Kalender tahun 2016 ini disemarakkan oleh tanggal-tanggal merah dan tanggal kejepit yang berpotensi jadi long weekend. Believe it or not. Tanggal kejepit adalah tanggal yang paling diincar selain tanggal cantik hehe

Bagi kamu sekalian yang akan ikut menyemarakkan libur tanggal kejepit bersama teman atau keluarga, mungkin ada baiknya searching terlebih dahulu mengenai tempat tujuan serta jarak yang akan ditempuh, plus mengkalkulasikan perkiraan macetnya … Point yang terakhir adalah point terpenting yang harus diantisipasi, karena libur akan terasa singkat bila dihabiskan di jalan.

Dengan banyaknya tempat wisata yang baru dibuka dan akses perjalanan yang mudah, tentu saja Bandung merupakan pilihan utama untuk liburan. Semuanya tersedia di Bandung. Mau wisata kuliner? Hayu … Mau wisata sejarah? Hayu … Mau wisata outbond? Hayu … Mau agrowisata? Hayu … Mau wisata belanja juga hayu …

Tapi, kalau kamu lebih menyukai wisata alam seperti gunung atau pantai dan ingin menghindari kemacetan parah ala long weekend, ada baiknya kamu mencoba destinasi wisata lain yang lebih menantang, seperti Pulau Biawak.

Mungkin kamu akan sedikit asing dan penasaran ketika mendengar namanya, ya memang, Pulau Biawak tergolong pulau ‘baru’, sehingga jarang ada yang mengetahuinya, termasuk penduduk Indramayu sendiri.

Advertisement

Pulau Biawak terletak di utara Pulau Jawa, tepatnya di kabupaten Indramayu Jawa Barat. Untuk mencapai Indramayu kamu bisa menggunakan kereta api atau bis. Ingatlah, jarak seakan tak berarti dengan adanya Tol Cipali.

Yup, pulau tersebut dinamakan Pulau Biawak karena dihuni oleh biawak, namun sejauh ini belum ada yang meneliti mengapa bisa ada banyak biawak di pulau tersebut. Biawak adalah sejenis kadal besar yang menghuni liang-liang di tanah, dilihat dari bentuknya biawak agak mirip dengan komodo, tapi dengan tampilan yang lebih smooth dan lebih kecil ukurannya.

Perjalanan menuju Pulau Biawak diawali dengan menyewa perahu motor milik nelayan di Karangsong, selama ± -5 jam kamu akan terombang ambing di lautan lepas dan ketika perahu motor yang ditumpangi semakin menjauhi titik-titik lampu dan api abadi dari kilang gas Indramayu, kamu akan merasa deg-degan, sedih sekaligus exciting seperti orang yang akan pergi merantau.

Karena berangkat dari Karangsong pada dini hari, maka otomatis kamu akan menyaksikan indahnya sunrise di tengah lautan. Percaya deh … bisa tidur beratapkan langit itu adalah anugerah yang tidak pantas disia-siakan, kamu bisa melihat bulan di malam hari dan matahari terbit dengan clear wide visions.

Konon, pemerintah Belanda membangun mercusuar di Pulau Biawak pada tahun 1872 sebagai pos terdepan untuk memandu kapal yang akan berlabuh di pantura. Namun, untuk alasan-alasan tertentu mercusuar tersebut ditinggalkan begitu saja. Hingga suatu hari beberapa orang turis mancanegara tak sengaja menemukannya ketika sedang mencari diving spot.

Tingginya intensitas deburan ombak membuat dermaga buatan pemerintah setempat rusak dan rubuh di beberapa bagian. Nah, di bibir pantai kamu akan disambut beberapa ekor biawak yang sedang berjemur atau berjalan-jalan dengan bebas. Jangan panik, biawak tersebut tidak akan menyerang kecuali terprovokasi.

Sejak penemuan Pulau Biawak pada tahun 2000an, pemerintah Indramayu telah membangun sebuah komplek mess untuk pegawai yang bertugas. Selain harus bertugas di pulau terpencil, mereka juga harus rela meninggalkan anak istri mereka di Pulau Jawa karena di Pulau Biawak tidak ada sekolah, dan untuk kebutuhan sehari mereka mengandalkan kiriman dari Pulau Jawa.

Gak kebayang kan rasanya melewati malam-malam sepi hanya ditemani deburan ombak dan biawak hehe …

Terdapat beberapa mess yang bisa ditinggali jika berkunjung ke Pulau Biawak, setiap mess memiliki 2 kamar tidur dan satu kamar mandi yang letaknya di luar. Karena menggunakan generator, listrik hanya menyala sejak pukul 18.00 WIB hingga 22.00 WIB, so … jangan lupa untuk mencharge handphone dan kamera.

Untuk bisa melihat keseluruhan pulau kamu bisa naik ke atas mercusuar yang terletak di komplek mess. Tapi hati-hati ya karena dibangun dari besi, mercusuar tersebut korosi (berkarat) terkena udara laut. Kalau kamu capek, kamu bisa berhenti sebentar sambil melihat pemandangan laut di jendela, cuma jangan kelamaan, karena tangga di dalam mercusuar hanya cukup untuk 1 orang saja.

Ketika mencapai puncak mercusuar, kamu bisa melihat at worlds endnya pantura, serius dehh … bener-bener at world’s end, sejauh mata memandang kamu Cuma bisa lihat laut, laut dan laut. Pemandangan dari atas mercusuar juga indah sekali, terutama di sore hari menjelang sunset.

Sebagian besar Pulau Biawak terdiri dari hutan tropis yang didiami oleh biawak-biawak liar yang jumlahnya mencapai ratusan ekor. Eitss … tapi tidak semuanya, biawak yang sering berjemur di dekat dermaga umumnya lebih jinak karena sering bersentuhan dengan (kehidupan) manusia.

Kalau kamu pergi ke Pulau Biawak menggunakan jasa travel agent atau ikutan (short) fun trip, akan ada sesi snorkling atau diving. Biasanya, mereka akan menggunakan perahu motor karena jarak yang cukup jauh dan bukan di arus deras. Salah satu snorkling spot yang dikunjungi adalah Pulau Cendikia dan Pulau Gosong.

Satu-satunya hiburan di Pulau Biawak adalah televisi dengan gambar seadanya. Oh iya, jangan berharap bisa check in atau posting di social media, karena di Pulau Biawak tidak ada sinyal sama sekali. Sinyal telepon seluler baru akan muncul ketika kamu memasuki muara Karangsong.

Meski berada di lautan lepas, Pulau Biawak berada di perairan yang tenang, saking tenangnya, air lautnya seakan-akan tidak bergerak.

Pulau Biawak memang belum seterkenal Pulau Komodo, namun cukup eksis di kalangan traveller. Anggap saja Pulau Biawak adalah adiknya Pulau Komodo, jadi sebelum kamu pergi ke Pulau Komodo, ada baiknya kamu megunjungi Pulau Biawak terlebih dulu hehe

So?

Apa kamu tertarik pergi ke Pulau Biawak?

#IniPlesirku #IniPlesirku #IniPlesirku