Pertemuan kita adalah percakapan bisu. Ruang temu bagi pikiran-pikiran yang berbicara sendiri. Kamu duduk di kursi dekat pintu. Aku bersandar pada kursi di depan televisi. Di antara kita ada meja, makanan dan juga dua kursi kosong menjadi amat riuh dari biasanya. Pembicaraan seperti apa yang harus kusemai denganmu? Haruskah kuawali dengan "apa kabar?" atau kubilang saja "hey, aku rindu!".

Aku tertawa dalam hati merutuki mulut sendiri. Segugup inikah aku bertemu denganmu? Kucatat dalam-dalam, cinta bisa mendatangkan penyakit lemas lidah. Aku, kamu, kita sibuk menonton drama korea milik saudaramu. Aku amati wajahmu diam-diam. Sementara kata-kata di dalam otakku berdesakkan meminta dibukakan jendela. Mereka berkata-kata sendiri, "sejak kapan rambutmu berubah warna?". Tapi aku terlalu pemalu untuk bertanya padamu.

Bagaimana bisa aku peduli, sedangkan engkau sibuk dengan asap dari rokok kesayanganmu. Kita sedang membiasakan diri menjadi asing bagi satu sama lain. Dekat namun berjarak. Aku yang sungkan, kamu yang enggan. Aku memilih diam dan kamu bungkam. 

Dulu, kita tidak seaneh ini. Kamu selalu penuh celoteh, amat tahu menjadi riang, jenaka, dan menjengkelkan dalam sekali waktu. Barangkali, akulah yang tidak pernah benar-benar mengenalmu. Seberapa sepi ketika kamu menjadi sunyi.