Tepat jam 12 tengah malam kereta sampai di St. Kiaracondong. Suasana khas kereta ekonomi yang sekarang sudah berstandar baik langsung terasa malam itu.

Kereta sudah terisi penuh, space untuk penyimpanan barang pun sudah penuh sesak. Malam itu hanya kita habiskan untuk tidur selama perjalanan dari Bandung menuju Purwokerto.

Sawah, pemandangan dari dalam jendela kereta, khas sekali. Sudah mulai pagi, kira kira 1 jam lagi kita sampai di Purwokerto.

Sesampainya di Purwokerto, kopi di minimarket lah yang pertama dicari. Suasana pagi di kota yang agak panas itu menyambut kedatangan kita.

Masih ada 2-3 jam lagi perjalanan yang harus kita tempuh ke Dieng, Tanah tertinggi di pulau jawa.

Advertisement

Perjalanan dari Purwokerto menuju Dieng di tempuh kurang lebih 2-3 jam. Menggunakan bus umum menuju Wonosobo, disambung elf khas Wonosobo menuju Dieng.

Sekitar jam 1 kita sampai di pelataran masjid Dieng. Masjid yang biasa kita gunakan untuk beribadah sekaligus bebersih dan bersiap-siap sebelum memulai perjalanan ke Prau.

Bulan itu tepatnya Agustus 2015, udara di Indonesia sedang minim sekali hujan. Kering dan berdebu, walaupun udara di Dieng cukup dingin tapi cukup didominasi oleh angin kering dan debu.

Setelah mengecek perlengkapan dan persiapan, sekitar pukul 2 kita memulai perjalanan menuju Prau seperti biasa via SMP Dieng jalur yang sering kita gunakan setiap mengunjungi Prau. Untuk menuju Prau, pendaki bisa menggunakan 2 jalan; 1.) Jalur Patakan Banteng dan SMP Dieng 2.) Jalur Patakan Banteng yang di dominasi dengan tanjakan yang cukup bersahabat dan jalur SMP Dieng yang agak landai dan didominasi beberapa tanjakan kecil.

Siang menuju sore itu kita seperti biasa melakukan perjalanan dengan santai dan tentunya membagi tugas sebagai leader dan sweeper.

Beberapa kali kita beristirahat sambil menikmati pemandangan sore di Tower Pemancar, pertengahan jalan menuju Camp dan Puncak Prau.

Kabut Penghantar Menuju Prau.

Kabut sore menghantarkan kita dari sore menuju malam. Bulan itu (Agustus tepatnya) cuaca di Indonesia sedang kemarau sehingga gunung di Indonesia banyak yang mengalami kebakaran hutan, juga kering lalu penuh debu. Tapi sore tetaplah sore di ketinggian, kabut yang cantik selalu menghiasi perjalanan sore menuju malam.

Di balik dua bukit itu adalah camp area, tempat dimana ratusan bahkan terkadang mungkin sampai ribuan tenda warna warni menghiasi camp area, Puncak Prau.

Pagi di Puncak Prau.

Puncak Prau saat itu cukup ramai, tetapi tidak seramai tahun lalu. Seperti biasa, semuanya mengawali hari dengan shalat subuh bergantian. kira-kira pukul 5 .

Sayup-sayup warna oranye terlihat dari jauh. Lambat laun oranye bercampur kebiruan, satu persatu pintu tenda terbuka dan satu persatu isinya berhamburan keluar untuk menyaksikan pagi diluar tenda.

Di Puncak Prau lah kita bisa mendapatkan “Golden Sunrise”, selain Golden Sunrise kita dapat bonus yang cukup banyak. Walaupun terlihat dari jauh kita bisa melihat view Sindoro – Sumbing yang selalu berdampingan , Merapi-Merbabu yang beriringan, dan lawu selalu memanjakan mata dengan keindahannya masing masing.

Gunung Prahu (terkadang dieja Gunung Prau) (2.565 mdpl) terletak di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, Indonesia. Gunung Prau terletak pada koordinat 7°11′13″LU 109°55′22″BT. Gunung Prau merupakan tapal batas antara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Wonosobo.

Puncak Gunung Prau merupakan padang rumput luas yang memanjang dari barat ke timur. Bukit kecil dan sabana dengan sedikit pepohonan dapat kita jumpai di puncak. Gunung Prau merupakan puncak tertinggi di kawasan Dataran Tinggi Dieng.

Bukit teletubbies di Gunung Prau, kita akan mendapatkan pemandangan Bunga Daisy yang terhampar luas.

Bunga Daisy di Bukit Teletubbies Gunung Prau

Terutama pada musim kemarau, bunga ini bermekaran dan terhampar luas di Bukit Teletubbies, Gunung Prau. Selain keindahan dengan bukit yang berundak-undakan kita juga tambah dimanjakan dengan pemandangan cantiknya Bunga Daisy.

Lengkap – Pagi, Pemandangan, dan Kebersamaan.

Pagi itu sudah cukup amat lengkap dengan udara pagi yang dingin, pemandangan indah di depan dapur alam yang kita buat sendiri, lalu bersama teman yang tidak pernah membosankan.

Pagi itu cireng dan roti canai jadi pilihan menu sarapan kita. Bersama kelompok lain, sharing sarapan selalu jadi kebiasaan setiap kali mendaki gunung.

Siang pun datang, seperti biasa kita selalu turun gunung sekitar pukul 10.00 – 11.00 kembali menuju SMP Dieng. Cuaca siang itu memang panas, dan kembali didominasi dengan debu, tapi sepanas apapun debu dan panas terik di jalur turun kita selalu terpesona dengan pemandangan pagi menuju siang di sepanjang jalur menuju kembali ke SMP Dieng.

Gunung Prau memang tidak termasuk kedalam kategori Gunung Tertinggi, tetapi masuk kedalam kategori Gunung dengan Pemandangan indah di Pulau Jawa, yang akhirnya dijuluki, Prau – Abode Of The Gods.

Review Perjalanan Gunung Prau Wonosobo.

KA Serayu Malam 24.00 : Kiaracondong – Purwokerto Rp. 70.000

Sharing Cost Elf dari St. Purwokerto – Dieng Rp. 25.000-35.000

Losmen Bu Djono (Jika butuh basecamp u/ beristirahat) Rp. 15.000-30.000

Tiket Masuk Pendakian Via SMP Dieng Rp. 10.000

Sharing Cost Elf Dieng – Terminal Mendolo Wonosobo Rp. 15.000-20.000

Bus Malam AC Budiman, Wonosobo-Bandung Rp. 95.000-100.00

Selamat berperjalanan.

see more photos on instagram @andarianindya

“…Tinggalkan ingatan, cerita perjalanan dan sisa sisa kebersamaan. Bawa turun sampahmu, jaga alammu dengan baik, cintai alammu seperti kamu mencintai dirimu..”

Best Regard’s – Anindya Andari