Hei, kenapa melepaskan itu menjadi takdirku

aku sudah banyak kehilangan. bukan masalah cinta lagi. bahkan ini tentang cita-cita yang sejak kanak-kanak ku damba. apapun itu menyebalkan. dan setelah satu persatu aku lepaskan, dan hanya rasa rindu yang tak berhasil lepas. apa harus ku lupa? sudahlah itu makin membuatku gila.

depresi menjadi hantu dalam hiduku. melamun.. mungkin kini menjadi hobiku. aku suka melamun, disana aku bisa sejenak mengosongkan pikiranku. tak peduli jika ada makhluk astral kata orang dapat merasuki diriku, setidaknya aku punya teman. entah dimana pikiran itu muncul, logikanya, siapa tahan dengan sesuatu yang begitu kejam.

kadang aku ingin minum sebotol wine, yang aromanya membuatku melupakan

aku akui diriku semakin gila. aku butuh teman, aku butuh sesuatu yang dapat mengalihkan otakku akan pikiran tentangmu, tentang kehilangan. aku berpikir apakah wine dapat memberikan hasrat membahagiakanku meskipun sekejap seperti aromanya. memabukkan memang, tapi diriku saat ini sudah cukup mabuk dengan perhalan kehilangan akal sehat.

suara teriakan ku berhenti di bibir yang dilarang bercerita

betapa sial hidup bagiku. teriakanku menjadi anggapan bahwa aku gila. bagiku, aku sudah cukup gila. makin risau rasanya diriku. tertipu oleh banyaknya rencana. bahkan tertipu oleh kata tak sanggup kehilangan, b*tch. aku merasa jika lelaki itu sama saja. ah entah, ini cinta atau nafsu.

sekali lagi aku ingin membenturkan kepalaku, sekiranya aku bisa amnesia. atau aku perlu lima peluru untuk menembuskannya ke kepalaku. aku makin merinding dengan kesan hidupku yang tak sesuai rencana. konyol sekali. di satu sisi ingin berbuat kebaikan, namun aku tak punya hak. satu sisi lagi keburukan itu dihujatkan padaku.

aku ingin berkata pada Tuhan, aku ingin berubah

sangat ingin! bukan menjadi sosok wonder women atau power rangers pink. tapi menjadi sosok yang lebih baik lagi. tapi entah mulai dari mana. pilihannya saat ini aku harus diam! entah sampai kapan. lelah, apalagi juga merindukan orang yang makin mengacak-acak saraf otakku. jadi serba salah. untuk ceritapun padanya, menurutku terlalu mengganggu. mulutnya sama saja. ah entah, mungkin memang harus sekali lagi aku menambah isi gelasku dengan mililiter wine dibotol.