v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Pulau Tidung, the Best Choice for Short Holiday #IniPlesirku

Kami bukanlah backpacker, belum juga jadi seorang traveler, hanya berbagi pengalaman travelling ke Pulau Tidung saja. Pengalaman travelling dua hari satu malam yang kami sebut “liburan singkat” dari kepenatan ibu kota Jakarta ini merupakan ide spontan belaka. Bepergian ke suatu pulau bagi sebagian orang harus dipersiapkan secara matang, dengan membuat itinerary yang jelas dan detail. Tapi tidak bagi kami. Saat itu hanya bermula dari spontanitas saja. Niat untuk travelling selalu saja tertunda, karena pekerjaan kami tidak memungkinkan untuk mengajukan cuti dalam waktu panjang sekaligus. Oleh karenanya kami memutuskan untuk nekad. Meskipun hampir tiap tahun ada kesempatan untuk menjajaki daerah baru di sini, tetapi kami jarang berkesempatan untuk sekedar jalan-jalan saja tanpa embel-embel “bekerja”.

Saat itu, tepatnya sekitar pertengahan November 2015, kami nekad untuk melakukan perjalanan singkat ke salah satu pulau yang berlokasi di dekat kota Jakarta, yaitu Pulau Tidung. Kenapa Pulau Tidung? Pertama, waktu kami singkat, hanya 2 hari, kami harus memilih lokasi berlibur yang cukup dinikmati dalam 2 hari dan 1 malam saja. Alasan kedua, membaca beberapa tulisan orang tentang pengalaman berlibur ke Pulau Tidung, katanya bisa sekalian mampir ke Pulau Payung yang konon kabarnya masih lebih alami, karena belum ada pemukiman tetap di sana. Ketiga, ada faktor iseng juga sih, karena masih agak gambling, kami memutuskan salah satu dulu dari sekian banyak pulau yang harus tetap kami kunjungi kelak.

Perburuan dimulai satu hari sebelum keberangkatan ke Pulau Tidung, kami membuka beberapa tulisan orang di blog dan beberapa itinerary yang ditawarkan oleh travel agent mengenai perjalanan ke Pulau Tidung. Kami mencatat beberapa nomor telepon dan mencoba peruntungan penawaran homestay yang ada di sana. Setelah proses tawar menawar dengan beberapa orang, akhirnya kami menemukan salah satu Bapak yang menawarkan penjemputan dari dermaga pulau, penginapan berupa homestay , paket makan, tour guide, bahkan snorkeling juga ada. Saat itu kami memutuskan untuk semi backpacker saja, jadi kami hanya minta penginapan dan makan, untuk transportasi di sana, lagi-lagi kami pakai jurus spontanitas saja hehe.

Advertisement

Singkat cerita, sabtu pagi kami tiba di pelabuhan muara angke sekitar pukul 06.00 WIB, dan kami beli tiket kapal penyeberangan on the spot, syukurlah saat itu masih tersedia. Harga normal tiket kapal saat itu Rp 50.000,-. Kapal yang kami naiki berangkat pada pukul 07.30 WIB. Selama perjalanan, jujur saja kami tidak banyak melihat pemandangan yang indah seperti yang diceritakan beberapa orang di blog-nya L, hanya melihat hamparan lautan saja. Bukan tanpa alasan, saya pernah mengalami hal yang lebih ekstrim, perjalanan dari Tanjung Priok-Jakarta menuju Pontianak menggunakan kapal laut, selama 3 hari dan 2 malam di tengah lautan, jadinya perjalanan ke Pulau Tidung ini terkesan biasa saja. Kami mulai tertarik saat kapal yang kami naiki hampir tiba di satu Pulau yang dari kejauhan sudah terlihat pepohonan pinus menjulang rapat, Pulau Payung lah namanya. Kebetulan kapal yang kami tumpangi menurunkan 3 orang penumpang yang ingin snorkeling di Pulau Payung itu. Meskipun tidak sempat menginjakkan kaki di pulau ini, paling tidak mata kami sudah cukup disegarkan dengan rerimbunan pohon pinus yang ada. Satu lagi yang menarik di pulau ini, airnya sangat jernih, rupanya disini adalah lokasi snorkeling yang terkenal indah. Biasanya tempat tujuan snorkeling pengunjung Pulau Tidung, juga di Pulau Payung ini.

