Aku bertemu dengannya di awal musim gugur. Ketika pohon Maple mulai menjatuhkan daun pertamanya. Daun berwarna jingga ke kuningan, persis seperti warna langit di setiap sore yang cerah.

Aku masih mengingatnya, dengan tergesa dia menerobos beberapa orang yang masih berlalu lalang di sekitar halte. Nafasnya masih memburu ketika dia memberhentikan langkahnya tepat di sampingku. Dengan nafas yang sedikit terengah dia menyandarkan separuh tubuhnya di tiang penyangga atap halte. Beberapa kali dia melirik jam tangannya. Beberapa kali juga dia mendengus pelan.

Lima menit kemudian. Bus mini berwarna putih berhenti tepat di depan halte. beberapa orang berebut untuk naik ke dalam bus. Namun, dia masih tak bergerak. Dia masih menyandarkan tubuhnya di tempat yang sama. Baru setelah bus meninggalkan halte, dia beranjak dan duduk di bangku halte. Kini hanya aku dan dia. Sama-sama duduk di bangku halte yang panjang.

Aku hanya mendengar suara angin yang semilir meniup poni rambutku yang hanya sedikit.

Lima belas menit setelahnya, bus kecil kedua muncul. Bus yang aku tunggu dari satu jam yang lalu. Bus yang mengantarku ke gereja Santo. Seperti bus yang sebelumnya, berhenti di depan halte lalu beranjak lagi setelah menaikkan penumpang. Tidak terlalu ramai, namun aku mendapat tempat duduk di bus bagian kiri dekat jendela. Aku bisa melihatnya. Melihat dia masih saja duduk di bangku halte dan masih sering melihati jam tangannya. Mungkin sedang menungu temannya, batinku. Sampai pada bus yang aku tumpangi meninggalkan halte, aku masih melihatnya hingga ada sebuah tikungan yang memutuskan pandanganku terhadapnya.

Advertisement

***

Pada hari sabtu berikutnya. Aku kembali melihatnya. Tetap pada posisi yang sama. Dia menyandarkan tubuhnya di tiang halte ketika baru datang dan duduk di bangku halte ketika halte sudah agak sepi. Dan itu yang selalu aku lihat di hari sabtu sore.

“Maaf, apa anda sedang menunggu seseorang?”

Aku memberanikan diri untuk bertanya. Meski aku sedikit ragu.

Dia menatapku dengan sedikit mengerutkan dahinya. Aku tahu dia pasti bingung denganku, dengan pertanyaanku. Akhirnya aku mengulangi pertanyaanku lagi.

“Iya, aku sedang menunggu seseorang,” jawabnya datar.

Mendengar jawabannya datar aku tidak berani bertanya apa-apa lagi. Tetapi…

“Aku sedang menunggu kekasihku.” Dia melirik yang tangannya, lagi. “Katanya dia akan datang di awal musim gugur. Tetapi sampai minggu ke delapan dia belum juga datang.” Raut wajahnya berubah menjadi sendu. Aku jadi kasihan melihatnya.

“Kau tidak punya nomor hp-nya?”

Dia menggelengkan kepalanya.

“Mungkin dia sedang ada keperluan yang membuatnya terlambat.” Aku sedikit menghiburnya.

“Aku harap begitu,” katanya sambil tersenyum getir.

Hening.

Sampai pada bus yang aku tunggu datang. Membawaku pergi dan meninggalkan dia menunggu kekasihnya.

Aku sedikit mengerutu dalam hati. Kenapa aku tidak bertanya siapa namanya? Ah, aku mengumpati diriku sendiri. Aku harus menunggu sabtu depan untuk kembali bertemu dengannya dan berkenalan dengannya. Itu pun kalau kekasihnya belum datang.

***

Pada hari sabtu berikutnya aku berhasil mengetahui namanya, Mandala.

Dia selalu semangat menceritakan tentang kekasihnya, Meylan. Bagaimana mereka dulu bertemu. Menjadi teman dekat, kemudian melanjutkan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih. Hingga pada akhirnya mereka harus berpisah. Mereka sama-sama mendapat beasiswa, namun di universitas yang berbeda, dengan kota yang berbeda pula. Pada hari pertama musim gugur, di halte ini mereka berpisah. Mereka juga berjanji, di setiap musim gugur mereka akan bertemu di halte ini.

