Hai… Saat datang tendangan pertamamu dan kami tertawa saat merasakannya bersama

Assalamu’alaikum…

Apakah kau mendengar suara salam merdu bapakmu itu?

Atau ibu yang kaget dengan gerakanmu lalu mengelusmu

Dengarlah kau dengan sapa sayang kami?

Advertisement

Atau lantunan Al-Qur’an terbata-bata yang kami bacakan untukmu?

Apa kabarmu di dalam sana?

Kami hanya bisa tersenyum haru saat melihat gerak lucumu di layar USG

Semoga hadirmu nanti akan penuh kelucuan, meriangkan hari-hari kami.

Nak… Mau jadi apakah kau nanti? Apakah seperti bapak? ibu? atau orang tua kami? atau siapapun orang yang menjadi pengharapan kami? Ahh masih jauh rasanya, dan kami hanya bisa memintal banyak-banyak doa demi kesempurnaan lahir batinmu.

Kau datang bersama rasa kasih kami. Tumbuh dalam rahim yang Allah tiupkan. Kau yang hebat, menjadi anugerah yang tak terbantahkan. Yang membuktikan kuasa-Nya. Yang menggelorakan hidup kami yang apa adanya.

Meski kau belumlah melihat dunia, tapi kehadiranmu sudah memperindah langkah-langkah kami. Membuat kami banyak mendekat pada-Nya, memanjatkan dan mengemis do’a-do’a.

Nak…Terlalu besar harap kami padamu kelak. Meski kami sadar, kamipun mungkin hidup diluar harapan orang banyak atau pernah mengecewakan orang tua kami. Tapi nak, kami tetaplah hamba yang tak berhenti mengemis pada Tuhannya. Kami adalah orang tua baru yang banyak berkehendak tentang kehidupan baikmu kelak.

Nak… Tak putus-putusnyanya kami selayaknya orang tua meminta banyak hal. Cukuplah nanti kau menjadi kebanggan kami, pelita keindahan dan kesejahteraan. Suka-sukamu hidup nak, kami tak akan memaksamu menjadi yang paling sempurna.

Tapi tolong jadilah kemanfaatan bagi umat, mencintai Tuhan dan Rasulmu tanpa penghabisan, cinta dan dekatilah para alim ulama, berbaktilah pada orang tua dan sayangi handai taulanmu.

Garismu adalah hak-Nya. Namun kami yang mencintaimu dari sejak kau belum dilahirkan selalu ingin memaksakan do’a-do’a ini berpilin tanpa henti ke langit.

Sehatlah sayang, semoga saat kau dilahirkan tersibaklah segala kuasa, bercucurlah tangis haru bahagia, tersenyumlah karena keajaiban.

Hadirmu kami tunggu sayang. Janganlah kau terkaget dengan dunia yang porak-poranda, atau orang tua yang masih hina, atau sekelilingmu yang jauh dari inginmu. Ingatlah bahwa Tuhan selalu melindungimu dengan seksama.

Sayang, mendidikmu adalah kewajiban kami. Tapi kami penuh keterbatasan. Maka semoga kelak kau memakluminya, dan menjadi hamba yang haus ilmu dengan sendirinya, hidup dengan kecintaan pada ilmu yang tanpa batas.

Sudah malam, kau makin aktif menendang. Ahh sayang, ayo berdo’a bersama, mendekat pada-Nya, bershalawat pada nabi, berzdikir, dan beri kesempatan ibu untuk tidur. Bapak pun harus istirahat agar kami bisa manjagamu dengan tubuh segar, mencari penghidupan untuk bersiap menyambutmu nanti.

Selamat malam sayang, kecintaan bapak-ibu. Damailah… kami yang penuh sayang.