Berlanjut ke Pulau Tidung, saat tiba di dermaga, sekitar pukul 13.00 WIB, kami langsung menghubungi Bapak pemilik homestay yang akan kami tempati, Pak Bagio namanya. Pertama kali bertemu, saya seperti melihat Bapak saya sendiri, Pak Bagio berusia sekitar 55 tahun, dengan postur tubuh sedang dan perangai sangat ramah. Beliau menjelaskan bahwa rumahnya cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki, jadi kami disarankan untuk sewa bentor (sebuah kendaraan yang banyak digunakan disana, singkatan dari kata “becak” dan “motor”). Bentor ini merupakan kendaraan yang mayoritas digunakan di Pulau Tidung. Penampakannya dari depan, di kursi penumpang, memang seperti becak, namun di kursi pengemudi (belakang), adalah sepeda motor. Satu inovasi berkendara yang belum pernah kami temui di Jakarta, namun sudah ada di beberapa kota lain seperti di Solo dan Yogyakarta. Dari dermaga sampai ke rumah Pak Bagio, kami tempuh sekitar 15 menit dengan naik bentor. Kami disambut istri dan anak beliau, penginapan yang kami gunakan, terpisah dinding dengan rumah Pak Bagio. Ruangannya ber-AC, kamar mandi di dalam, ada televisi, listrik, dispenser, dan ruang tamu yang luas. Menurut beliau, ruang tamu ini biasanya difungsikan juga sebagai tempat tidur jika musim liburan, karena biasanya tamu yang datang adalah rombongan besar.

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10209331298745563&set=a.10209331284225200.1073741828.1416000199&type=3&theater

Ini iseng saja, ada ayunan di sekitar lokasi parkir Jembatan Cinta.

Setelah istirahat sejenak, kami memesan makan siang, membicarakan menu makan malam, BBQ, sekaligus makan pagi dan siang untuk keesokan harinya. Yang kami sukai, menu yang kita pesan ini, merupakan menu masakan rumah, yang bikin rindu keluarga di kampung halaman. Satu lagi, untuk mobilisasi disana kami sewa sepeda untuk 2 hari, hanya Rp 20.000,- saja.

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10209331292025395&set=a.10209331284225200.1073741828.1416000199&type=3&theater

Maaf ya, melihat indahnya matahari ditambah angin sepoi- sepoi, memaksa insting saya untuk berpose

Sore harinya kami ditawari untuk snorkeling paket hemat, yaitu hanya sewa alat Rp 35.000,- per orang, tanpa guide dan hanya di sekitar jembatan cinta saja, bagi kami sudah cukup mengobati rasa penasaran. Setelahnya kami melanjutkan untuk hunting sunset, di ujung barat Pulau Tidung, di sekitar “Pendopo”. Meskipun sebagian orang memilih untuk menikmati sunset di jembatan cinta, tapi kami memilih ke ujung Barat, berdasarkan saran dari Bapak homestay kami. Sangat indah, menikmati sunset ditemani es kelapa muda.

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10209331291665386&set=a.10209331284225200.1073741828.1416000199&type=3&theater

The Sunset in slow motion, so I’m standing still.

Dari sunset, kami melanjutkan malam di sekitar jembatan cinta, suasananya sepi, angin lautnya sangat kuat, jadi kami memutuskan untuk segera kembali ke homestay untuk menikmati pesanan barbeque kami. Makanannya enak, selain ikan bakar, kami memperoleh lauk dan sayuran sebagai tambahan.

Keesokan harinya, kami mulai pada pukul 5.30 WIB, mencari sunrise di jembatan cinta. Sayangnya saat itu cuaca agak mendung, jadi mataharinya malu-malu, muncul perlahan di balik awan. Untungnya udara pagi itu sangat segar, meskipun sunrise yang kami lihat tidaklah sempurna, namun udaranya mampu menyegarkan kembali otak kami.

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10209331295025470&set=a.10209331284225200.1073741828.1416000199&type=3&theater

So in love with this Sunset.

Siangnya, kami kembali ke Jakarta, dengan membeli tiket kapal penyeberangan on the spot lagi. Terima kasih, Pak Bagio dan keluarga.

Liburan singkat dari kepenatan ibukota ini membuat kami cukup terkesan. Kebetulan berjodoh dengan Bapak homestay yang baik, berjodoh dengan teman perjalanan yang juga mengasyikkan. #KangenPulau #IniPlesirku.

Have a fun short holiday, guys!!!

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}