Seakan mulut terkunci, dan mata menitikan air matanya mengalir deras melihat rumah yang sejak zaman nenek moyang dihancurkan seketika. Raga ingin berontak, tapi apa daya kawanan satpol PP dan kepolisian bersenjatakan lengkap menghadang. Aku dan masyarakat sekitar seperti sekumpulan hewan yang berteriak memohon belas kasih. Ini tanah kami, Indonesia pertiwi.

Pagi itu merupakan pagi terburuk yang pernah kulalui, rumah yang telah kutinggali kini hanya tinggal kenangan. Berpuluh tahun telah kutempati, hanya tinggal hitungan menit rata seperti dilalap api. Aku seperti kehilangan jati diri, purnamaku yang dulu bersinar terang, kini redup dihadang malam. Aku tak memiliki tempat tinggal, kutidur dibawah kolong jembatan. Beralas tikar sisa gusuran. Aku bagai manusia yang tak memiliki arah dan tujuan.

Ku pikir negeriku telah merdeka, nyatanya masih saja sama. Ini lebih parah dari zaman penjajahan. Aku sebagai rakyat kecil dijajah oleh pemerintahan. Dan kau tahu, yang duduk dipemerintahan adalah bangsaku sendiri. Mereka tamak akan kekuasaan, mereka menyingkirkan kami hanya demi kekayaan.

“Purnamaku masih saja redup, hanya langit gelap yang meliputi. Dan ku harap purnamaku kembali bersinar seperti kala itu..”

Mungkin aku adalah sebagian kecil dari korban atas biadabnya pemerintahan. Mengedepankan kepentingan bersama seolah kamilah yang salah. Nyatanya banyak gedung bertingkat dilahan hijau dibiarkan. Seperti inikah hukum di Ibu pertiwiku? Layaknya pisau yang runcing ke atas dan tajam kebawah.

Advertisement

Aku dan sebagian masyarakat yang telah menjadi korban mungkin tak memiliki banyak uang untuk membeli hukum yang ada. Namun kami masih memiliki semangat yang tak kalian lihat. Biar saja aku yang jadi korban atas penggusuran. Tak kubiarkan anak cucu meraskan pahitnya perjuangan hidup yang aku lakukan.

Kuharap air mata ini membias dengan cahaya matahari yang kan menghadirkan spectrum warna indah seperti pelangi. Memudarkan harapan pupus dikepala kami seraya berdoa pada kekasih pujaan hati Illahi Rabbi.