Ini kisah antara aku dengan dia. Malam ini aku ingin menceritakan tentang dia, tentang pertemuanku dengannya. Dia yang belum lama datang kedalam hidupku. Dia yang membuat aku melihat dunia dari sudut pandang lain, yang lebih menakjubkan.

Beberapa tahun lalu, aku tergabung dalam suatu kepanitiaan besar. Aku menjalani hari-hari dengan rapat dan rapat. Sebenarnya aku tak terlalu berniat untuk mengikuti kepanitiaan itu, aku hanya mengikuti ajakan temanku. Karena sudah terlanjur terdaftar sebagai salah satu staff di kepanitiaan tersebut, aku jalani saja. Itung-itung mengisi liburan semester kala itu. Hari-hariku biasa saja, tak ada yang menarik perhatianku selain lelah dan rapat yang serasa tiada henti.

Beberapa bulan lamanya kami (panitia) menyiapkan acara besar ini. Sampai tiba saatnya hari H pelaksanaan kegiatan. Hari pertama berjalan lancar, tak ada hambatan ataupun masalah berarti karena baru hari pertama kesalahan kecil bisa menjadi pelajaran untuk hari berikutnya. Lanjut hari kedua, hari terpenting kala itu karena ada skenario khusus untuk peserta. Kebetulan skenario tersebut dipegang oleh divisinya, dan itu adalah "highlight" pelaksanaan kegiatan yang sudah kami rencanakan sejak lama. Dia sebagai kadiv tentu memiliki tanggungjawab lebih walaupun eksekusinya tidak dilakukan dirinya.

Pelaksanaan "skenario" itu pun dimulai. Ada yang salah dengan prosesi skenario yang dibuat. Aku yang ketika itu juga bertugas ditempat yang sama dengannya mengetahui persis kejadian yang terjadi dilokasi. Aku mengetahui siapa yang salah pada pelaksanaan skenario itu. Bukan dia, melainkan salah satu staff nya yang lain. Tapi apa yang dilakukannya menarik perhatianku.

Pada saat peserta mulai ribut dan beberapa ada yang protes akibat "merasa disalahkan", pada saat itu dia berdiri ditengah, melindungi staffnya dan mencoba mencairkan suasana. Aku lupa dengan kata-kata yang ia ucapkan, tapi posisinya dia sedang mencoba mengendalikan keadaan. Hal yang terlintas dipikirkanku saat itu adalah "wah, apa dia bisa mengendalikan situasi ini? pesertanya maju semua dan terus protes bersaut-sautan." Namun ternyata dia bersama staffnya yang lain mampu meredakan suasana hari itu. Acara bisa berjalan sesuai jadwal yang ditentukan.

Advertisement

Saat evaluasi kegiatan (setelah peserta pulang, panitia melaksanakan evaluasi harian), aku mulai melihat dia. Apa yang diucapkannya sungguh menarik seluruh perhatianku. Disaat staff yang melakukan kesalahan menangis terisak, karena dia merasa yang paling bersalah dalam peristiwa ini. Si Dia mengatakan bahwa ini sepenuhnya tanggungjawabnya, dia yang bersalah karena kurang memberikan informasi dan koordinasi dengan staffnya. Dalam hati aku berkata "Kok bisa dia begitu sabar dan menyarahkan dirinya untuk bertanggungjawab untuk hal yang tidak dilakukan olehnya". Aku kagum dengan sikapnya yang berusaha melindungi staff dan mengambil tanggungjawab atas insiden yang terjadi.

Itulah pertama kalinya aku melihat sosoknya. Melihat seseorang yang menaruh dirinya sebagai tameng untuk kawannya. Aku kagum dengan sikap yang diambilnya pada saat itu. Sejak pada saat itu, aku mulai melihat kehadirannya dalam hidupku.