Ketika cinta tunduk setunduk-tunduknya di hadapan Kuasa Allah SWT.

Semakin hari, kamu dan dia semakin jauh melangkah ke depan. Kamu dan dia berjalan, sedangkan saya di sini masih berharap adanya keajaiban yang tiba-tiba datang dan mengubah alur cerita selanjutnya. Berharap keajaiban itu adalah takdir yang sebenarnya. Kamu jodoh saya. Tapi saya terlalu bodoh rasanya berharap demikian.

Rasanya juga hina jika saya berdoa agar Allah menjodohkan saya denganmu, padahal sekarang kamu sudah ada yang memiliki. Ya, memang janur kuning belum melengkung. Siapa pun tidak ada yang tahu sampai ijab kabul dan kata sah keluar dari mulut para saksi.

Namun apalah daya, saya tidak bisa memaksa skenario Allah. Saya hanya bisa tetap berusaha menemani kamu, kuat dan sabar, belajar sedikit demi sedikit ikhlas, merelakan kamu dengan dia.

Saat kamu memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini, saya bisa terima dengan hati lapang. Saya tidak ingin memaksa jika kamu ingin merasakan cinta yang lain. Saya tahu, delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk kamu.

Advertisement

Saya masih bisa tegar ketika apa yang kita jalani selama itu harus berakhir. Toh, saya dan kamu masih bisa berkomunikasi dengan baik. Masih ada perasaan yang saya dan kamu tidak bisa pungkiri, bahwa kita masiih saling mencintai, masih saling menginginkan satu sama lain. Saya tidak pernah menggalaukan kamu, karena saya tahu, meski kita tidak memiliki hubungan lagi, saya adalah rumahmu.

Lima bulan berjalan. Lalu tiba-tiba, saya melihat foto kamu, orang tuamu, dan satu orang di dalam sana. Siapa itu? Mengapa begitu terlihat akrab dengan orang tuamu? Apakah itu penggantiku? Saya tidak kuasa melihat keakraban yang ada di dalam foto itu.

Tadinya saya ingin klarifikasi langsung ke kamu. Ingin rasanya aku menyambar handphone lalu langsung menelfonmu. Tapi tunggu, saya tidak ingin segegabah itu. Saya mencoba mengatur emosi. Mendinginkan kepala dan hati. Baik, akan saya tunggu penjelasan dari kamu saja.

Namun berhari-hari setelah foto tersebut kamu upload, tidak ada pemberitahuan apapun yang datang kepada saya. Rasanya saya pantas mendapatkan "permisi" dari kamu. Rasanya pantas untuk orang yang sudah delapan tahun ada di hatimu. Tapi ini tidak ada sama sekali. Sampai suatu hari, saya yang harus sedikit menyenggol, membahas foto itu, siapa dia.

Dia yang bilang ingin serius dengan kamu..

"Dia mantanku waktu sebelum sama kamu. Dia dateng dan bilang, kalo dia mau serius sama aku.".

Ah! Saya tidak dapat berkata. Saya hanya terdiam mendengarkan apa yang baru saja kamu katakan. Saya diam, tidak tahu apakah kata selamat berserta doa semoga kamu dan dia langgeng, atau apakah yang harus saya ucapkan?

Tersayat. Rasanya hati ini seperti di sayat-sayat pisau.

Memang tidak lama. Hanya satu dua hari semuanya terasa hambar. Saya mencoba untuk menerima kenyataan ini. Meski tidak bisa saya bohongi, ada perasaan, "dia tidak pantas untuk kamu. Cuma saya yang pantas untuk kamu.". Iya, ada perasaan itu. Ada perasaan di mana saya ingin melihat, sampai di mana kata serius yang dia lontarkan kepadamu.

Setelah saya mengatahui akan siapa dia, semua mendadak berubah. Seperti ada space antara saya dengan kamu. Kamu seperti membagi waktu antara dia dengan saya. Kamu memberikan porsi antara dia dengan saya. Semuanya berbeda. Terlebih kamu sudah berani memasang foto dengan dia.

Kamu seperti lupa akan bagaimana perasaan saya jika saya melihat foto kalian. Seperti tidak ada saya yang berteman di akun media sosialmu. Seperti kamu lupa, ada saya.

Tapi tenang, saya masih berbesar hati. Saya masih tetap menyadarkan diri saat setiap harinya kamu dan dia berjalan menuju arah yang seperti dia katakan kepadamu, "serius". Tidak lelah saya menyadarkan diri ini bahwa saya bukan siapa-siapa lagi. Saya tidak punya kuasa apapun untuk menentukan hidupmu. Saya tidak bisa memaksakan ego di hati ini yang masih mencintaimu. Saya tidak bisa memaksa takdir mengikuti apa yang saya mau.

Hati ini menangis pilu…

Tapi saya tidak mau munafik. Semua ini, saya hanya masih sangat bingung ketika orang yang saya cintai bersama orang lain. Saya seperti tidak punya jalan yang harus saya lalui. Saya seperti, saya hanya ingin menghabiskan hidup saya bersama dengan kamu, jika tidak dengan kamu, saya tidak tahu dengan siapa saya menghabiskan hidup saya. Saya seperti lupa, bahkan rasanya saya tidak mau mengingat bahwa pasti Allah menyediakan penggantimu.

