Masih dalam degup yang selalu bergetar ketika beberapa huruf pembentuk namamu disebut. Kemudian ilusi berjalan membentuk urutan kejadian – kejadian tak disengaja yang mempertemukan kita. Dalam satu sapaanmu di depan gedung kampus, hai. Lalu salam – salam lain yang tak bisa kuhitung lagi, saking banyaknya.

Ah. Kamu. Dalam setiap ketaksengajaan sebuah pertemuan kemudian menjadi candu. Candu untuk menatap lekuk – lekuk wajah 20 tahunan itu. Kemudian membentuk kenangan – kenangan bernama canda.

Sejak kita menciptakan kesengajaan untuk pertemuan. Ternyata kamu semenyenangkan itu. Lebih dari ekspektasi – ekspektasi ku selama ini. Jauh. Tapi setan dengan pandai menggoda. Menyusup – nyusup dalam aliran darah dan oksigen yang setiap detik kita hirup.

Pertemuan itu rakus. Sekali dua kali kemudian menjadi lagi dan lagi. Tak henti – henti hingga hampir saja aku dan kamu menjadi kita. Oh tidak. Seketika kamu tersadar. Rasa yang terlanjur melekat bak lem yang susah sekali dihapus ketika sudah rekat.

Aku bisa saja memanjamu seperti yang lain, tapi Aku menggelengkan kepala. Mudah saja kita membukukan setiap momen – momen indah, tapi kamu memilih membawaku ke masjid, kita belajar bersama pada ustad. Kita bisa saja menghabiskan waktu sesuka hati bersama, tapi kita lebih memilih menyisakan waktu sangat sedikit untuk itu.

Advertisement

Kita hanya manusia, nafsu bertebaran dimana – mana. Untukku dan untukmu semoga masih dalam lindunganNya. Dalam batas – batas sabar yang tak hingga sampai Sang Pencipta memberikan waktu terbaiknya untuk kita sebagai sejoli yang halal. Jangan putus asa menyelipkan namaku dalam doamu, bukankah Allah akan selalu mendengar?

Untuk setiap sabar yang terkadang menjadi sesak, bertahanlah. Iman akan menjadi pelindung yang paling membahagiakan. Dan waktu tidak akan berkhianat pada hamba yang bersabar. Entah berakhir denganmu atau tidak, tapi bahagia di jalanNya itu mutlak.