Begitu lama aku dan kamu merawatnya. Tanaman cinta yang disiram dengan rasa sayang dan dipupuk dengan rasa rindu itu telah tumbuh besar dan berakar kuat. Begitu kuat menjerat hatiku, hingga badai cemburu dan berbagai isu tentang kamu, aku tak pernah mau tahu. Karena ya, aku percaya padamu. Kamu yang akan selalu menjaga tanaman cinta ini, agar selalu berbunga indah.

Berbagai sikapmu yang berulang membuat perasaanku meragu. Tapi segera kutepiskan itu. Mimpi-mimpi buruk tentang kamu yang datang berulang, dan nasehat-nasehat mereka terkadang ku anggap angin lalu. Dan saat itu, aku berpikir apa kau benar-benar tulus mencintaiku atau hanya mempermainkanku. Ah, aku terus saja berharap kau serius dengan rasa itu karena kita telah bersama dalam waktu yang memang lama.

Sekian Waktu Kita Tak Bertemu, Tapi Kamu Sering Meluangkan Waktu Bersama Temanmu.

aku masih setia menjaga hati agar tetap hangat dan nyaman denganmu, meski ribuan es berusaha menghujaniku. Cemburu karena kau lebih banyak waktu dengan temanmu, tak menggoyahkan setiaku, bahkan rindu semakin memelukku.

Entah berapa minggu kita tak bertemu, bahkan minggu-minggu itu hampir menjadi windu. Terlalu lama sedangkan kita berada dalam radius tidak jauh, aku dan kamu masih berada dalam kota yang sama. Beberapa kali kau mengajakku bertemu, tapi kau lewatkan begitu saja janji itu dan tak sungkan kau biarkan aku menunggu. Kau terus saja berkelit tentang kesibukanmu. Meski kau berulang kali mengumbar rindu tapi meluangkan waktu 1 jam saja, kau tak mampu, atau kau tak mau? Dalam perjuangan menahan rindu yang perlahan menjadi debu, kuketahui kau tengah asyik nongkrong dan becanda dengan teman-temanmu.

Advertisement

Mimpiku Yang Kau Bilang Hanya Bunga Tidur, Ternyata Adalah Sebuah Pertanda Yang Sempat Enggan Ku Percaya

rasa yang nyata tak akan pernah berdusta. Bahkan mimpipun terkadang siap mengungkapkan kebenaran yang ada

Akhir pekan, kita meluangkan waktu untuk berjumpa. Sebuah pertemuan yang sering kunantikan. Terlihat kau begitu bahagia hari itu. Kita saling bercerita, becanda, dan melepas tawa. Walau seperti biasanya, aku yg mendominasi lebih banyak bicara dan kamu lebih banyak bertingkah usil dan sedikit bicara. Tapi tak jarang ku rasa sikapmu agak berbeda, tak sehangat biasanya. Aku bercerita tentang mimpiku dimana aku melihatmu berdua dengan gadis lain dan kau begitu bahagia, bahkan kau tak peduli saat aku menangis melihat kemesraanmu dengannya. Dan seketika kamu berkata “Tenanglah, itu kan hanya mimpi. Mimpi itu hanya bunga tidur. Sebisa mungkin aku berjuang untuk kita. Kalau ada yang setia, kenapa harus nyari yang lain?”. Seketika itu kau usap lembut puncak kepalaku dan kau genggam erat jemariku. Entah, entah aku yang awalnya begitu was-was dengan mimpi yang sering hadir itu menjadi sedikit enggan percaya dan lebih berharap bahwa yang kamu katakan adalah benar.

Hari berlalu, namun sikapmu kurasa semakin berbeda. Semakin hari, sikapmu semakin dingin bahkan berkabar semakin jarang. Kau selalu mengelak setiap kutanya perubahan tentang sikapmu. Hingga sebuah kebenaran akhirnya terungkap, ya akhirnya kau sendiri mengakui bahwa ada seseorang selain diriku yang hadir dihidupmu dan masuk dalam ruang hatimu. Seorang yang pernah menjadi masalalumu, masalalu yang pernah membahagiakanmu dan juga mengenyahkanmu. Dan dengan ringannya kamu berkata bahwa kamu masih menyayanginya dan siap menerimanya kembali bagaimanapun kondisinya. Hanya dalam sekejab waktu kamu melupakan segalanya tentang kita, meninggalkanku begitu saja dan melenyapkan semua janji seriusmu yang tak hanya kepadaku, namun juga kepada orang tuaku.

