"Hei, kamu yang ada dihadapanku. Aku merindukanmu!"

Sebuah ungkapan yang sangat ingin aku luapkan kepadamu, duhai cahaya. Kurang lebih itu hanya 7 kata, hanya 7 kata. Tapi kenapa sangat sulit. Atau 2 kata saja, "Aku merindukanmu!". Sanggupkah aku membual 2 kata itu? Tentu tidak. Akankah kau tau, pertemuan 60 detik terakhir kita itu sangat berpengaruh signifikan terhadap hati dan pikiranku. Kau masuk dari gerbang sisi kananku setelah aku siap beranjak pergi. Kau lewat di depan mataku seolah aku manusia transparan. Memang aku tak memanggil namamu, setidaknya aku tau kau punya 2 telinga yang masih normal mendengar sapaanku.

Zonk, kau benar-benar mengacuhkanku. Aku geram, aku benar-benar ingin cepat beranjak saja dari tempat itu. Sesaat setelah aku berbenah untuk pergi, mata ini masih melihat jelas jarak 2m di depanku itu adalah kamu. Hatiku tak karuan dan ingin cepat pergi saja. Tapi, mata tetap tak bisa berbohong meski tubuhku telah menoleh 75 derajat. Menembus 4 lapisan, aku menemukan mata indah yang telah lama tak ku lihat kembali. Kacamataku, kaca helmku, kacamatamu dan kaca helmmu.

Apa dayaku, aku tak mungkin mengacuhkan mata indah yang sudah ku tangkap itu. Akhirnya, kita hanya saling sapa sekedar formalitas saja. Tapi setidaknya, aku punya sosial mediamu yang sedikit mengobati ketika kamu muncul. Ingin sekali rasanya jari ini mengetik pesan untukmu. Memastikan keberadaanmu di belahan bumi sana baik-baik saja.

Perpisahan adalah hal yang paling membuat seseorang penasaran dengan takdir.

Advertisement

Hati ini rapuh, seolah tak ada semangat lagi memikirkan situasi hati yang seperti ini. Kau akan terus menjadi yang paling indah di mataku. Meski kau berbeda, meski kau tak peduli, meski kau tak akan pernah tau, meski kau menjauh. Kau akan terus menjadi cahaya. Namamu bahkan selalu teringat di setiap pagiku. Kau masih menjadi juara di pagi hari. Kau semangat terbesarku. Meski saat ini kau hanya tinggal angan semata. Bahkan masih teringat jelas, semua kenangan denganmu, semua kata yang kau lontarkan, lekuk senyummu.

Lalu, nikmat apa lagi yang ku dustakan bila aku saat bersamamu? Kau adalah jawaban dari segala doa, tapi hanya waktu itu. Ya, waktu itu. Aku tak tau lagi akan perasaan diamku ini. Bila suatu saat nanti telah pudar, mungkin aku lelah merindukanmu, duhai cahaya.

Aku begitu geram dengan keadaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya seperti ini. Aku mencintai dalam diam. Hanya bisa curi pandang dari jauh kala itu, memikirkanmu dalam angan, mengenang semua celotehmu, foto kenangan kita dengan mereka, candaan recehmu, semua tingkah konyolmu. Aku tak peduli akan semua tingkahmu yang kadang membuatku cemburu itu. Yang kadang membuat hatiku mati rasa, aku tak peduli.

Yang aku peduli dan yang ingin aku tanyakan, kenapa engkau melangkah pergi? Bukankah kita teman? Aku sangat ingin menghubungimu, sangat ingin. Tapi kau dingin, dingin sekali denganku. Hingga aku berpikir beribu kali lipat untuk itu. Pernah sesekali aku mencoba menghubungimu, tapi sama saja. Kau dingin, kau berbeda dengan yang lain. Entah kenapa. Aku merasa semua ini semakin salah ku rasakan.

Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku slalu di dekatmu.

-Jatuh Hati 'Raisa'

Cahaya, mendekatlah. Aku sungguh merindukanmu. 60 detik yang diberikan Tuhan untuk kita bertemu tanpa sengaja itu sangat berarti bagiku, apakah berarti bagimu juga?. Fikiran bodohku kadang bermain-main sendiri, seolah kau juga merasakan hal yang sama dengan yang ku rasa. Tapi mana mungkin makhluk indah sepertimu melihatku dengan mata hatimu.

Ya Allah, beri takdir lagi untuk kami bertemu. Buatkan skenario indah untuk kami jalani lagi di dunia ini. Meskipun itu yang terakhir sekalipun. Dan sebelum akhirnya kita berpisah lebih jauh tanpa prakata, sebelum kau jauh lebih tak mengenalku lagi. Aku masih punya harapan kecil, yaitu menyematkan namamu di halaman ucapan terima kasih skripsiku.

Bila suatu saat aku menyerah nanti, aku ingin kau tau bahwa aku pernah mengagumi dan memujamu tanpa syarat.

Rindu, akankah kau datang?