Ada hal yang harus digaris bawahi kenapa kita harus terpisah pah..mah..sebab membahagiakan kalian adalah tujuanku yang paling mutlak. Rasanya baru kemarin aku tiba di jogja eh sekarang sudah hampir 2 tahun, mungkin belum begitu lama hijrahku dari sulawesi ke jogja tapi bagi papah perpisahan ini sangat tidak mudah. Setelah kuliahkku di salah satu perguruan tinggi di Sulawesi Tenggara kuselesaikan, ternyata mimpiku bukan hanya sampai di situ hingga mimpi itulah yang mengantarkanku sampai ke sini.

Papa, apa kau tau rasa rinduku? Mama, apa kau tau sakitnya merindukanmu? Ingin sekali kuraih tanganmu dan kucium punggung tanganmu lalu kau kecup keningku.

Malam sebelum keberangkatanku ke Jogja, kurebahkan ragaku dipembaringan empuk yang dilengkapi pegas dalam ruangan yang sengaja papa buatkan untukku. Lupa pintu kututup rapat, sayup-sayup mataku tapi masih bisa kurasakan sosok yang mengintip dari balik pintu, kutau itu pasti papa yang seperti biasa datang untuk menyelimuti dan mematikan lampu kamarku. Tapi kala itu tidak, papa duduk di sampingku kulihat matanya berkaca-kaca lalu beliau meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipiku. Tak satupun kata terucap darinya hingga dibawaku masuk dalam hangat peluknya, seketika tangisku pecah, debar dada papa menyakitkanku rasa bersalah seketika menyelinap masuk ditengah-tengah tangis, rasa bersalah karenaku papa menangis. Dengan suara parau papa berbisik dengan sedikit kencang “ Andai saja papa boleh egois, papa akan meminta untuk kamu tetap di sini saja, andai saja kamu belum sedewasa ini, papa akan minta untuk kamu tetap dalam rumah saja, tapi Demi Allah papa sangat menyayangimu nak melebihi apa yang kamu tau”. Papa, mengingat momengingat momen itu saja aku gemetar saking rindunya, mungkin dihidupku itu adalah bagian paling romantis yang pernah ada, padahal selama hidupku aku tau papa adalah yang paling pantang terlihat menangis tapi malam itu aku tau papa adalah pria paling romantis yang kumiliki.

Di ruang depan kamar terdengarnsuara terisak-isak sudah pasti itu mama, aku keluar dari pelukan papa lalu berlarian kecil ke arah mama kupeluk erat seerat aku memeluk papa, mata mama yang sudah sembab mulai mengusap air mataku dan membelai lembut rambutku, suara mama yang tak kalah parau dengan suara papa berkata lirih “ Nak, mama bukannya tak menyayangimu sehingga mama mengizinkan kamu berangkat, tapi ini demi masa depanmu nak, mama bukannya tega berpisah denganmu nak, jujur sangat berat tapi mama ingin kamu jadi kebanggaan keluarga”.

Sepertinya sungai kecil di mataku akan mengalami kekeringan, tiada henti mengalir meluapkan rinduku. Papa, Mama, masihkah kalian bisa tidur nyenyak sambil mengkhawatirkanku? Masihkah kalian bisa makan enak sambil memikirkanku? Masihkah kebutuhan kalian bisa terpenuhi sedangkan tabunganmu telah ku kuras habis karena biaya pendidikan yang kutempuh saat ini? Masihkah fisik kalian kuat untuk bekerja? Masihkah senyum kalian mengambang tanpa aku di hadapan kalian?

Advertisement

Setelah semua yang kalian berikan lalu apa yang pernah kupersembahkan untuk kalian? Aku hanya bisa mengeluhkan kesusahanku di sini tanpa tau kesulitan apa yang sedang kalian hadapi di sana, tapi dengan nada pelan kalian selalu berkata “nanti Papa dan Mama usahakan kalau untuk biaya, itu urusan kami nak, kamu cukup kuliah dengan tenang”.

Aku mengeluh panas, keluhkan dingin, keluhkan capek, keluhkan sakit, keluhkan lapar, padahal kalian terjang terik dan lebat hujan untuk bekerja demi aku. Mungkin terkadang kalian telat makan karena ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan, tapi dahsyatnya kalian tak pernah mengeluh lelah. Bahkan aku meminta gadget terbaru sedang kalian saja cukup dengan ponsel yang sekedar untuk sms dan telepon itupun mungkin di riwayat panggilan kebanyakan namaku.

Papa, Mama, terima kasih untuk keikhlasan kalian. Terima kasih papa telah relakan tubuh kekarmu banting tulang demi aku, terima kasih mama telah relakan tabunganmu demi kebutuhan dan keinginanku terpenuhi. Di usia kalian yang semakin senja kalian masih saja harus bekerja demi menyekolahkanku sedangkan para orangtua seumuran kalian tengah menikmati masa tua dengan bermain bersama cucu-cucunya, duduk manis di rumah, dan banyak beribadah. Tapi yakinlah Pa, Ma, pengorbanan kalian sungguh bernilai ibadah.

Bersabarlah dengan rindumu, sedikit lagi aku akan segera pulang!