Aku tak pernah tahu dunia apa yang bergerak di sebalik punggungmu, Sayang. Dari sekian banyak perbincangan, entah bagian mana yang akhirnya menjadi alasan kita dipertemukan. Aku hanya merasa nyaman saat membicarakan duniaku bersamamu. Hingga akhirnya melalui percakapan panjang kita, aku menarik kesimpulan bahwa dunia kita serupa. Buktinya kita bisa saling bercerita apapun dengan nyaman. Buktinya aku merasa utuh hidup di duniamu dan begitu sebaliknya denganmu. Mungkin. Namun sayangnya, yang aku lupa adalah dunia kita serupa tapi sejatinya tak sama.

Sejatinya kita tetap berbeda, Sayang. Meski kemauan kita sama; kita berbeda. Meski yang kita tuju sama; kita memiliki kisah perjalanan yang kita bawa masing-masing.

Akankah kita saling merubah satu sama lain? Menjadikanku sebagai kamu, lantas aku jadikan kamu sebagai aku? Jika seperti itu, maka sejatinya dari awal kita tak saling cinta. Sebab kita hanya saling meniadai, saling menggantikan. Padahal kita adalah dua nama yang seharusnya saling ada. Dua nama yang memainkan perannya masing-masing.

Adalah jarak yang turut memburu kisah perjalanan kita, setelah hampir setiap kesempatan kita bersama. Melewati sepi, mengikis sendu. Memintal kenangan baru, mengunjungi banyak tempat-tempat indah berdua tanpa perlu berkeinginan lebih bahagia dari ini. Tanpa takut bila suatu kelak tiada lagi waktu untuk merasakan hal yang sama.

***

Advertisement

Tenang, Sayang. Aku punya sejuta amunisi mengatasi kerinduan yang tak kunjung bertepi. Aku sedang menikmati semua gejala sosial yang mencoba membuatku untuk berserapah. Biarkan, Sayang; meski kadang memang terasa begitu mengiris. Aku akan tetap menikmatinya, sebagai tanda bahwa aku memang tak ingin jauh darimu. Mengertilah, semakin jauh jarak membentangkan dirinya, aku justru semakin punya alasan yang kuat untuk mempertahankan kamu di sampingku.

Tidak semua rindu harus dituntaskan dengan pertemuan, 'kan?

Sebab aku masih percaya segalanya akan indah pada waktunya. Rindu masih ku yakini sebagai cara terbaik menggulung jarak. Hingga akhirnya kita sampai pada puncak titik temu di mana tiada lagi kata jarak. Dan bila saat itu terjadi, kita akan menyadari bahwa…

Jarak bukanlah pembatas. Jarak adalah penghubung, yang membuat jeda jadi nyambung.”

Sabar, Sayang.

Jaraklah yang mendewasakan kita. Ya, kadang jarak menyadarkan kita tentang seberapa berharganya sebuah pertemuan, bagaimana cara menjaga hati agar tak saling merasa kehilangan satu sama lain, juga betapa berartinya keberadaan dalam pertemuan. Hm.. Jaraklah yang kelak akhirnya membuat kita bersepakat untuk ‘saling memaksimalkan sebuah pertemuan, sesingkat apapun itu’.

***

Adalah jarak yang datang membentangkan.

Membawa rindu yang kerap membelenggu. Berpadu dengan resah yang terasa semakin menggelisahkan. Hingga tak jarang ia mendatangkan gejolak dalam hubungan kita sebab telisik curiga.

Maaf, Sayang. Jika harus ku katakan berulangkali bahwa aku tetaplah wanita biasa yang baru saja belajar makna bijaksana. Setegar apapun aku di matamu, belum tentu aku benar-benar setegar itu. Mungkin kau tak pernah tahu seberapa kuat aku membangun benteng kepercayaan saat kamu jauh dariku. Sebab namamu menjadi alasan aku masih di sini. Menjadi sekuat aku yang bahkan belum pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku hanya tak ingin membuatmu menjadi terlalu sibuk denganku, membuatmu khawatir. Sebab sebelum bersamaku, kau telah punya duniamu sendiri. Aku tak akan merebutmu dari duniamu. Sebab kebahagianmu adalah Surga bagiku. Kau bahkan tak pernah tahu aku diam-diam melipatgandakan syukur saat sekedar melihatmu tersenyum, 'kan?

***

Adalah jarak yang terus memburu.

Berlomba dengan waktu yang berlalu begitu saja tanpa makna. Semua hanya semakin samar. Samar di mata, samar di hati. Dan di atas keyakinan yang semakin rapuh karena jarak, doaku masih sesederhana kemarin; adalah semoga yang kau semogakan masih sama, yakni aku.

***

Pada satu titik di mana aku hanya mampu mendengar sekitarku, aku diam. Menikmati sepi yang datang memeluk. Membayangkan saat kamu meyakinkanku. Ya, hanya bayangan. Setelahnya aku bingung. Limbung. Semakin menyalahi diri. Sedari tadi yang ku tahan tumpah sudah. Aku pun tak mengerti mengapa harus ada air mata. Mengapa harus sampai sedalam ini. Ternyata, perjalanan kita sudah berada pada tahap di mana jiwa dan rasa turut serta.

Aku tak pernah menghalangi suara angin yang mengoyak kesabaran. Pun tak pula menyangsikan ia datang menerkam kesetiaan. Tenanglah, Sayang, aku masih menjaga simpul setiaku padamu. Masih… dan akan selalu. Semoga kau pun melakukan hal yang sama di sana.

Tak usah risaukan, aku akan selalu baik-baik saja. Kamu, fokus dulu pada urusanmu di sana.

Ya, biar kau bisa segera pulang.

Doaku: semoga kamu selalu diberi kesehatan, mengemban amanah dan dilancarkan segala urusannya. Sejauh apapun jarak, doa pasti sampai, 'kan?

***

Menunggumu adalah keputusan terindah yang pernah ku pilih. Aku akan selalu setia menanti kepulanganmu. Akan ku siapkan minuman penghangat dan makanan pengganjal untukmu.

Kau tak lupa jalan pulang, bukan?

Salam rindu terhangat,

dari gadismu (yang sebenarnya sangat rindu)