Saat kita kecil, bermimpi menjadi dewasa menjadi kewajiban yang menyenangkan. Menulis dengan bolpoin, menggunakan sepatu hak tinggi, duduk di bangku kuliah dengan tanpa menggunakan seragam, menjadi pusat pehatian, menjadi perhatian oleh seseorang, menjadi bagian dari kehebatan kehebatan yang tercipta, hingga menjadi separuh jiwa dari seseorang.

Aku ingin kekurangan yang kumiliki menjadi alasan aku dicintai. Aku ingin menikah muda.

Impian mulai berubah saat meninggalkan bangku sekolah. Mendekati dunia nyata, namun masih idealis. Pendidikan, persahabatan, keluarga, cinta, patah hati, penolakan, semuanya sering menjadi tidak sesuai dengan garis harapan. Menjadi mahasiswa dengan banyak teman sangat menyenangkan, bersaing dalam akademis, bersama sama menjalankan sebuah organisasi, mengunjungi tempat – tempat baru bersama, membuat jejak kenangan bersama.

Seringkali masa depan terbesit saat itu. Tertarik dengan seseorang yang diam – diam dapat menjadi semangat disetiap hari. Kata orang kita jodoh itu cerminan diri, sehingga saat saat menunggu seharusnya dimanfaatkan menjadi ajang peningkatan kualitas diri. Saat ini terkadang memiliki kepribadian lain mungkin akan membuatku lebih menarik di matanya. Seringkali kita beruaha memperbaiki semua kekurangan yang kita sadari dengan melihat segala sesuatu dari sudut pandang lain. Pada akhirnya mungkin butuh waktu lebih lama untuk menjadikan diri mendekati baik.

Waktu berjalan, usia memasuki ukuran dewasa. Tersadar bahwa kekurangan yang kita miliki akan tetap ada, hanya bagaimana cara kita menjadikannya kekuatan dan adanya seseorang yang menerima.

Advertisement

Tuhan mengenalkan aku dengan seorang pria yang tidak pernah mau pergi saat aku menolaknya, ia nyaman dengan kekuranganku, ia mencintai aku dengan kekuranganku

Tidak ada yang lebih menentramkan daripada diterima sepenuhnya. Di sini baru aku teringat akan do'a yang pernah aku panjatkan. Tuhan sangat baik, memberikan waktu untuk terlebih dahulu aku menerima diriku, lalu memberikan seseorang yang menerimaku, utuh.