan.

50 tahun lebih usia pernikahan Oma dan Opaku diwarnai berbagai halang rintangan, namun Opaku adalah pria paling sopan dan penyayang yang tak pernah sekalipun bersikap kasar pada keluarga.

Pernah suatu hari Omaku berkata: “Kak, kalau aku pergi duluan, siapa ya yang ngurus kakak.

Yang langsung disambut omelan dari kami sekeluarga “Jangan bicara seperti itu, Oma”.

Dan ternyata omongan tersebut menjadi kenyataan pada tahun 2012 yang lalu.

Suatu malam, seperti biasanya Omaku terbangun pukul 2, dan tanpa diduga-duga Oma meninggal karena terjatuh didepan kamar.

Menjelang subuh Opaku terbangun dan melihat Oma sudah tiada, seketika seisi rumah panik dan segera mengusahakan yang terbaik. Aku beserta keluargaku pun segera mempersiapkan kepulangan ke Lampung.

Meski mendung menggelayut diwajahnya, Opa tidak mengeluarkan air mata setetespun, ketegarannya tanpa batas, demi ketenangan hati keluarga besar yang tengah berkumpul dalam duka.

Tahun demi tahun Opa lalui dengan bantuan dari dua orang cucu Opa yang tinggal disana dan merawat Opa sampai hari ini. Meski sesekali sakit batuk, Opa tetap sehat wal afiat, tubuhnya masih kuat, giginya pun masih lengkap.

Di akhir perbincangan malam itu, Opa menceritakan sebuah kisah yang dialami kakeknya Opa saat pulau Sumatera masih lestari alamnya, kisah ini kemudian menjadi sebuah legenda yang secara turun temurun menjadi sejarah di keluarga besarku.

Pada masa kakek dari Opaku, ada sebuah pohon besar yang tinggi menjulang menembus awan, namun suatu hari pohon tersebut roboh termakan usia. Kakeknya Opa dan saudaranya berjalan jauh ribuan kilometer melalui pohon yang rubuh tersebut, bermaksud menelusuri kemana arah jatuhnya, dan ternyata pucuk pohon tersebut bermuara sampai ke Negeri Cina.

Sesampainya mereka berdua di daratan Cina, masyarakat sekitar mengatakan bahwa buah dari pohon tersebut adalah emas dan perak. Namun sayangnya mereka sudah terlambat datang, karena buah dari pohon tersebut telah habis diambil oleh orang-orang Cina tersebut.

Maka dari itu, sampailah pada satu kesimpulan bahwa buah dari pohon itu merupakan bagian dari sejarah kaya bangsa Cina.

Karena tidak mendapatkan apapun, mereka berdua memutuskan untuk berputar kembali ke Pulau Sumatera. Dalam perjalanan pulang, kedua kakak beradik ini menemukan dua jamur raksasa yang bentuknya lempeng dan lebar seperti tampah dan tumbuh di batang pohon raksasa tadi, kemudian di ambillah dan dibawa dengan cara meletakkan diatas kepala.

Sesampainya di kampung halaman, kedua jamur tadi diletakkan sebagai pusaka keluarga di atas pelafon rumah. Secara ajaib, dalam beberapa waktu kemudian kedua jamur tadi berubah menjadi keras seperti batu giok berwarna hijau, bentuknya seperti piring, pipih dan datar dengan gurat-gurat yang masih sama seperti jamur.

Benda pusaka itupun secara turun temurun menjadi warisan yang dijaga dan disimpan didalam rumah sampai kemudian menjadi hak milik Opaku.

Suatu hari saat Opaku tengah pergi bertugas, benda pusaka tersebut dititipkan kepada saudaranya untuk menjaga selama Opa pergi.

Namun sepulang dari menjalankan tugas, ada kabar mengejutkan dimana benda pusaka tersebut dinyatakan hilang dicuri orang.

Setelah bertanya kesana-kemari mencari tahu kebenarannya, akhirnya sampailah pada satu jawaban dimana benda pusakan tersebut telah dijual dengan harga yang tentu fantastis oleh saudaranya sendiri.

Kabar tersebut terlanjur mengecewakan, meski tak jua mengaku namun saudara Opaku itu pada akhirnya menerima karma akibat ulah perbuatannya. Dan bagaimanapun Opa masih mau memaafkannya.

Dari kisah hidup yang Opaku ceritakan, aku mendapatkan banyak keteladanan akan prinsip dan kesetiaan baik itu pada pekerjaan maupun keluarga.

Jasmerah! Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!

Aku mengagumi Opaku sebagai seorang bapak dari Mamaku yang juga mengaggumkan.

Atas keberaniannya, kejujurannya, apa adanya Opa sebagai pemimpin yang luar biasa menginspirasi dan patut dijadikan pahlawan.

Buah jatuh takkan jauh dari pohonnya.

Harapku masih ada perjumpaan dilain kesempatan dengan Opa Sanusi, pahlawanku yang tanggal 12 Desember nanti berulang tahun ke 83.