Aku Memang Jatuh Dan Mendapati Luka Yang Begitu Dalam, Namun Aku Harus Mampu Bangun Dan Tetap Kuat Melawan Keterpurukan

Saat aku memilihmu untuk menjadi bagian dari hidupku, saat itu aku memberimu kekuasaan untuk menyakitiku. saat kamu menjadi alasan untuk kebahagiaan dan semangatku, saat itu kamu berkesempatan untuk membuatku menangis dan menjatuhkanku.

Aku memang jatuh. Aku mendapati luka yang tak pernah aku tahu kapan bisa sembuh atau justru akan membekas selamanya. Airmata, terkadang karenanya aku merasa lega walau lukaku masih tetap ada. Tapi jika kamu bisa dengan mudah membuang segala rasa dan mengenyahkan perjuangan kita selama ini, kenapa aku harus terpuruk sendiri dan bersahabat dengan sunyi? Tentu tidak, aku akan tetap kuat walau dengan hati yang tersayat. Aku akan menjadi yang lebih baik dari yang kamu kenal, dan aku akan lebih bahagia tanpa kamu.

Masa depanku tak akan berhenti hanya karena kau meninggalkanku pergi. Aku tak akan tenggelam dalam rasa sepi meski kamu tak akan pernah lagi kembali. Bukankah hidup memang masalah waktu? Waktu tak pernah saling mengenal, waktu datang dan perkenalan, waktu dekat, hingga waktu perpisahan. Dan bukankah hidup selalu tentang pembelajaran? Bahwa dengan adanya luka, aku tak boleh lemah seperti sebelumnya. Esok, aku akan jadi lebih baik dan lebih kuat daripada hari ini dan kemaren. Bukankah kita bisa lebih kuat dan tegar karena pernah terluka, kita bisa merasakan bahagia karena tau sakit itu seperti apa dan kita bisa bangun karena tau jatuh seperti apa. Hidup selalu tentang pembelajaran kan?

Perginya Kamu, Aku Percaya Ini Adalah Rencana-Nya Dan Kelak Ada Masa Yang Lebih Indah Yang Telah Disiapkan-Nya Untukku

Kita memang selalu membuat rencana yang indah , tapi tak selalu segalanya berjalan sesuai rencana. Dan rencana yang paling indah adalah rencana-Nya.

Melupakanmu, tak perlu aku gusar dengan hal itu. Waktu, perlahan akan menghapus segalanya tentang kamu yang terkadang masih berputar dipikiranku. Mengisi waktu luang dengan hal positif itu lebih bermanfaat, bukan? Jika dulu ketika akhir pekan aku lebih memilih menunggu ajakanmu untuk sekadar berjumpa atau makan bersama, sekarang diakhir pekan aku meluangkan waktu untuk menikmati keindahan alam disekitar desa atau kota bersama keluarga atau sesekali dengan sahabat. Bahagia, ya aku bahagia tanpa khawatir kamu akan cemburu dengan temanku, tanpa khawatir kamu merindukan dan memikirkan keadaanku, dan tentu bukan hakku lagi untuk berpikir sedang apa dan bersama siapa kamu ketika tidak ada aku didekatmu.

Mendekatkan diri dengan Sang Pencipta membuat aku lebih tenang. Jika dulu aku pernah berharap bisa bersamamu selamanya, tidak sekarang. Aku percaya perpisahan ini, adanya kamu yang akhirnya meninggalkanku adalah rencana-Nya. Semoga aku dijadikan wanita yang lebih baik daripada ketika bersamamu. Semoga masadepan dan lelaki baik akan menerimaku apa adanya dan lebih bisa menghargai ketulusan, kesetiaan dan perjuangan. Aku percaya rencana-Nya lebih baik dari rencanaku. Dan dari-Nya, tak ada yang tak indah.