‘Haeee’ adalah satu kata dariku yang mewakili rindu. Rindu kamu. Kalau kamu? Ahh, tak usah aku tanya. Tanpa perlu berkata apa pun aku tahu kalo kau juga rindu. Apakah harus aku sebutkan satu persatu, hal-hal yang menandakan kamu rindu?

Baiklaaah.. asal kau tahu. Senyum yang menyambutku di depan pintu kala aku datang, itu senyum rindu. Atau jerawat yang ada di pipi kirimu, dan juga yang ada di keningmu, itu jerawat rindu. Cubitanmu di tengah-tengah obrolan kita berdua, itu cubitan rindu. Senggolan kakimu di kakiku, ketika sengaja memberikan jeda kepada waktu dimana kita tak saling berkata-kata, itu senggolan rindu. Bahasa tubuhmu yang menginginkan aku untuk tidak cepat-cepat pergi ketika kita bertemu, itu bahasa rindu. Ahh banyak sekali kalau harus aku sebutkan satu persatu. Cukup itu saja dulu.

Rindu itu candu. Walau kadang pahit kayak empedu. Tapi kadang juga manis seperti madu. Kadang pula besar kayak pohon randu. Ahh.. rindu. Selalu saja seperti itu. Jika kita tahu, rindu itu ibarat pemandangan di gunung api purba. Indah. Tapi kadang juga kayak asap knalpot bus Trans Jogja. Bikin lemah.

Rindu obatnya adalah bertemu. Obat selain itu, aku rasa belum ketemu. Entah itu bertemu secara langsung, atau bertemu secara tidak langsung. Lewat mimpi misalnya, karena saking rindunya. Atau bisa juga doa-doa kita saja yang saling bertemu. Doa-doa rindu, kepada Yang Maha pemilik, dan pemberi rindu. Aku rasa itu lebih syahdu. Karena hanya doa yang bisa menembus batas ruang dan waktu.

Kalaupun aku rindu, aku tak harus memelukmu. Begitupun sebaliknya, kalau kau rindu, tak perlu memelukku. Apalagi jika harus mencium keningmu. Aku rasa itu tak perlu. Cukuplah kau memeluk jaketku. Peluk saja sesukamu. Peluk selama kau mau. Aku tak akan menghalangimu. Atau bisa juga kamu memeluk ranselku kalau benar-benar rindu. Nanti aku juga akan memeluk ranselmu. Ransel yang masih kamu gendong di punggungmu kamu ulurkan ke aku. Cukup adil bukan, untuk melepaskan rindu?

Advertisement

Beberapa hal yang mesti kau ingat. Jangan lupa kau ingatkan juga ke aku. Cukuplah rindumu yang biasa saja. Dan rinduku pun juga akan. Terlalu menggebu jangan. Pokoknya rindu yang seperti itu. Rindu yang biru atau ungu. Yang warnanya masih bisa kita nikmati. Jangan terlalu pekat, dan kelam. Nanti warnanya jadi padam, dan mati.

Jadi, kamu tak perlu bilang apa-apa kalo rindu. Tak perlu juga bilang ke aku. Karena aku sudah tahu. Karena rindu itu ada di kalbu. Kalbuku dan kalbumu. Walaupun tak dikatakan sekalipun dia tetap rindu.