Hati saya pilu. Ketika semua perjalananmu bukan saya lagi yang menemani. Bahkan dia yang sekarang sibuk menghabiskan setiap hari sabtu dan minggu bersamamu. Kelapangan hati ini, sekarang tidak selapang itu lagi. Hati saya selalu tersayat ketika saat saya sulit mendapatkan waktu untuk pergi denganmu tapi dia selalu berhasil mendapatkan waktu yang saya inginkan itu.

Saya pilu saat kamu sekarang selalu menunjukan kebersamaan dengan dia di media sosial. Rasanya sekarang ketika saya ingin mengetahui tentang kamu, saya hanya perlu membuka media sosial. Seperti sabtu itu, pantas saja kamu tidak membalas pesan saya, ternyata kamu sedang bersama dia. Ya, begitulah media sosial memberitahu saya. Media sosial terlalu menyakitkan rasanya untuk saya sekarang.

Apa yang harus saya lakukan ketika saya sadar untuk menerima takdir, tapi kamu mengucap cinta dan menginginkan saya tetap tinggal ?

Saya miris dengan cinta yang saya miliki.
Hati saya terus bertanya, siapa saya? Alhasil, kemarin saya tanyakan hal itu ke kamu, dan kamu bilang, "kamu orang penting dalam kehidupan aku.". Ya Allah, semua ini membuat saya semakin tidak karuan untuk melangkah. Ketika kamu bilang sayang, ketika kamu bilang agar saya jangan pergi, saya bingung harus apa. Saya harus apa ketika kamu bilang, kalau orangtuanya ingin bertemu dengan papa dan mamamu? Saya harus apa, darl?

Saya terluka, darl. Saya tersayat. Berada di posisi ini sangat tidak mudah. Saya mencintai kamu. Saya ingin percaya bahwa jodoh itu tidak ke mana, tapi, semua ini benar-benar membuat saya tunduk di hadapan Kuasa Allah SWT. Saya tidak punya rencana, saya tidak punya tujuan, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya tunduk, saya tidak bisa apa-apa. Saya pasrah di tengah hubungan kalian. Saya tidak punya kekuatan. Seakan semua ikut pergi, perlahan kamu akan beranjak sah dimiliki orang lain.

Darl, bolehkan setidaknya saya mengungkapkan sesuatu di tengah takdri ini? Oke, baiklah.

"Dear Adrian Harahap,

Sudah seminggu ini saya bingung apa yang harus saya tulis untuk menggambarkan apa yang saya rasakan. Saya bingung untuk memulainya dari mana. Hapus. Tulis lagi. Hapus. Tulis lagi. Begitu beberapa kali. Namun rasanya kali ini saya berhasil menulis.

Saya lelah darl. Saya lelah dan saya butuh kamu. Saya butuh kamu seperti malam itu saat saya bisa dengan nyaman tanpa batas waktu menyenderkan kepala di bahumu. Saya lelah dengan beberapa kekonyolan dunia. Darl, asal kamu tahu, semua sangat mudah saat kamu ada di sisi saya. Bahkan rasanya sangat amat mudah bagi saya menghadapi segala permasalahan itu.

Bukan karena kamu yang memberi saya motivasi atau nasehat supaya tetap sabar, bukan. Tapi kamu, kamu yang entah darimana energi itu berasal. Energi yang dapat membantu saya menghadapi dunia. Membantu melakukan segala hal luar biasa yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya, dan saya tidak pernah merasa sesemangat itu, seantusias itu. Rasanya saya ingin terus berjuang untuk benar2 meraihnya.

Rasanya mudah saat ada kamu. Sangat ringan semua beban itu.

Sekarang rasanya saya malu sama diri saya sendiri. Harusnya saya bisa tetap sabar menghadapi dunia ini meski kamu tidak lagi tepat berada di sisi saya. Tapi saya tidak mau naif, bahwa memang begitu berat saat kamu berada di sisi sebrang sana. Begitu rumit jalan keluar yang saya tempuh. Malah terkadang rasanya saya lebih sering menemukan jalan buntu daripada jalan keluar.

Lebih sering merasa kecil untuk menghadapi dunia yang besar ini. Saya kecil dan seorang diri, berdiri dengan kaki sendiri. Rasanya saya benar-benar bukan apa-apa di dunia ini. Saya tidak punya kekuatan apapun saat ini.

Maaf, apa yang bisa saya lakukan sekarang ini hanyalah bersabar menunggu ketetapan Sang Maha Kuasa.

Darl, saya rindu. Saya rindu semangat itu."

Akankah saya memiliki semangat itu lagi, darl? Apakah saya menjadi benar-benar lemah sekarang ini?
Saya takut, sangat takut menghadapi dunia ini tanpa kamu.

Sabar – Afgan.

Kamu pernah tanya, "Apa lagu yang bisa menenangi kamu?". Saya jawab, "sabar-Afgan.". Sekarang dan ke depan nanti, yang saya tahu hanya sabar jika memang itu ketetapan Allah. Sekalipun jika ketetapan itu adalah kamu akan menikah dengan dia.