Bawean, pulau kecil di utara Kabupaten Gresik yang letaknya hampir di tengah lautan Jawa dan Kalimantan. Bawean, sebuah pulau religius yang saya anggap dekat namun terasa jauh-jauh berbeda ragam. Untuk kesana, setidaknya butuh sekitar sembilan jam perjalanan dengan kapal barang yang berangkat dari Pelabuhan Paciran, Lamongan. Dan empat jam perjalanan dengan kapal cepat dari Pelabuhan Gresik.

Ini adalah kunjungan pertama saya ke Bawean yang wilayahnya masih masuk Kabupaten Gresik, kabupaten tempat kelahiran saya. Saya melihat perbedaan yang begitu jauh setiba di sana. Perbedaan bahasa, budaya, masyarakat, ekonomi dan juga alamnya yang tentu lebih segar dan sejuk, dengan pegunungan yang menumpuk-numpuk hijau seolah mematri pulau. Menikmati alamnya, saya seperti terlempar ke daerah lain. Sepertinya berada di pulau-pulau Indonesia Timur. Bukit hijau, laut berair bersih menembus karang. Sangat kontras dengan Kota Gresik dan Lamongan yang berada di Pulau Jawa.

Berkali-kali saya mendengar percakapan orang Bawean sewaktu di dalam kapal. Rasanya seperti sedang berada di pulau lain lagi, seperti di Madura. Kebetulan saya juga sedikit mengerti bahasa madura, tapi ini bukan sepenuhnya Bahasa Madura. Ada kosa kata Jawa, kosa kata bahasa Indonesia, bahkan logat Malaysia, dan tentu kosa kata lokal dari Bawean. Bercampur aduk, di kolaborasikan menjadi satu bahasa. Ya, Bahasa bawean.

Saya teringat saat mengobrol dengan Mas Nin, orang asli Bawean, rumahnya di Pulau Gili Noko. “Orang etnis Bawean tidak mau di sebut orang Jawa, Ataupun orang Madura, begitu juga dengan bahasanya, bahasa kami ya bahasa asli Bawean”. Ujar Mas Nin. Walaupun sebenarnya dalam catatan sejarah, etnis Madura, Jawa dan bugis merupakan nenek moyang orang Bawean yang dulu tersebar di pulau ini ketika Belanda menginvasi Indonesia.

“Orang Malaysia menyebut Pulau Bawean dengan kata lain yaitu Boyan, entah dari mana asal kata Boyan“. Ujar Pak Hasan memberi informasi kepada saya. Logatnya nyaris sempurna layaknya orang-orang Malaysia, bahkan lebih fasih berbahasa Malaysia ketimbang Bahasa Indonesia.

Advertisement

Beliau adalah mantan perantau di Johor, dan rencananya tahun depan akan kembali lagi ke Malaysia setelah panen padi. Saya mengenal beliau ketika turun dari Gunung Shabu, saat malam setelah di hajar badai di atas puncak. Dengan murah hati beliau mengijinkan saya bermalam di kediamanya yang tidak jauh dari kaki Gunung Shabu.

Putri Pak Hasan, bernama Maya, dia juga bercerita kalau sebagian besar masyarakat laki-laki di Bawean adalah seorang perantau. Banyak yang mengais rejeki di negara tetangga, di Malaysia dan Singapura. Dari sini lah Pulau Bawean juga terkenal sebagai julukan pulau putri, karena lebih banyak kaum perempuan yang mendiami pulau kecil ini.

Maya dulu kuliah di Yogjakarta, baru saja diwisuda oleh kampusnya beberapa bulan yang lalu, dan sekarang menjadi pengajar sekolah MTS di desanya, Desa Balikterus. “Banyak Desa yang masih gelap saat malam disini, PLN hanya melayani gedung dan bangunan umum seperti sekolah, masjid dan rumah kesehatan”. Tukas Maya.

Beruntung dia mengajar di sekolah, karena setiap guru mendapat jatah listrik dari PLN yang bukan berarti gratis. Tapi sayang, listrik juga tidak dua puluh empat jam penuh. Listrik hanya tersedia dari jam tujuh pagi hingga jam sepuluh malam, tak sampai menikmati sinetron Turki di layar televisi selesai, listrik sudah keburu mati. Sementara rumah-rumah yang lain tetap gelap. Sewarna dengan langit malam.

Pimpinan daerah jarang berkunjung, hanya beberapa kali ketika menjelang pemilu. “Itu sudah pasti kalau pemilu, biasa, cari suara, kalau sudah jadi pasti jarang kesini lagi”. Ujar Pak Hasan. Di Pedesaan Kecamatan Sangkapura memang sering menerima sembako beras murah dari pemerintah Gresik. Tapi kata Pak Hasan bukan itu sebenarnya yang di perlukan warga.

“Orang pedalaman Bawean butuh listrik, kalau beras di sini melimpah, semua orang menanam padi”, sambung Pak Hasan lagi. Masyarakat Bawean yang bertempat tinggal di dataran tinggi semuanya bertani. Hasil panen nya tidak di jual, tapi untuk di konsumsi sendiri.

Desa Balikterus di kurung bukit-bukit tinggi terutama Gunung Shabu, gunung cantik berlatar belakang Danau Kastoba yang melingkar sempurna di bawah sana. Puncaknya setiap sore dipenuhi anak-anak bermain Enter-enteran. Sebuah permainan tradisional menyerupai baling-baling, berputar karena di hempas angin kencang. Bunyinya memekakan telinga, dan dari jauh lain lagi suaranya, lebih mirip raungan harimau lapar. Sampai Danau Kastoba pun terdengar. Beruntung, disini saya masih bisa melihat permainan tradisional yang semakin hari di daerah lain semakin termakan jaman.

Kampung ini juga susah ditembus sinyal. Kalau pun ada juga di tempat atau ruang tertentu. Di celah cendela kamar misalnya, seperti Maya yang selalu menggantung ponselnya di sana, menunggu kabar apapun dari kawan atau kerabatnya yang berada di luar Pulau Bawean.

“Di sini tidak ada apa-apa, susah sinyal, susah listrik, susah cari warung makan kalau di pedalaman, jauh lebih nyaman hidup di Kota Gresik semua serba ada jalan poros beraspal mulus, tapi enaknya di sini tidak pernah ada razia motor, bebas berkendara tanpa helm, surat motor tidak perlu diperpanjang kalau masanya sudah habis”. Pak Hasan berkomentar sambil tertawa terkekeh.

Sementara Maya sibuk menghias bingkisan barang-barang untuk di tukar dengan milik tetangga lain di masjid nanti, sebagai syarat merayakan Maulid Nabi. Bingkisanya cantik, mirip parsel, besar-besar. Atmosfernya seperti hari raya Idul Fitri. Semua orang libur bekerja, toko-toko juga ditutup. Hari perayaan yang paling ditunggu-tunggu masyarakat Bawean.

Inilah Boyan, Bawean dengan segala keistimewaan nya. Saya dan mereka masih berada pada lingkup yang sama Gresik, namun keberadaannya jauh tersekat dalam suatu ruang, tentang keragaman bahasa, alam dan budaya.