Semua orang tau bahwa melepas seseorang yang kita sayang bukanlah perkara mudah. Apalagi jika alasan perpisahan bukan karena pertengkaran hebat ataupun kasus perselingkuhan, namun sebuah alasan yang sebenarnya masih bisa dipertahankan.

Terkadang dua orang yang saling menyayangipun memilih untuk berjalan masing-masing. Bukan karena sudah sepenuhnya tak memiliki rasa, namun banyak pertimbangan yang kemudian muncul setelah menjalani waktu bersama.

Hingga tak jarang, alasan seperti fokus mengejar cita diambil sebagai alasan halus agar mudah diterima, yang kemudian diakhiri dengan kalimat ‘jika jodoh, tentunya akan kembali bersama’.

Seiring dengan berjalannya waktu, ada masa dimana kita seakan ditampar oleh keheningan. Kita tahu jika kita sama-sama masih memberikan tahta hati tertingginya satu sama lain. Kita tahu, bahwa kita masih saling memanjat penuh harap untuk satu sama lain. Kita tahu, bahwa kita masih saling menyebut nama dalam setiap doa dan berbisik pada-Nya tentang cinta yang masih bertahta.

Tapi kita juga yang kemudian bersikeras saling membangun dinding pertahanan tinggi-tinggi. Kita juga yang kemudian bersikeras memasang jeruji hingga kawat berduri agar tak semudah itu bisa kembali. Bodoh. Kadang aku merasa bodoh dengan segala kondisi yang kita ciptakan sendiri. Berusaha saling menjauh dan berpura-pura tak lagi peduli. Mencoba membuang ilusi namun ternyata masih tersimpan rapi dalam kotak bertali. Entahlah.

Advertisement

Kita berusaha untuk melawan perasaan. Bersikeras untuk berdiri tegak, walau sebenarnya serasa ada yang menghilang. Berpura-pura baik-baik saja, padahal masih berusaha mencari serpihan hati yang masih terbawa. Mencoba meyakinkan bahwa tak ada yang berbeda, walau sebenarnya serpihan hati itu belum pernah kembali sempurna.

Aku berdiri disini sambil sesekali menengok kebelakang untuk melihat sejauh mana aku berjalan pergi. Walau rasanya belum pulih benar, tapi aku rasa aku sudah mulai cukup kuat untuk menerima bahwa kau kini telah bersamanya. Kau sudah lebih dahulu mengurai kisah baru dengan wanita pilihanmu.

Walau aku rasa dia bukan wanita yang tepat untukmu, tapi aku rasa wanita lain juga akan sepertiku, tak akan pernah benar-benar menerima dengan lapang dada seseorang baru yang mengisi hari-harimu. Lututku melemas tatkala kau mencoba memperlihatkan kemesraanmu bersamanya.

Pikiranku berasumsi kau telah banyak melewati hari-hari penuh tawa dengannya. Pikiranku berasumsi kau telah benar-benar jatuh cinta padanya dan menemukan kebahagiaanmu ada didirinya. Pikiranku berasumsi kau telah jauh berlari ke depan, menemukan hal baru, kebiasaan baru, rutinitas baru, kehidupan baru bersama seseorang yang baru. Dan pikiranku meyakinkanku, bahwa kau telah melupakanku.

Namun lambat laun, semua mulai terkupas. Asumsiku mengenai kebahagiaanmu seakan mulai patah. Bukan karna aku yang mencoba menguatkan hati. Bukan aku yang mencoba meracuni pikiranku sendiri. Namun satu per satu cerita mengenaimu mulai masuk ke telingaku. Cerita mengenai kehidupanmu setelah ku tak lagi disampingmu mulai menyelinap ke pendengaranku. Semua tak seperti yang ku kira. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya.

Kamu masih mengingat namaku manakala hatimu bertanya kepada siapa ia ingin berlabuh. Kamu masih berusaha menyebut namaku manakala kamu dan temanmu berkumpul untuk membicarakan masa depanmu. Kamu masih tersenyum simpul mengingat hari-harimu bersamaku manakala kamu dan kawanmu bernostalgia dengan masalalu.

Kamu masih terbelalak manakala namaku muncul dalam layar ponselmu. Butuh keberanian untukmu membuka pesanku, walau isinya hanya sebuah ucapan selamat ulang tahun atau selamat lebaran, seperti yang kulakukan ke semua orang. Masih ada getar yang mengguncang manakala kau bersentuhan denganku, meski berupa sentuhan maya. Masih. Tak pernah berubah.

Kamu termenung diambang pintu. Berusaha semakin keras. Namun, sekeras apapun kau coba untuk membingkai kisah dengan yang lain, hatimu masih tak bergerak. Sekeras apapun kau coba untuk melapisi dindingmu dengan baja, hatimu masih tak bergerak. Kau coba semakin keras. Membunuh rasa dengan cara yang tak adil untukmu.

Membiarkanku terbang tinggi, namun kau biarkan dirimu sendiri terjatuh ke dalam tumpukan jarum suntik, perih. Membunuh rasa dengan cara yang tak adil untukmu. Membiarkan orang lain jatuh cinta padamu. Membiarkan orang lain menghabiskan waktu denganmu sebagai kekasihmu. Membiarkan orang lain menyusun impian masa depannya denganmu. Membiarkan orang lain merelakan hatinya untukmu. Membiarkan orang lain mendekap erat ragamu.

Ya, mendekap erat ragamu, namun bukan hatimu. Hatimu masih tak bergerak. Ia masih ada ditempat yang sama. Tak pernah bergeser sedikitpun. Hanya sedikit merapuh dan usang. Hatimu masih tak bergerak. Ia masih ada ditempat yang sama. Karena kamu pun belum bisa mempercayakannya kepada orang lain untuk menjaganya. Hatimu masih tak bergerak. Ia masih ada ditempat yang sama. Di sini, bersamaku.