Sebulan yang lalu, teman baikku, sebut saja KLIA, nangis habis-habisan. Kebetulan aku lagi di Bandung, liburan bareng keluarga, ketika dia mendesah-desah dan tersedu-sedan di Whatsapp sementara aku sedang menyimak asyik kekonyolan Jimmy Fallon dan Jennifer Lopez di televisi kamar hotel.

Alasannya sih, gara-gara posting Facebook salah satu teman sekelasku. Sebut saja si teman ini JAL. JAL kebetulan akrab sekali dengan KLIA. Mereka ini saking akrabnya, mereka sampat bela-belain pergi ke konser Black Eyes Peas bareng-bareng pas grup musik itu datang ke Jakarta, meski ditemani ortu.

Isinya juga nyesekin banget. Baca deh:

Kalo emang lu ga ada topik buat jadi obrolan pas ketemu org yg gw pada kenal, bisa ga gausah larinya ngomongin orang? Bisa ga gausah bocor mulutnya? Kalo emang lu orangnya ga seru, gausah sok seru. Nyari topik malah jadiin orang lain korban. Dipercaya megang rahasia koq malah ga tau diri. Udah tau salah, nyalahin orang mulu kalau dikasih tau… Ngelak aja udah terus. #AhSudahlah

Itu aku pas baca pertama kali, aku langsung bingung. Aku langsung tanya sama KLIA: "Lu emang ada masalah apa sama dia?"

Advertisement

Dia jawab, "Enggak tahu! Justru itu aku enggak ngerti masalahku di mana… Mungkin gara-gara si AB… Yang kita ngomong soal bubur ayam di depan vilamu itu… Katanya dia tersinggung, dan aku yang disalahin. Padahal dia sendiri yang ngomong…"

Soal kasus AB, JAL sendiri ngomong, kalau AB, sebut saja begitu, paling anti makanan warungan gitu. Takut sakit katanya. Dan dulu banget, pas masih SMA, AB pernah ngomong, bahwa dia itu paling anti sama yang namanya 'angkringan', 'warung', pokoknya sesuatu yang menurut dia itu jorok deh.

Padahal makan 'angkringan' dan nge'warung' itu relatif dalam kehidupan orang Indonesia. Tapi ini kadar 'jijay'nya si AB sudah mencapai taraf Paris Hilton. Gimana enggak? Masa dia di kedai Rice Bowl Mall @ Alam Sutera aja ber'iyuh'iyuh' sih? Lakuinnya di depan mantan guru lagi! Ironisnya, AB sendiri yang millih makan di Rice Bowl!

Sebenarnya sih masih mending kalau dia ini cewek. Kebetulan ada tuh di sekolah, jenis cewek yang paling ogah makan angkringan, maunya makan di restoran semacam Luke Mangan Steak & Grill The Plaza. Tapi si AB ini cowok!!

Ini sih, cowok super memalukan. Waria aja kalah sama dia!

Balik ke kasus. Dulu, pas aku mau menyewa vila omaku di Puncak, yang ternyata berbuntut tidak jadi lantaran ternyata sudah keburu disewain sama tim dansanya, aku kasih tahu yang mau pergi, kalau persis di seberang hotel, persis sebelah vila, ada warung bubur ayam enak banget!

Bayangin deh, pagi-pagi, udara Puncak dingin menggeragas suhu tubuh, eh tahu-tahu ada bubur ayam habis dimasak, dianterin sama si mbak yang jualan dibantuin sama penjaga vila, dihidangkan di depan kami-kami para manusia bertampang suntuk saking kedinginan. Apalagi di dalam buburnya itu, ada ayam suwir banyak, kecap asin dan cuka sedikit, kuah ayam yang hangat untuk menambah rasa, dihidangkan dengan kacang asin dan kerupuk wanra-warni. Apa ga bikin hati berbunga-bunga tuh?

Si AB kebetulan salah satu yang ikutan staycation di vila ini. Nah aku sama KLIA khawatir dia ga mau makan bubur ayam warungan. Apalagi ankanya anti-jijay. Tapi kan kasihan, dia makan Indomie Kuah semangkuk sendirian padahal di sebelah kiri-kanan dia ada yang lagi makan bubur ayam hangat.

