Kisah ini entah nanti akan disebut apa,

masalalu? tapi kebersamaan kita masih bisa dikecap oleh rasa,

masa kini? terlalu berhayal karena kamu tak lagi disisi,

jika aku bilang masa depan? Ohhh apa aku seperti sedang berharap kucing dirumahku bisa bertelur seperti ayam.

Tapi setidaknya kita pernah merangkai kisah yang tak bisa disebut mudah, dan kisah yang melelahkan itu berhasil menjadi memori indah.Aku benar-benar bilang Terimakasih.

Kini entah seperti apa angan dan mimpimu, masihkah ada aku yang kamu harap kembali kesisimu lagi. Tapi toh itu bukan lagi menjadi urusanku.

Tak perlu ada lagi tangis terisak yang kupikir itu terlalu drama, cukup sedikit menyesap luka dan kembali ke realita setelahnya, mengumpulkan kekuatan untuk sebuah kenyataan kini kisah kita tak lagi ada.

Paling tidak kau pun juga harus begitu, mengikhlaskan kisah yang hanya karena emosi singkat mampu mengobrak – abrik komitmen kita yang telah dijaga cukup lama.

Advertisement

Sudahlah, aku juga sudah mulai beranjak melangkah, bukan karena aku tak lupa kisah kita bukan bangunan sementara, kita bersama membangun sebuah istana.

Tapi aku ragu jika itu sebuah istana, setelah kemarin bicara kita singkat tapi nyatanya kita begitu mudah meloloskan tanpa ada diskusi untuk paling tidak menunjukan kita masih sama-sama berminat.

Sejak itu aku yakin kita bersama hanya sedang membangun rest area, dan kini kita melanjutkan perjalanan dengan tujuan jalur yang berbeda. Entah arahnya sama atau tidak, aku tak lagi tau.

Biar saja waktu yang menjawabnya,

“Ya sudah, kita selesai”

Karena waktu juga yang saat itu tak menahan perpisahan kita.

“Oke, kalau itu maumu”

Karena waktu seakan menunjukan kamu mampu menanggapi kata pengakhiran dengan begitu mudah.

Entah itu pengakhiran yang sudah lama terakumulasi, atau singkat kata yang tanpa kita sadari. Tapi tandas maknanya tak bisa di tutupi, kita telah selesai.