Tua itu pasti, dewasa itu pilihan

Kemudian manggut – manggut ketika ditelan perlahan – lahan. Membenarkan. Membanggakan hitungan – hitungan umur yang makin hari bukan semakin bertambah tetapi berkurang. Katanya sudah lulus sarjana tapi menyediakan telinga untuk yang butuh didengar saja menolehkan muka. Katanya berIQ superior tetapi membuang sampah saja masih sembarangan. Katanya menang lomba debat tetapi ada orang berbicara saja masih disela. Katanya berempati tetapi lebih memilih bermain dari pada menolong teman. Lucu sekali bukan? Kadang hidup memang mudah sekali ditertawakan, bukan meremehkan.

Katanya, katanya, katanya…. sampai kapan hanya katanya, katanya, dan katanya?

Semua manusia itu makhluk sosial. Seringkali logika dan batin berperang, saling memenangkan ego masing – masing. Memikirkan dirimu sendiri memang terkadang menyenangkan, merasa menang. Tapi bukannya nanti akan berlulur air mata juga jika tiba – tiba sadar bahwa tertawa sendirian itu lebih menyedihkan dari pada menangis bersama – sama.

Sesekali menjauhlah sejenak dari rutinitas. Bentransformasi menjadi pendengar dan pengamat yang baik. Mengasah kepekaan agar tak mudah bertindak dan berucap yang menyakitkan. Karena hal – hal besar berawal dari hal – hal kecil. Membenci berawal dari tidak peduli dan Pergi berawal dari tak didengar. Jangan buat hatimu sekeras batu, sampai tak hancur didera pilu, pilu orang – orang disekitarmu. Pedulilah.