Kita tau dan sadar sepenuhnya bahwa tidak ada yang bisa memprediksi apapun di dunia ini, termasuk saat kita jatuh cinta dan kehilangan.

Kita semua pasti merasa begitu gembira dan berbunga-bunga saat merasakan jatuh cinta seolah luka yang lama tak begitu terasa sakit lagi. Kita merasa memiliki semangat dan kekuatan untuk menjalani hari, memandang optimis dan positif segala hal.

Tapi bagaimana bila sang waktu berkata lain. Kita harus kehilangan orang yang kita sayangi, dengan alasan apapun itu. Bisa ditebak sekuat apapun kita, pasti akan mengalami kesedihan. Hidup dan cara pandang tiba-tiba berubah. Jika cara kita menghadapi hal ini masih dalam batas wajar, maka itu adalah manusiawi, tetapi jika ini sudah berlarut-larut maka tentu saja hal ini akan berbahaya, bukan buat orang lain tetapi untuk diri kita sendiri.

Ada hal yang harusnya kita sadari ketika kita membuat komitmen untuk suatu hubungan, ketika kita berani menyediakan hati untuk sesuatu yang bernama cinta.

“Jika kamu menyediakan hatimu untuk cinta, maka kamu juga harus menyediakan ruang untuk rasa sakit”.

Advertisement

Siapa yang bisa menjamin bahwa hubungan yang sangat manispun akan memberikan rasa sakit?

Mencintai tidak pernah menjanjikan bahwa tidak akan ada rasa sakit, kecewa, sedih, marah ataupun kehilangan. Mencintai berarti memiliki semua paket itu, dan semua akan dialami pada waktunya. Ketika masa-masa manis berganti dengan argumen-argumen, setelah argumen mungkin akan ada pertengkaran kecil, yang kalau mau jujur terkadang ada rasa sakit dan juga kecewa. Tetapi itu semua tergantung bagaimana cara kita menyikapinya dan keputusan apa yang akan kita ambil.

Bahkan ketika dalam pernikahan pun, ketika salah satu pihak dipanggil terlebih dahulu menghadap Sang Pencipta, rasa dalam “paket cinta” itu akan tetap ada.

Kita semua pasti pernah mengalami semua “paket” itu. Terlepas dari rasanya yang tidak enak itu, semua itu memberikan pelajaran dan pengalaman buat kita, membuat kita lebih kuat dan lebih dewasa. Karena cinta bukan hanya masalah keabadian atau seberapa kuat kita bertahan, tetapi cinta adalah ketika kita mampu benar-benar mencintai dan menghargai kehadirannya saat dia bersama kita dan merelakannya tanpa rasa dendam, ketika dia atau sang waktu memiliki pilihan yang berbeda dengan harapan kita.

Rasa sedih, sakit dan kecewa pasti akan ada, tapi percayalah belajar untuk memaafkan dan menerima, tidak hanya akan membuatmu lebih bijak tetapi juga membuatmu lebih kuat dari pada memendam sakit hati selama hidup.

Setidaknya kamu sudah berusaha mencintainya dengan sebaik-baiknya dan cukup berjuang untuk dia dan hubungan kalian ketika kalian bersama. Maka ketika dia yang kamu cintai atau sang waktu berkata lain, ikhlas adalah jalan terbaik, karena kamu sudah melakukan yang terbaik. Tidak ada yang perlu disesali. Bukankah hasil akhir tidak selalu lebih penting dari pada sebuah proses?

Jadi ketika kamu merasakan “paket cinta” tersebut, maka kembalih untuk belajar mencintai dirimu sendiri lagi. Kamu boleh menangis, kamu boleh bersedih, kamu boleh kecewa ataupun sakit hati, karena semua orang juga akan merasakan hal yang sama.

Tapi ingat ada saatnya juga kamu mengatakan “cukup untuk saat ini” untuk “paket cinta” itu dan pada waktunya kamu akan kembali bertemu dengan kebahagiaan yang lain dan “paket cinta” yang lain lagi. Karena “paket cinta” adalah resiko yang harus kamu ambil ketika kamu mencintai. Kamu hanya harus berani mengambilnya.