Menuju lembaran baru di tahun 2017, marilah kita awali dengan merancang berbagai resolusi besar sebagai pelatuk untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan. Boleh saja kita membuat daftar resolusi baru atau meneruskan resolusi yang belum tercapai di tahun sebelumnya. Hanya saja nampaknya kita perlu menyelipkan upaya #MemperbaikiDiri di awal daftar resolusi hidup kita. Bukanlah perjalanan ribuan mil selalu dimulai dari satu langkah pasti?

Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan untuk memperbaiki diri adalah diawali dengan memperbaiki pola pikir kita terlebih dahulu.

Karena apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi perilaku kita. Setiap orang pasti mendambakan suatu kebahagiaan dalam hidup. Sayangnya kebahagiaan acapkali digeneralisasikan dengan segala hal yang berhubungan dengan keberuntungan, penghargaan, suka cita, kesenangan, pujian atau pengakuan orang lain.

Alih-alih ingin menjadi orang yang bahagia menjadikan manusia phobia dengan air mata; Sekuat tenaga menghindari penderitaan, kegagalan, dan berbagai hal menyedihkan lain bahkan berpura-pura bahagia di hadapan orang lain.

Tak jarang kita menjumpai seseorang atau bahkan diri kita sendiri yang mengatakan “Sudahlah.. Tak perlu ditangisi lagi.” Di hadapan orang lain yang sedang tertimpa musibah atau kesusahan. Namun jika kita telisik kembali ternyata dari pernyataan tersebut akan muncul suatu pertanyaan reflektif yaitu:

Advertisement

“Apakah itu merupakan bentuk empati kita pada orang lain untuk meredakan kesedihannya? Atau jangan-jangan hanya sebuah upaya penghindaran karena kita sudah terlalu jengah dengan segala bentuk kesedihan?”

Padahal alangkah lebih baik jika kita memberikan pelukan pada keluarga atau sahabat kita dan mengatakan “Menangislah jika itu bisa membuatmu lega, aku ada di sini untukmu.”

Banyak di antara kita yang lupa bahwa hakikat setiap individu adalah unik dengan segala kelebihan dan kelemahan masing-masing. Sama halnya dengan kesenangan, seharusnya kesedihan juga berhak memiliki tempatnya tersendiri dalam kehidupan kita. Sekali lagi kesedihan adalah bagian dari kehidupan kita, tak perlu kita berlari tunggang langgang untuk menghindarinya. Yang perlu kita lakukan adalah menghadapinya dengan gagah dan bijaksana.

Tak ada masalah tanpa solusi.

Toh baik kesenangan atau kesedihan keduanya adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada manusia. Untuk menguji manusia apakah dengan diberikan suka atau duka ia akan menjadi lebih bersyukur dan dekat dengan Sang Pencipta atau justru malah akan semakin jauh dari-Nya. Kebahagiaan sebenarnya sudah ada dalam diri kita masing-masing.

Syukurilah apa yang sudah kita miliki, bersabar dan usahakanlah atas apa yang belum kita miliki, berhentilah mengeluh dan jangan pernah membandingkan hidup kita dengan orang lain maka kita senantiasa akan diliputi oleh kebahagiaan. Percayalah Tuhan akan memberikan sesuatu yang lebih dari apa yang kita minta dan tentu saja di waktu yang tepat menurut-Nya.

Memasuki tahun 2017 tentunya usia kita juga akan semakin bertambah, sehingga idealnya harus diiringi dengan peningkatan kualitas diri. Jadilah pribadi yang mampu bertanggungjawab pada kehidupan kita sendiri. Mulai sekarang berhentilah untuk menyalahkan orang lain jika kita sedang merasa tak beruntung. Sebaliknya ketika kita sedang merasa tertimpa durian runtuh bukan berarti itu adalah murni karena hasil usaha kita sendiri.

Sungguh tak patut kita masih memelihara rasa sombong, belajarlah dari ilmu padi; semakin berisi semakin menunduk.

Sebaik-baiknya manusia adalah ia yang bermanfaat bagi orang lain.

Memperbaiki diri tak hanya fokus pada peningkatan kualiatas atau keberhargaan diri sendiri semata. Namun juga meningkatnya kepekaan dan kepedulian kita kepada sesama. Perkembangan teknologi yang sangat luar biasa jika tak diimbangi dengan kepekaan sosial akan semakin menyuburkan bibit-bibit keegoisan dalam diri yang menyebabkan seseorang cenderung akan menarik diri secara sosial dan lebih asyik dengan gadget.

Teruslah melakukan upaya memperbaiki diri untuk meningkatkan keberhargaan diri. Setiap dari kita berhak dan pantas untuk menjadi manusia yang memiliki value. Pandanglah diri kita dengan lebih positif sehingga kita akan lebih percaya diri dalam melakukan segala tindakan untuk menggapai mimpi-mimpi besar kita.

Jangan lagi fokus pada kelemahan diri dan komentar miring orang lain terhadap kita. Ingatlah bahwa Tuhan juga memberikan kita potensi dan kemampuan lain yang wajib kita kembangkan. Lihatlah satu hal dari berbagai macam sudut pandang dengan begitu dunia kita akan menjadi lebih luas dan menyenangkan.