Tahun 2016 yang begitu menakjubkan akan segera berakhir. Sebentar lagi, orang-orang akan sibuk memasang kalender baru dan membeli terompet untuk merayakan momen pergantian tahun dengan penuh euforia.

Baiklah, sebelum kita beranjak ke tahun 2017 dengan hati berdebar-debar, ada baiknya kita merenung sejenak untuk refleksi diri. Tentang kesalahan yang telah dilakukan, tentang mimpi yang belum terwujud.

Tahun 2016 dipenuhi oleh amarah dan rasa benci. Hanya karena beda ide dan pendapat, terkadang seseorang rela "menyingsingkan tangan" demi ikut adu jotos dan "menegangkan urat leher" demi mencaci maki.

Sebagai anak muda yang terus berproses, mari bersama-sama menjadikan pergantian tahun sebagai momen untuk berhenti menghakimi dan menyudutkan orang lain atas nama kebencian serta prasangka.

Bukannya sok bijak, tapi daripada menghabiskan waktu untuk menghujat dan menyebar kebencian kepada orang lain, lebih kita fokus untuk berkarya. Berkarya? Caranya bagaimana? Gampang. Bukankah kita semua punya hobi? Membaca, menulis, fotografi, atau mendaki gunung misalnya. Mari menenggelamkan diri dalam asyiknya menekuni hobi.

Advertisement

Cari sensasi dengan berkarya lebih baik daripada cari sensasi demi dibilang eksis dan kekinian. Mari beritakan aktivitas positif kita kepada dunia. Tanpa sadar, kita telah menginspirasi banyak orang di luar sana.

Sibuk berkarya untuk diri sendiri bukan berarti egois. Diam seribu bahasa bukan berarti apatis dan tak menentukan sikap. Kita hanya berusaha menghindar dari perdebatan tak berujung. Apalagi, jika ternyata kita tak memiliki kapasitas pengetahuan memadai dalam topik yang sedang diperdebatkan. Daripada sok tahu dan berkoar-koar tanpa ada dasar, kita malah kelihatan bodoh di depan banyak orang. Dan pepatah lama itu masih saja berlaku, "tong kosong nyaring bunyinya, orang bodoh banyak bicara."

Tapi, jika ada peristiwa yang menyangkut prinsip, apakah kita lantas berdiam diri? Tentu saja tidak. Kita harus bicara, dengan mengedepankan diskusi, bukan emosi. Biarkan ketuk palu hakim menjadi penentu keputusan. Apapun hasilnya, kita harus menerima dengan dada lapang.

Sebagai anak muda yang ingin terus berkarya, mari bersama-sama menjadikan pergantian tahun sebagai momen untuk menjaga segala macam ucapan dan tindakan, baik itu di media sosial, maupun di dunia nyata. Budaya berkomentar negatif semakin marak, jangan mudah terseret arus amarah.

Dan terakhir, mari bersama-sama menjadikan pergantian tahun sebagai momen untuk menjadi lebih dewasa. Kita jangan sampai salah tempat ketika berkeluh kesah. Mengumbar keluh kesah di hadapan banyak orang, terutama di media sosial, malah semakin menunjukkan bahwa kita adalah orang yang lemah. Mereka yang lemah hanya menjadi objek untuk diremehkan orang lain. Bukankah lebih baik jika kita terlihat kuat dan tegar di depan banyak orang?

Terkadang, kita semakin lupa kepada siapa seharusnya kita berkeluh kesah. Bukankah, jika kita berkeluh kesah kepada-Nya lewat sujud dan doa, kita akan lebih mendapat ketenteraman hati? Ayo, anak muda Indonesia, mari sama-sama merenung.

Anak muda Indonesia tidak suka menghakimi dan menyudutkan orang lain atas nama kebencian serta prasangka. Anak muda Indonesia lebih suka cari sensasi dengan cara berkarya daripada cari sensasi demi dibilang eksis dan kekinian. Anak muda Indonesia tahu waktu kapan harus bicara, kapan harus diam. Anak muda Indonesia selalu bisa menjaga segala macam ucapan dan tindakan. Anak muda Indonesia adalah pribadi yang kuat dan tegar. Anak muda Indonesia adalah mereka yang terus memperbaiki diri.