Dahulu, sewaktu kecil aku amat bahagia manakala bulan Ramadhan tiba. Bahagia bukan karena bulan penuh ampunan itu datang, melainkan karena petasan. Iya, bulan Ramadhan tiba, berarti musim petasan pun akan segera dimulai. Begitulah pikirku. Dulu, saat masih anak-anak, aku memaknai bulan puasa sebagai bulan petasan. Begitu datang Ramadhan, anak-anak kampung, termasuk aku meramaikan suasana kampung dengan bunyi-bunyian petasan. Seiring datangnya bulan Ramadhan, biasanya aku dan anak-anak kampung beramai-ramai membuat sebuah petasan dari sebatang pohon bambu berukuran besar dengan panjang satu meter. Petesan itu, biasa kami sebut “Mercon Bumbung” , karena bunyinya yang menyerupai bom, menggelegar. Kadang kami beradu mercon bumbung. Yang kami adu adalah suaranya. Siapa yang paling keras, dialah pemenangnya.

Masih ingat dalam benak, dahulu, di saat orang-orang kampung pada melaksanakan shalat tarawih di mushola, aku dan teman-teman malah asyik sendiri memainkan petasan. Lempar-lemparan petasasan. Lari sana lari sini. Penuh gelak tawa. Hingga kini kilasan-kilasan peristiwa itu masih melekat di dalam benak. Ah, masa kecil selalu menyimpan kenangan indah dan membuat siapa saja tersenyum-senyum bila mengingatnya. Hal lain yang tak pernah aku lupa hingga kini adalah “Kotekan”, iya kami sebut kotekan, karena kami keliling kampung sambil menabuh benda-benda bekas seperti kaleng biskuit, ember, botol kaca, dan lain-lainnya. benda-benda itu kami tabuh hingga jadilah satu irama yang sama, yang mengeluarkan alunan musik yang berhasil membuat orang-orang kampung bangun untuk sahur. Dengan adanya kotekan, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Bagi warga yang tak setuju biasanya akan marah di hadapan kami bahkan ada yang sampai mengejar kami. Tetapi, kami tidak menyerah, justru itu adalah tantangan bagi kami. Dan jujur, aku pun merasa asyik dengan semua itu.

Seiring bergulirnya waktu, perlahan apa yang kulakukan di masa kecil tidak lagi kulakukan, mengingat kesibukan yang kini semakin mengikatku. Lagi pula, malu juga bila aku bermain-main petasan di usia tua seperti saat ini. Cukuplah waktu kecil saja. Di usia yang bisa dibilang dewasa, menyadarkanku bahwa Ramadhan adalah ajang untuk memetik pahala sebanyak mungkin dan memohon ampuanan atas dosa yang pernah kita lakukan. Bulan puasa adalah bulan spritual. Bukan sekedar bulan untuk sahur dan buka puasa saja. Terlepas dari itu semua bahwa bulan Ramadhan menyimpan perihal yang sangat berharga yang sayang jika kita lewatkan begitu saja.