Ayam peliharaan paman Rose sudah berkokok. Ya, memang sudah jam 4.30 pagi. Rose terbangun dari tumpukan jerami. Dia terduduk dan mengelus kepala White sambil berdoa, "Tuhan berkati kami agar kami meraih kemenangan hari ini. Amin".

Setelah berdoa, dia menepuk punggung kudanya dan membersihkannya. Pegawai Paman Rose segera masuk gudang dan membawa rumput segar musim semi untuk para ternak termasuk White. Ben, sepupu Rose mengawal kudanya selagi Rose mandi dan bergegas sarapan roti dan susu hangat buatan bibinya.

"Tok tok tok…"

Terdengar suara dari balik pintu.

"Biar ayah yang buka, Rose. Itu pasti ibu, kakek dan nenekmu".

Advertisement

Ya, memang benar. Paman Rose menjemput mereka untuk ikut menyaksikan pertandingan hari ini.

"Ayo kita makan bersama," ujar Bibi Rose.

Mereka sarapan pagi bersama dan segera Rose mempersiapkan diri mengenakan baju berkudanya.

"Eits, tunggu sebentar. Ibu bawa sesuatu untukmu. Ini dia, ayo cepat pakailah!"

Rose terkejut. Wah, ada satu set pakaian berkuda lengkap dengan sepatu, topi, manset, ikat pinggang serasi berwarna putih dan hitam.

"Terima kasih, Bu."

Rose memeluk ibunya dan sementara itu kak Ben, sepupu Rose sudah memakai pelana pada White; pelana hitam yang agar senada dengan baju yang Rose kenakan.

Tinggal 20 menit lagi pertandingan dimulai. Seluruh peserta wajib mendaftar ulang sebelum pertandingan untuk mengambil nomor peserta dan bersiap di titik start. Ada 11 peserta pagi itu, di antaranya adalah juara tahun lalu, Ken. Inilah lawan terberat Rose, karena jam terbangnya sudah lebih di atas Rose, walau Ben lebih senior dibanding Ken.

"Jangan patah semangat! Kunci kemenangan adalah fokus dan kerjasama. Kamu bisa Rose!" Ucap Ben sambil menepuk pundak Rose.

***

"Kepada para peserta bersiap menaiki kudanya! Berbaris sesuai aturan."

Panitia lomba memberi aba-aba, "Semua bersedia! Dan.."

Tembakan start diluncurkan. Rose memiliki nomor start 2. Dia berada di posisi ketiga di awal pertandingan.

"Ayo, White kita bisa!"

Ya. Fokus Rose kini bukanlah juara satu, tapi dapat bekerjasama dengan kudanya menghadapi palang rintangan yang ada; melompat di waktu yang tepat dan mendarat di jarak yang pas agar tak ada tongkat yang terjatuh.

Ya, Rose berhasil melalui dengan baik! Tinggal percepat waktu dan dia bisa memenangkan pertandingan.

"Wah, berhasil!"

Dengan gesit White mendahului semua peserta dan seluruh penonton berdiri dengan harap cemas karena akan ada puteri pertama yang akan memenangkan pertandingan.

Dan, ya! Bendera finish telah diangkat.

" Berhasil.." ujar panitia, "Peserta nomor tiga dengan kuda putihnya White, memenangkan pertandingan mendahului juara kita tahun lalu."

Rose menuruni White dan segera memeluknya. Ayah dan Ibu Rose mendekati Rose serta memeluk puteri mereka.

"Selamat, Sayang!"

***

"Kepada juara pertama, dipersilakan segera menempati podium kemenangan bersama juara 2 dan 3."

Sudah waktunya pemberian trophy dan White akhirnya meraih trophy kemenangan serta mendapatkan hadiah lainnya; di samping kesempatan menjadi altet daerah.

Karirnya baru dimulai. Turnamen demi turnamen akan dia jalani dan ia menangkan. Ken menyerahkan tongkat estafet yang dipegangnya selama setahun terakhir sambil memberi selamat atas kemenangan Rose.

Kepala desa juga memberinya jabatan tangan sambil berkata, "Selamat Rose, karena atlit wanita sudah lahir di desa ini!"

Segala yang dilakukan dengan passion akan menghasilkan keberhasilan. Dan dukungan yang terbaik adalah dari keluarga; yang akan meringankan langkah sukses dari segala kemustahilan.

Selesai. (SRH)