Hanya sekedar curahan hati.

Untuk kamu yang ada dipikiranku, memang aku bukan siapa-siapa untukmu. Jangankan hubungan setelah pernikahan, hubungan sebelum pernikahan yang biasa disebut pacaran pun, tidak kita jalani. Namun pantaskah aku mencintaimu, menyayangimu, mendoakanmu, dan… mencemburuimu? Jika tidak pantas, maafkan aku yang telah masuk dalam hidupmu. Jika pantas, mari kita bersulang. Tolong, habiskan racun ini dalam satu tegukan.

Untuk kamu yang ada dihatiku, kita sadar. Hubungan berpacaran hanyalah sebuah sebutan belaka. Meskipun seperti kata orang: Memperjelas hubungan, namun kata orang tetaplah kata orang. Kau dan aku hanyalah dua orang manusia, yang berkata aku-kamu, atau kakak-ade, yang mungkin saling mencintai dengan perasaan masing-masing, dan menyayangi dengan artian masing-masing. Jika perasaan yang aku punya, dan walaupun artian yang aku artikan ternyata berbeda denganmu, bolehkah aku mencemburuimu? Jika boleh, tolong jangan buat aku meneguk racun ini untuk yang kedua kalinya. Jika tidak, pilihkan aku pintu yang mana, agar aku tau kemana aku harus melangkah.

Untuk kamu yang ada dipelukan, tolong. Jangan peluk aku, terlebih sangat erat. Aku sadar, kamu tak bisa membaca hatiku, dan aku tak bisa membaca hatimu. Jangan berikan aku sebuah pengertian yang salah, tentang pelukan yang kamu beri. Semakin aku tau, semakin kamu memelukku lebih erat, semakin sakit yang aku rasa. Sakitkah aku mencemburuimmu? Jika sakit, tolong hentikan rasa sakit ini, pada detik ini. Jika tidak, biarlah aku saja yang meneguk racun ini, sampai habis.

Meskipun sekarang status kita hanya teman, mengertikah kamu apa yang aku pikirkan, rasakan, harapkan, dan cemaskan? Jika tidak, terima kasih telah memberiku jawaban akan harapan. Lebih baik merasakan sakitnya kejujuran, dibanding menikmati manisnya dusta. Jika kau tidak jujur, jujurlah setelah membaca baris ini. Jika kau jujur, terima kasih telah menjawab apa yang aku firasatkan.

Advertisement

Dan inilah perasaan yang aku dapat, setelah meminum racun bernama cemburu. Rasa sakit, rasa sedih, rasa curiga, rasa takut kehilangan, dan rasa ada sesuatu yang akan pergi. Namun, rasa tetaplah rasa. Hanyalah sebuah perasaan, yang terlebih tidak menentu apakah akan terjadi atau tidak. Jika terjadi, berarti apa yang aku firasatkan ternyata benar, jika memang tidak terjadi: Terima kasih. Kamu telah memberi penawar, akan racun yang telah aku tenggak.

Sayangnya, firasat cemburu tetaplah sebuah firasat. Dan sialnya, apa yang aku firasatkan, biasanya terjadi.

Bandung, 20 September 2016.

Diketik ketika hujan mengguyur Dipatiukur, Ditemani musik dari HipsterSound. Originally published on Medium at 16 September 2016.