Pas ditanyain KLIA, si AB cuman 'oh oke bisa lah enggak apa-apa'. Tapi pada dasarnya aku enggak yakin. Si AB bisa salahin aku kalau seandainya dia jatuh sakit sehabis pulang dari Puncak, padahal yang lain enggak kenapa-kenapa.

Nah dari situ deh kasusnya dimulai. Si AB relay ke JAL kalau KLIA tuh kesannya 'menurut dia gua ga bisa makan'. Semenatar si JAL yang sugesti ke KLIA untuk ngomong ke AB pertamanya, eh tahu-tahu malah jadi berbalik mendukung AB.

"Lu sih! Padahal udah tahu dia ga doyan begituan!"

"Lha? Bukannya elu sendiri yang sugesti nanya dulu ke dia!?"

"Kapan?! Gua ga pernah ngomong gitu!!" bantahnya.

Padahal KLIA sendiri dikasih tahu sama JAL begitu. Lewat Skype video call lagi!

Dari situ mulai masalah. Si KLIA minta maaf langsung ke si AB jika ngerasa tersinggung. AB sih ya OK-OK aja, tapi ternyata dia ngomong apa ke JAL, jadi sempat adu tuduh-bantah diantara bertiga ini. Parahnya lagi, JAL malah ngeside sama si AB. Jadilah mereka ternyata diam-diam menikam KLIA dari belakang, seakan-akan semuanya itu jadi salah dia.

Sebenarnya, aku enggak mau ngomongin orang. Tapi memang kalau mau jujur sih ya… JAL itu punya sifat yang jelek sekali. Bagi dia, teman itu 'habis manis sepah dibuang'. Sifat yang sudah kelihatan banget dari jaman aku seangkatan dengan dia. Dulu saat aku SMP, dia memang ga terlalu akrab sih sama aku.

Dia, sepengetahuanku, sempat temenan sama satu anak namanya CK. Tapi begitu lihat ada manusia baru, dia langsung membuang yang lama, so ya CK dibuang sama dia.

Dan ini berlanjut terus sama yang lain.

Sifat ini mirip banget sama salah satu karakter Enid Blyton di novel seri St. Clare, yang cuma muncul di salah satu buku. Lupa judulnya…

AB juga sih, punya sifat jelek. Selain sifat jijaynya itu, dia mempunyai lagak seperti sok miliader OKB begitu. Sifat yang paling aku gak tahan, dan paling dibenci sama salah satu temanku.

Temanku yang keturunan Taiwan-Padang pernah cerita bahwa waktu dia sekolah SMA dulu, dia pernah ketemu satu anak yang gayanya saking sengak ala OKB gitu, hampir berantem fisik di lapangan basket sekolahnya!

"Diskors berapa lama lu?" tanyaku.

"2 minggu! Masih bagus sekarang ga ketemu sama tuh anak!" jawabnya pahit sambil mengepalkan tinju.

Nah, dua manusia bersifat jelek bersatu, dan celakanya, mereka adalah tetangga selama AB kuliah di Inggris, lantaran JAL juga sama-sama kuliah di sana meski berbeda tempat! AB sekarang sih sudah for good (mimpi buruk anak-anak Indonesia yang kuliah di luar negeri, yang kepingin berkiprah di negeri orang tapi orang tua ga pernah kasih ijin), sementara JAL masih di sana, kuliah enggak selesai-selesai.

Dari sini yang bikin aku bingung sekaligus kesal. KLIA sempat meminta maaf sama JAL, meski secara tidak explicit, soal AB. Nah, si JAL nanya gini ke KLIA: "Emangnya lu kepikiran ya?"

"Iya…"

"Gimana enggak? Lu kan nganggur," jawabnya santai.

Dueng!

Memangnya siapakah anda, sampai harus memikirkan anda? Dia juga ada kerjaan lain, kali!

******

Dari situ aku sudah bisa menduga, bahwa JAL sudah membuat kesalahan fatal.

