Betapa cemburunya aku, saat aku datang berkunjung kerumah salah satu temanku selepas bekerja. Rasa lelah akibat menerobos semrawutnya jalanan ibu kota, akhirnya terbayarkan sudah. Berkat menenggak segelas es teh manis dan gorengan renyah yang disuguhkan sang ibu saat menyambut kami datang. Tercurah perhatian ibu dengan hadirnya pertanyaan-pertanyaan seputar kegiatan hari ini. Berlanjutlah perbincangan ringan hingga sang ayah pulang dengan memanggul tas disebelah pundaknya, ibu pun menyambutnya dengan senyum yang merekah. Belum lagi si kecil (adik) yang begitu riang berlari dari dalam lorong rumah sambil berteriak “ayaaaaah” dan seketika lompat kepelukan sang ayah. Aku tersenyum dan menunduk, lalu berbisik dalam hati “Mesranya, keluarga ini.”

Having a place to go – is a home. Having someone to love – is a family. Having both – is a blessing

Memiliki tempat untuk dituju – itu adalah rumah. Memiliki seseorang untuk dicintai – itu adalah keluarga. Memiliki keduanya – itu adalah berkah

~Donna Hedges

Barangkali kalimat itu tidak diciptakan untuk aku, rumahku dan keluargaku. Sebab, aku rasa rumah adalah bukan lagi tempat dimana aku dapat kembali pulang. Rumah bukan lagi tempat dimana aku dapat berbaring santai sembari menunggu lelah hilang. Rumah bukan lagi tempat dimana aku dapat berbagi susah maupun senang. Rumahku saat ini sudah lebih mirip seperti kapal reyot yang berguncang kencang, lantaran ombak tak juga berhenti menerjang. Sebab, pertikaian beserta teriakan-teriakan super lantang tidak pernah gagal membuat hatiku meradang.

Entah mulai dari kapan dan dari mana datangnya, ledakan demi ledakan amarah sukses melalap keharmonisan. Yang aku tau, kini orangtuaku selalu saling lempar kesalahan, menyebutkan segala macam kekurangan dan entah bagaimana, keduanya sama-sama merasa dikecewakan. Dan tak perlu lagi tanya apa yang aku lakukan! Tentu aku hanya dapat meratapi tragisnya hari-hari yang penuh kesengsaraan.

Pernah sekali aku melerai, ikut berteriak dengan suara setengah bergetar, lantaran tak kuasa menahan lelah dan letupan-letupan amarah yang berkecamuk. Tetapi teriakan dan tetes demi tetes air mata yang jatuh, ternyata bukan lagi cara yang ampuh. Kehadiranku mungkin sudah tak mampu lagi menjadi sebuah alasan agar mereka berhenti berseteru. Mulai dari saat itu, aku mulai mencoba bersikap angkuh, acuh tak acuh.

Advertisement

Suatu malam aku kembali membuka album keluarga. Dilembar pertama tergambar dua insan manusia saling berhadapan dan melempar tatap. Segala macam pernak-pernik membalut busana ibuku hingga terlihat semakin cantik. Senyum ibu yang tersipu malu disambut ekspresi ayah yang terpesona, membuat romantisme foto tersebut sungguh terasa nyata. Ya, foto itu adalah bukti suci dari sebuah pernikahan mereka. Aku menjadi semakin kebingungan, kemana perginya kebahagiaan?

Tiada Sekolah Sebaik Rumah

Tiada Guru sebaik Ibu & Ayah..

Sampai akhirnya kini, dari ibu dan ayah aku belajar, bahwa batas kesetiaan hanyalah masalah waktu. Pastilah segala hal yang manis akan mengikis dan membunuh arti sebuah rindu. Sehingga bagiku, mempercayai cinta adalah sebuah hal yang tabu. Aku mengunci diriku dari semua perhatian yang ku anggap palsu. Aku takut menaruh kepercayaan kepada seseorang yang toh, nantinya akan menjauh.

Ada ketakutan yang sangat meresahkan setiap kali aku mulai menyadari datangnya rasa cinta. Ada besarnya keraguan yang selalu berhasil mengurungkan niat untuk memulai suatu hubungan. Padahal belum memulai, tapi hati dan pikiranku sudah dipenuhi dengan pertanyaan serta kecurigaan. Yang pada akhirnya sukses membuat aku mengundurkan diri dari cerita cinta yang bahkan belum terjadi.

Bagaimana jika nanti pria ini akan pergi disaat aku sedang giat-giatnya mencintai?

Bagaimana jika nanti pria ini akan mengkhianati dan meninggalkan aku sendiri?

Bagaimana jika nanti pria ini akan berhenti mencintai saat pertengkaran datang menguji?

Bagaimana jika….