Perlu kah ku tanya kabarmu, rindu ?

Ku yakin jawabannya "tidak", karena segala pesan mu terlalu sering sampai lebih cepat dari datangnya dingin di malam hari dan embun di waktu pagi. Karena jika rindu itu adalah laut bergelombang, aku pasti sudah tenggelam walau aku berenang sekuat tenaga.

Jika rindu itu adalah rimba, aku pasti sudah tersesat tanpa bisa kembali walau aku sudah membuat tanda disetiap langkah. Jika rindu itu adalah arus, aku pasti sudah hanyut menuju hilir walau tak memulai dari hulu. Jika rindu itu adalah badai, aku pasti sudah terbang tak tentu arah walau sudah berpegangan dengan sangat erat.

Namun nyatanya, aku masih disini. meresapi rindu yang ada di dalam hati. Di antara jarak dan waktu yang tak bisa kita tinggalkan. Masih ku pegang erat hatimu di sini. Bersama rembulan yang tenggelam di awal hari aku meraba kelamnya waktu dan harunya hari ini ku kejap bersama mimpi.

Jika nanti ku datang kembali, lihat lah mataku, kau akan temukan binaran yang sama seperti saat kita terakhir menatap. Genggamlah jemariku, kau akan merasakan kesejukan yang sama seperti saat kita dekat. Dan peganglah dada ku, detaknya masih sama seperti saat aku katakan aku jatuh hati.

Advertisement

Telah banyak masa yang kita pertaruhkan. Air mata bukan alasan untuk kau menjadi lemah karna masih ada tempat dimana kau bisa berdoa.

Sederhana kan sayang?

Kita hanya perlu menadahkan tangan, menghadap Tuhan, lalu kau ceritakan seberapa rindu kita, ia akan sampaikan entah darimana. Setidaknya itu akan menjadikanmu lebih kuat dari siapapun yang pernah bertempur dengan jarak dan waktu, hanya untuk sebuah mimpi bersama.

Kau dan aku harus selalu menjadi kita, agar cerita ini tidak berubah menjadi drama penuh tangis dan sesal. seperlunya saja jika merindu, seutuhnya lah jika ingin meminta pada pencipta agar yang diberikan akan tetap sama, aku pernah terlelap bersama rindumu, memeluknya tepat disebelahku. lalu aku mencoba bangun dan menghindar namun tetap tak bisa karna ia melekat tak mau hilang.

Rindu selalu menyapaku. ku jawab namun yang ku temui bayangan mu saja. aku lelah merindu namun hati ku sanggup bicara lebih banyak. Lihatlah… Lihat saja ke dalam mataku. masih seperti itu saja. tatapan penuh harap agar segera bisa menemuimu. membongkar catatan lama tentang rindu dihati ini. ia tak hilang bahkan tak pernah kusam. ia juga tak rapuh walau sudah tersimpan rapat selama dekade waktu yang berjalan.

entah bagaimana lagi aku menyimpannya. ia masih bersenda gurau dengan hatiku. seketika aku larutdalam lamunan, lalu tersenyum, mengingat garis senyumanmu, mengingat wajahmu yang lesu saat kau lelah dan bersandar dibahuku. percayalah bahwa kau tak hilang disini jauh didalam hati. kala aku mulai tak bersuara lagi, maka dengarlah setiap alunan angin mengantar rindu, tanpa amplop merah jingga, tanpa tulis untuk siapa. ia hadir begitu saja dan membaca diriya sendiri untuk mu.

Susah payah ku tulis satu persatu kata itu, bahkan hampir ku putus asa. Setiap kali ku menulis, aku mencoba alirkan semua rindu hingga diujung pena. Namun apa daya, tintaku selalu kering, kertas putihku selalu habis, rindu masih bertumpuk dihati dan kepala. hingga akhirnya ku kirim satu persatu untuk mu. Semoga ia sampai dan bisa kau baca. namun jika kau lelah membacanya, simpan saja dulu, jangan kau buang sayang. Meski bukan tinta emas, ia bahkan lebih berharga.

Rindu, tenanglah sejenak. Aku tak mau jadi egois karenamu.