Beberapa bulan ini saya benar – benar merasakan dilema dalam hidup saya. Umur saya sudah hampir 27 tahun. Saya sudah sampai pada masa di mana saya ingin sekali menikah tapi selalu terhalang oleh restu ibu. Ibu saya bisa saya katakan terlalu idealis dan selalu melihat harta sebagai pembahagia anaknya. Namun, sebagai anak, saya paham bahwa dia ingin yang terbaik untuk anaknya. Hanya saja hati ini lelah. Tak ingin berlama – lama dalam hubungan haram alias pacaran.

Lelaki pertama yang berniat serius untuk menikahi saya adalah seorang tentara yang berdinas di luar pulau Jawa. Ibu saya menolak lamarannya karena tidak rela jika saya dibawa ke luar Jawa. Padahal toh juga dia asli orang Jawa, tepat di kota kelahiran saya juga. Dia juga selalu bilang untuk selalu mengusahakan kepindahannya di Jawa.

Lelaki kedua yang berniat menikahi saya juga seorang tentara soleh yang selalu mengajarkan kebaikan pada saya. Namun (maaf sebelumnya) pangkatnya di bawah pangkat lelaki pertama tadi. Tapi saya tidak peduli akan hal itu, buat saya semua orang itu sama tidak peduli pangkat atau jabatannya. Kita tidak berhak menolak pinangan lelaki soleh hanya karena pangkat dan jabatan. Asalkan dia bisa menjadi imam yang baik dan setia, bagi saya itu yang terpenting. Namun, lagi – lagi ibu menolak dengan alasan pangkat.

Lelaki ketiga adalah seorang perawat yang berbeda kota dengan saya. Tiga tahun saya menjalani hubungan dengannya, sama sekali tidak ada masalah. Dia pun akhirnya melamar saya. Lagi – lagi ibu menolak dengan alasan saya masih kuliah S2. Sebenarnya tidak ditolak secara langsung, namun ibu menyarankan menunggu sampai saya lulus. Semacam digantung juga sih. Sementara dia sudah ingin sekali menikah. Ketika saya dalam proses menyelesaikan tesis saya, di belakang saya dia menjalin cinta dengan teman di kantornya. Saya pun ikhlas dengan takdir Allah. Kini dia sudah bertunangan dan akan menikah dalam waktu dekat. Hati saya hancur namun berusaha tegar.

Lelaki keempat. Lelaki sederhana dengan semangat pekerja kerasnya. Sejak kecil, dia sudah terbiasa mencari nafkah dan membahagiakan ibunya yang seorang single parent serta adik perempuannya. Keinginannya sederhana, ingin menikah dengan saya dan tidak ingin menjalani hubungan pacaran. Dia sudah Sarjana (dengan biaya kuliah sendiri yang berasal dari kerja sebagai cleaning service) dan bekerja di sebuah bank. Ia baru merintis karir, bekerja di bagian penagihan dengan gaji yang tidak terlalu besar menurut ibu saya. Dengan tegas dia langsung datang ke ibu saya dan melamar saya, lagi – lagi ibu saya menolak dengan alasan kemapanan. Namun saya tetap memperjuangkannya, karena sikapnya yang penyayang, pekerja keras dan setia. Kami pun sepakat untuk menabung bersama untuk biaya pernikahan.

Advertisement

Di satu sisi saya tidak ingin menjadi anak durhaka, di sisi lain saya ingin segera menghalalkan hubungan kami. Saya yakin Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya terluka. Saya tidak akan putus asa dalam menanti jodoh saya. Saya percaya bahwa Allah tidak pernah terlalu cepat dan tidak pernah terlalu lambat. Allah selalu tepat waktu. Mudah – mudahan kisah saya ini menginspirasi teman – teman yang membaca tulisan ini. Kita bisa merencanakan sesuatu, tapi keputusan akhir tetap di tangan Allah. Allah selalu memberi yang terbaik. Banyak hal yang bisa kita lakukan di ruang tunggu kehidupan, semua itu pilihan kita, mau memilih yang baik atau yang buruk?