Kita bertemu, berkenalan, menjalin komunikasi dalam waktu yang terbilang cukup lama. Bukankah wajar jika ada kalimat suka yang akhirnya hadir dalam jalinan pertemanan kita? Bukankah tidak masalah jika pria seperti ku akhirnya menaruh hati untuk wanita yang sering ku dengar tawa renyahnya melalui perbincangan panjang kita di telepon.

Masih masuk akal kan? Jika pria seperti ku akhirnya terlarut lebih dalam mengusik hari-harimu. Mencari kabarmu, mulai mengakrabkan diri dengan kesibukan juga teman-temanmu guna lebih mengenalmu. Entah dengan cara apa wanita sepertimu berhasil membuatku terus merasakan gelisah jika tak sedikit pun kabar kesibukanmu tampil di recent update Blackberry Messager ku.

Sudah cukup lama kan? Kita mengakrabkan diri. Apakah kamu juga merasakannya? Bahwa akhirnya separuh dalam diriku akhirnya mempersilahkan kamu masuk untuk mendekorasi dan membuat warna kelabu kini berubah menjadi jingga layaknya pemandangan pada petang yang teduh. Menenangkan jiwaku yang luruh oleh senyumanmu.

Hanya saja pria sepertiku masih malu untuk tampil lebih lagi di atas panggung. Untuk menunjukkan bahwa ada aku Pria yang ingin mencintaimu lebih. Masih belum bisa leluasa untuk menampakkan rasa suka karena di rudung rasa minder yang kelewatan berlebihannya. Karena pria sepertiku masih belum yakin untuk bersaing dengan pria-pria lain yang juga sedang berusaha mendapatkan hatimu.

Entahlah, ini apa? Rasa suka yang sekilas ataukah rasa suka yang bermetamorfosis menjadi cinta yang meradang?

Advertisement

Ada ketakutan dan gelisah yang tak menentu ketika tahu di ujung sana ada pria yang juga sudah lebih berani menyatakan rasa, sudah lebih dulu mencuri start dariku dan seketika ada rasa lega yang membuncah saat akhirnya kau tetap tak memilih mereka.

Bolehkah aku sedikit lancang? Memintamu untuk memilihku saja untuk jadi Priamu. Walaupun mungkin caraku tidak seromantis pria lain, tak sekeren lelaki lain, dan hanya memilih merebut hatimu dengan caraku sendiri. Down To Earth.

Mungkinkah? Harap dan anggan ku menjumpai nyata yang membahagiakan? Ataukah malah hanya akan menemui isakan tangis yang menguap dalam diam yang menyesakkan.

Pria sepertiku menanti wanita yang memiliki pendirian kuat sepertimu. Yang dengan lembutnya mengucapkan tak akan ada ikatan pacaran dalam penantianmu . Wanita yang hanya ingin menjalin hubungan lebih dalam ruang lingkup pernikahan.

Entah itu senjatamu kah hanya untuk menolak? Ataukah sudah menjadi prinsipmu kini?

Entahlah.

Pria sepertiku masih menunggu jemarimu menyambut uluran tanganku. 🙂

Entah kapan?

Created by,

N C U

INSPIRASI FROM WIDODO.