Rimbun namanya, dia masih saja duduk di bawah pohon menikmati setiap alunan desir angin, menghirup udara segar sambil melayangkan imajinasi setinggi mungkin. Sesekali dia menggerakkan pena di atas bukunya. Ya. Dia bercita-cita menjadi seorang penulis dan hanya satu yang begitu ingin dia tulis, yaitu tentang kisah hidupnya. Bukan. Bukan kisah betapa pilu hidupnya, tapi dia ingin menciptakan alur bahagia yang diimpikan semua orang, tapi ayal, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri.

Jarinya terus tergerak menulis tentang kisah pilu itu, dan tak jarang rintik itu nyaris membasahi kertasnya. Tapi Rimbun tetaplah Rimbun, dia tidak akan menangis di depan orang. Dia hanya akan bersandar pada alam, mengadu pada Tuhan, dia menangis dalam kesendirian.

***

Rimbun namanya. Dia adalah seorang yang ceria tepat setahun yang lalu, ketika taman di halaman rumahnya masih hijau dan penuh bunga karena dia selalu merawatnya. Dia adalah seorang yang selalu menyejukkan setahun yang lalu, ketika pohon di halaman belakang masih meneduhkan, karena hati seorang Rimbun menikmati setiap hela napas dengan syukur.

***

Advertisement

Ya, dia Rimbun, gadis kecil yang selalu bermain denganku. Gadis remaja yang beranjak dewasa juga bersamaku. Dia dahulu persis seperti namanya, keceriaan dan senyuman meneduhkan yang melihatnya. Sudah lebih setahun ini Rimbun menjadi gersang, dia banyak diam setelah tragedi yang menimpa keluarganya. Sebuah kecelakaan merenggut orang tua beserta tiga orang adiknya secara bersamaan. Dia selalu menyesali mengapa harus mengikuti ujian kuliah kala itu dan tidak ikut berangkat ke rumah kakeknya, ya begitu pilu nasibnya.

Ya, Rimbun namanya, dia tetangga dan juga sahabatku. Setelah tragedi itu aku selalu menjadi sahabat yang selalu memperhatikan Rimbun. Selalu bersama membuat aku menyayanginya seperti saudaraku sendiri. Aku sering mendengar ceritanya, ceritanya tentang rindu yang terus memburu. Tentang air matanya yang hampir kering, tentang ikhlas yang tengah dia pahat, tapi dia butuh waktu, dia berjanji akan bangkit dan melanjutkan semuanya setelah bulan ini, tepat setahun sepeninggalan keluarganya.

***

Senja ini sepilu cerita Rimbun, mendung pun berlapis tebal di langit taman belakang rumah. Dulu aku, Rimbun, dan tiga saudara Rimbun yang semuanya perempuan, sering bermain di taman kecil belakang rumah kami. Kami akan pulang ketika ayah dan ibu memanggil kami untuk pulang.

Taman ini tidak banyak berubah sejak kami kecil, ah, aku ingat tujuan ku kemari untuk menemui Rimbun. Ayah dan ibuku selalu menyuruhku untuk menjaga Rimbun, bahkan mengajak rimbun untuk tinggal bersamaku. Karena aku adalah anak tunggal dan kamarku pun cukup lebar, tapi Rimbun menolak dengan tegas, dia tak ingin meninggalkan rumahnya. Nenek dan Paman Rimbun tampaknya sudah kewalahan mengajak Rimbun bersama mereka, hingga mereka hanya memilih untuk menjenguk Rimbun seminggu sekali dari desa.

Tak lama melihat sana kemari aku menemukan gadis itu, dia masih duduk di bawah pohon seperti biasanya, dengan buku dan pena ditangannya. Aku langsung menghempaskan tubuhku duduk di sampingnya.

"Tentang apa?" kata ku memulai percakapan.

"Tentang kita," katanya singkat, sambil melayangkan senyum ke arahku.

"Oh, kalau tentang kita dilanjutkan saja nanti, karena kamu sudah ingat semua, hanya tinggal disalin dibukukan?, sekarang ibu menyuruhmu pulang," kataku sambil menarik tangannya. Rimbun hanya tersenyum dan mengikuti langkahku.

***

Sore ini beda, aku ke taman belakang dan mengajak Alif bersamaku, Alif adalah sahabatku di tempat kerja, dan hari ini aku ingin memperkenalkannya kepada Rimbun.

"Itu dia!" tunjukku ke arah gadis berjilbab hitam di bawah pohon, aku dan Alif mendekatinya.

"Rimbun" panggil Alif dan sontak membuat Rimbun segera berbalik, dia tampak terkejut dengan suara Alif.

"Alif" kali ini Rimbun yang menyebut nama Alif. Aku bagaikan sedang menonton drama yang diperankan oleh sahabat-sahabatku. Tatapan mata mereka tampak begitu dalam.

"Kalian sudah saling kenal?" tanyaku seperti orang bodoh.

"Ya Nisa, Aku dan Rimbun sudah lama kenal. Kami sudah sangat dekat, bahkan melebihi seorang teman, tapi sejak setahun yang lalu Rimbun menghilang, hingga aku menemukanmu yang bercerita tentang sahabatmu. Ternyata benar, Rimbun sahabatmu adalah Rimbunku yang telah setahun menghilang," jelas Alif panjang lebar.

"Kalau begitu, biar aku tinggal kalian berdua, kalian pasti perlu bicara," kataku sambil beranjak meninggalkan Rimbun dan Alif.

***

Aku Nisa. Sore ini gerimis turun membelai lembut kulitku, tapi kenapa hatiku yang terhujam, tak ada debu di taman belakang ini. Kenapa bulir bening itu berjatuhan dari mataku, ada sebak di dadaku, lututku terasa lelah menopang seluruh tubuhku. Aku masih menyusuri taman belakang dengan langkah gontai.

Aku Nisa. Diam-diam jatuh cinta kepada Alif yang menjadi sahabatku sejak tujuh bulan yang lalu, dan aku sangat yakin Alif juga menyukaiku dari sikapnya terhadapku. Ini pertama kalinya aku membuka diri terhadap seorang pria dan memutuskan untuk mengungkapkan perasaanku kepada Alif. Aku ingin ta'aruf dan mengenalnya lebih jauh.

Hari ini tujuanku membawanya adalah Rimbun. Aku ingin memperkenalkan Alif pada Rimbun dan menceritakan tentang perasaan terpendamku kepadanya. Selain itu, sepertinya Alif yang juga sangat penasaran tentang sosok Rimbun. Ya. Aku sering menceritakan tentang sahabatku Rimbun kepada Alif.

Aku Nisa, yang setahun ini salah mengartikan sikap Alif. Menyukai sikap Alif yang selalu membuatku tertawa, merindui Alif hingga setengah gila. Ah sudah lah, anggap saja aku seperti memerankan cerita romansa, mungkin sudah takdir rasaku akan ku pendam selamanya.

Ku ikhlaskan Alif dan sederet imajinasiku tentang Alif. Ceritaku tidak sepilu Rimbun, tapi suatu hari akan ku tuliskan kisah aku, Alif dan Rimbun pada dunia. Kisah ku yang mungkin dikirim tuhan untuk mengembalikan senyum dan keceriaan Rimbun melalui Alif.

Aku Nisa, aku tegar bukan?, tapi sungguh ternyata semua tak sesederhana itu. Kali ini hatiku benar-benar sakit, tapi biarkan saja. Aku yakin waktu bisa mengobati sebesar apapun lukaku.