Begini rasanya ketika mencintai terlalu dalam dengan logika yang dangkal, ketika hubungan berakhir maka tindakanpun menjadi dangkal pula. Kira-kira begitu yang sedang aku rasakan secara mental. Tidur tak nyenyak dan makan tak enak, hati rasanya ngilu. Belum lagi ketika tiba-tiba terbangun saat malam, campur aduk sekali antara ngilu, sedih, dan marah entah kepada siapa. Mau menangis mata sudah cukup bengkak, air mata sudah menggenang. Berteriak sudah lelah..suara sudah habis. Marah? Pada Siapa? Pada keadaan? Percuma.

Sebenarnya bagi diriku sendiri memperjuangkan adalah hal yang sudah lazim aku lakukan, menahan juga sudah aku terapkan. Tetapi hati ku tetaplah hati manusia biasa. Ingin menjerit ketika sudah tak tahan lagi dijepit, ditindas, diabaikan, dikecewakan. Bersikap acuh juga aku tak bisa. Mau bagaimana lagi? Akhirnya hanya bisa menjalani karena aku yakin waktu bisa meredam segala hal termasuk lara hati.

Manual sekali caraku mengatasi lara hati ini. Sembahyang, jalan-jalan, memotivasi diri. Ya begitulah kira-kira yang aku lakukan kala sedang lara hati. Sibuk pada pekerjaan juga tak membuatku melupakan lara hatiku. Jadi aku tak berniat menahan apapun yang aku rasakan. Sakit hati hanya kurasakan saja.

sakit hati ..semakin kurasakan semakin sakit memang, tapi bagaimanapun caraku agar merasa bahagia, itu tidak akan berhasil sekarang. Akan ada masanya ketika aku kembali tertawa, saat sudah melewati masa ini. Sekarang biarkan aku merasa dan meresapinya.

Momen pilu sekali jika ku ingat perjalanan asmaraku beberapa waktu terakhir. Ini bukan pertama namun aku yakin ini bukan patah hati terakhirku. Masa seperti ini akan ada lagi, akan tiba lagi menjangkitiku.

Advertisement

Pernah mendengar satu kalimat entah kutipan dari mana aku lupa “jika cintamu dalam maka sakit hatimu juga akan dalam, jika sayangmu nyata maka rasa sakitnya juga sangat nyata”

Nah pas sekali dengan aku, kau tau? Aku tak pernah bisa asal-asalan dalam mengumbar perasaan apalagi rasa cinta. Terlalu pribadi dan sensitif. Ketika aku cinta maka aku benar-benar cinta, dan ketika aku terluka maka benar-benar nyata dan sakit rasanya. Butuh berapa lama lara hati seperti ini ya kira-kira? Tidak nyaman rasanya hidup di hari yang tak aku rindukan kedatangannya.

Putus asa beberapa kali dalam sehari adalah hal wajar ketika patah hati. Gelisah, cemas, putus asa, tak ada semangat, pait sekali dirasakan benar-benar seperti minum obat.Untung saja hati punya antibodi. Bagaimanapun ingin mati tetap ada logika agar tetap bertahan hidup. Mana ada mati sia-sia karena cinta. Nanti dia senang, dia akan cepat lupa karena aku tak terlihat dan tiada. Jadi aku hidupi saja rasa sakitnya, kuhidupi hidupku dengan sebagiannya masih dalam masa rehabilitasi putus cinta.