Satu. Sebenarnya, posting-posting begituan di Facebook juga sudah tidak jaman lagi. Kini seusia kita kebawah sudah kabur ke Instagram atau Snapchat. Memangnya ada yang ngelike, posting begituan? Belum tentu. Malah ditertawakan. Kesannya koq kamu p***y (penakut/cemen) banget sih?

DiLike, ternyata sama AB dan pacarnya doang. Ya elah! Cuma dua orang itu doang apa gunanya dong?

Kalau mau, ya mbok ngomong langsung. Aku selalu bilang sama semua orang, kalau ada yang tidak suka, ngomong aja. Aku menerima koq. Apa salahnya? Aku bukan Donald Trump, yang suka membantah layaknya umur 5 tahun. Truth hurts, but you have to learn to accept it. Doesn't matter if you like it or not.

Kedua, jangan sekali-kali ngomong 'Lu kan nganggur' dengan nada santai (+sok), ke orang. Siapakah anda, bisa seenaknya ngomong begitu dengan santai? Self-made millionaires? Politikus? Beyonce? Jika menurutmu adalah ya, saatnya berkaca. Anda bukanlah manusia seperti mereka. Apalagi mereka masih punya wibawa dalam berbicara daripada anda! Ngomong gitu malah bukannya membuatmu serasa hebat/berwibawa, malah membuatmu ditertawakan!

AB juga di pihak salah sih menurutku.

AB itu menurutku orangnya enggak bisa jujur. Dia mungkin memang merasa sungkan, tapi KLIA sudah berkali-kali ngomong, kalau kalau dia mau jujur seandainya dia enggak suka sesuatu, ya ngomong saja langsung. Sama aku juga boleh. Kan kita bisa pikirkan baik-baik bagaimana jalan keluarnya.

Tapi apa daya. Nasi sudah menjadi bubur.

******

KLIA bertanya padaku, "Menurut lu, itu teman bukan? Is it worth my time thinking about them?"

Aku menggeleng. "Itu bukan teman. Worth your time? Buatku sih enggak. Mengapa?"

"Gimana ya? Aku kepikiran terus nih…"

Aku sih tidak heran mengapa demikian. KLIA temenan dengan JAL sudah lumayan lama. Tapi namanya waktu jalan terus, manusia pelan-pelan berubah, terutama dari segi pikiran. Ada yang berpikiran jauh, dewasa, bahkan ada yang tidak berubah.

JAL dan AB adalah satu dari mereka yang tidak berubah jalan pikirannya. Kekanak-kanakkan.

"Sudah saatnya KLIA. Sudah saatnya. Mereka sudah menjadi benalu selama bertahun-tahun, mengapa kau tidak tinggalkan saja mereka?"

KLIA terlihat bingung. Ia terlihat tidak mau meninggalkan mereka, tapi pada saat yang sama, dia juga terlihat siap meninggalkan mereka yang sudah menjahatinya, karena dia sudah terlanjur kecewa dengan apa yang ia ketahui.

Teman-temannya yang lain juga mengatakan hal serupa, yaitu meninggalkan mereka. Cut them out of his life.

"Yang lain juga ngomong gitu. Blokir Facebooknya lah, segala macam… Do you think I can do it?"

"Pasti bisa. Tunggu apa lagi?" tanyaku balik.

******

Jika kamu tahu kalau ada yang menjahatimu, baik terang-terangan, ataupun dari belakang, dan sakitnya itu tidak tertahankan, kenapa dan mengapa kamu mesti tetap berteman dengan mereka?

Saatnya kamu meninggalkan mereka jauh ke belakang. Tataplah matahari terbenam sambil membuang yang lama. Melangkahlah, dan tinggalkan mereka.

Jika mereka tidak ada gunanya dalam hidupmu, buat apa kamu tetap pertahankan? Biarkan semua memori persahabatan dengan mereka yang sudah menjahatimu itu, berserta langkah kaki yang terpatri di pasir memori, hanyut terbawa arus kehidupan.

Cut them out from your life! Your real ones are out there! Come and get it!