Surya hampir terbenam, siap ditelan lautan. Kita yang tengah duduk di tepian pantai memadu kasih membicarakan rencana tindak lanjut hubungan kita ke jenjang tunangan, tinggal memori. Tentang langkah kaki yang kita ukir di atas pasir, sungguh masih teringat benar di benakku. Lelakiku, kala itu kita sudah berjanji akan menghadapi bersama semua hal. Katamu apapun yang terjadi harus bicara, kita harus hadapi. Sungguh aku tak pernah menyangka waktu yang kau janjikan untuk acara tunangan kita yang kau janjikan di tepian pantai berlalu tanpa satu kisahpun. Kau bilang, maret rombonganmu akan datang menyuntingku, tapi hingga maret habis dilumat hitungan tanggal kau tak juga datang. Lelakiku aku sungguh mencintaimu. Mengapa kau begitu tega? Mana janjimu yang pernah kau ikrarkan di depan orang tuaku? Kini aku harus sendiri melawan arus waktu melupakanmu, entah sampai kapan.

Aku tak tahu lagi caranya memberi kabar atau meminta kabar darimu. sejuta tanya hadir di benakku, mengapa kau sampai tak mengindahkan janji itu. Aku sungguh ingin tahu alasannya. Apa papa-mama mu melarang? Apa kau belum siap? Atau kau sudah tak menginginkan aku lagi? Pada akhirnya aku yang selalu takut mempertanyakan perasaanmu, memberanikan diri untuk menghubungimu dengan alasan menjalin persahabatan. Aku bilang, aku sudah menerima dan memaafkanmu yang tidak pernah mengembalikan janji itu. Wahai lelakiku, itu sungguh dusta sebab harapan dan rasa itu masih ada untukmu. Sesakit apapun kau melebamkan hatiku. Kini kalimat persahabatan sudah ku tuturkan. Apapun yang terjadi, aku kini sahabatmu tapi ijinkan rasa ini tidak bergeser sesentipun dari tahtanya.