Rindu ini menggerogoti seluruh tubuhku, mengalir melalui darah-darahku, sampai-sampai aku tak bisa bergerak karena rasa rindu ini. Ahh, kenapa bayanganmu tak pernah berhenti berputar di kepalaku, senyuman manismu selalu menyapa di pikiranku.

Bukankah kita sudah berjanji untuk tak saling merindukan lagi? Janji yang kita ikat bersama di kala senja. Kau pegang erat tanganku, lalu kau peluk diriku. Aku hanya diam, menikmati hangatnya jemarimu, mencium bau tubuhmu yang selalu kurindukan.

Pelukan terakhir dari dirimu masih membekas di tubuh ini. Baju yang kupakai terakhir ketika bersamamu kini sudah tak kupakai lagi, aku menyimpannya dengan penuh kasih sayang. Sama halnya dengan kenangan dirimu yang ku simpan jauh di lubuk hatiku.

Meski pada akhirnya, kau tetap melangkah demi selangkah, sampai hilang dari depan pandangan. Dan aku masih disini, berdiri di tempat yang sama. Tak melangkah dan tak bergerak, sampai akhirnya aku sadar bahwa diriku hanya seorang diri.


Aku mungkin lupa, berapa kali kita menghabiskan senja bersama. Tapi, aku tak pernah lupa dengan senja kala itu, senja di mana kamu pergi tanpa kembali sama seperti senja terakhir yang kita nikmati bersama


Advertisement

Seandainya aku tahu maksud angin yang nggak bersahabat itu, tentu aku menolak ajakanmu untuk pergi di kala senja. Tapi, apa mau dikata, aku bukanlah seorang peramal yang bisa menerka kejadian berdasarkan alam. Aku tak tahu sedikitpun tentang tebak-menebak.

Yang aku tahu, kamu akan menjadi kenangan senja terakhirku dan tak akan ada lagi kisah tentang senja. Aku akan membuat kisah baruku tanpa senja.