Sebuah pernyataan 'Ramadhan bulan penuh berkah' itu memang nyata. Bulan di mana seluruh amalan yang kita perbuat akan dilipat gandakan. Bulan yang kurindu dan kunanti di setiap tahunnya. Aku seorang pelajar di bangku putih abu-abu yang kerap menggeluti dunia tulis menulis. Ya, aku sempat menjadi penulis cilik 4 tahun silam yang telah menerbitkan 3 buku. Semua buku itu berkat Ramadhan.

Sebagai pelajar yang harus menyelesaikan tugas sekolah yang teramat banyak, membuatku gagal menjadi penulis produktif bahkan sempat vakum. Sempat aku berpikir bahwa aku tak mampu melanjutkan hobiku ini. Aku putus asa. Namun Ramadhan menyembuhkan segala luka. Luka yang tertancap dalam akibat kerap kali mendapat surat penolakan naskah.
Aku tak mengerti, Allah selalu memberikan kejutan untukku setiap Ramadhan tiba. Tiga tahun lalu, Allah memberikan kejutan melalui kabar bahwa aku menang lomba antologi cerpen dan akan dibukukan. Satu tahun yang lalu, Allah memberikan kejutan melalui kabar bahwa aku lolos seleksi sebuah ajang unjuk bakat. Tahun ini Allah kembali memberiku kejutan melalui kabar bahwa aku lolos seleksi sebuah forum pelajar se-Indonesia.

Aku pun tak mengerti, seperti ada sebuah sihir kutukan dalam tubuhku, bahwa aku hanya dapat kembali menulis di bulan Ramadhan. Ketika Ramadhan usai, penyakit writerblock tentu saja tak akan sembuh hingga Ramadhan di tahun berikutnya tiba. Segala ide seakan mengalir deras bak aliran air terjun yang tak pernah berhenti mengalir hanya terjadi di bulan Ramadhan.

Menyadari hal ini aku tak akan menyiakan kesempatan yang ada. Segala event dan lomba menulis kucoba. Tak peduli aku akan berhasil atau harus gagal, yang terpenting aku dapat terus berkarya. Aku juga tak peduli sihir kutukan apa yang telah dikirim Allah untukku ketika bulan Ramadhan tiba, yang pasti aku akan selalu merindukan dan menanti Ramadhan-ramadhan berikutnya. Tetaplah menjadi berkah bagiku, tetaplah menjadi inspirasiku. Semoga kita akan bertemu lagi di tahun depan, Ramadhanku.