Janji mereka hanya berjalan dua tahun saja. Pada tahun ketiga, Meylan terlambat datang. Dan pada tahun keempat, saat ini, musim gugur sudah berjalan enam minggu, namun Meylan belum juga datang.

Ketika aku bertanya kenapa dia tak menghampiri Meylan di tempat tinggalnya. Mandala hanya menjawab, “Dulu kami sudah berjanji akan selalu bertemu di sini, di halte ini!” Aku hanya mengangguk paham mendengar penjelasan Mandala.

Pada hari sabtu ketujuh, aku sengaja membawakan beberapa kue kering untuk Mandala. Tidak banyak, hanya satu toples bening kecil. Dia bilang, tahun lalu ketika Meylan akan pergi, Mandala sempat memberika kue juga untuk Meylan. Tetapi kue yang diberikan Mandala kepada kepada Meylan adalah kue basah. Karena Meylan suka makan kue basah.

Ah, aku sedikit membuka luka lamanya.

“Aku boleh ikut kau ke gereja?”

Aku sedikit melongo mendengar ucapannya.

“Kenapa bengong? Boleh tidak?” tanyanya lagi.

“Emh… tentu saja,” jawabku singkat karena masih kaget.

Dan ketika pulang dari gereja, Mandala mengajakku mampir dulu ke toko buku dekat halte. Katanya seusai Mahgrib, saat bus yang biasa membawa Meylan pulang tidak menurunkan Meylan di tempat yang seharusnya, Mandala pergi ke toko buku di dekat halte, di tempatku dengan Mandala saat ini.

Jujur saja, semenjak aku dan orang tuaku pindah rumah enam bulan yang lalu, aku jarang keluar rumah. Paling jauh hanya ke gereja yang bisa di tempuh 10 naik bus mini. Lagian di daerah tempat tinggalku saat ini sangat sepi. Maklum perumahan elit, jadi warganya kurang bisa bersosialisasi dengan tetangga sekitarnya.

Aku melihat Mandala berjalan ke rak buku yang isinya penuh dengan karya sastra modern.

Lumayan banyak juga bukunya, batinku.

Mandala mengambil salah satu novel yang sedang naik daun saat ini. Setidaknya itu pendapat dari teman-teman di kampusku. Aku sendiri kurang begitu suka membaca karya sastra modern. Aku lebih suka membaca karya-karya Ahmad Tohari dan A. A. Navis.

Kini bukan hanya hari sabtu, tetapi hampir di setiap sore aku menemani Mandala menunggui kekasihnya datang. Sembari menanti, kami saling berbagi cerita. Saling mencurahkan isi hatinya. Bahkan aku juga baru tahu kalau ternyata Mandala pernah menyukai seorang lain selain Meylan. Dan itu dilakukan saat status hubungan Mandala dan Meylan adalah pacaran.

“Aku hanya mengaguminya. Aku tetap mencintai Maylan!” tegasnya.

Aku percaya saja. Kalau Mandala tidak mencintai Meylan, kenapa dia masih menunguinya hingga minggu kesembilan musim gugur.

Musim gugur, segera berakhir dan sang kekasih yang dinanti belum juga datang. Kasihan sekali Mandala. Perempuan yang menjadi kekasihnya pasti perempuan yang sangat beruntung. Meski Maylan datang terlambat, Mandala masih menunggunya dengan sabar. Mandala yakin kekasihnya akan datang pada musim gugur kali ini.

Dan aku mengamininya.

***

Musim gugur akan segera habis empat minggu lagi. Namun, Meylan belum juga datang. Berkali-kali Mandala berkunjung ke rumah Meylan, tentu saja aku menemaninya. Sambutan kedua orang tua Meylan juga sangat ramah. Mereka pun juga mengatakan kepada kami kalau Meylan juga belum memberi kabar. Biasanya awal musim gugur Meylan sudah pulang. Tetapi kali ini, musim gugur akan segera habis, Meylan belum juga datang.

Aku melihat kecemasan dari wajah Mandala. Aku jadi kasihan melihatnya.

Aku mencoba menanyakan nomor hp Meylan atau kontak apa pun yang bisa menghubunginya. Tetapi percuma, biasanya Meylan yang menelponya. Mandala pun juga tidak memiliki nomornya.

Hemh….

Aku baru sadar kalau Mandala dan kekasihnya tidak saling memiliki nomor hp.

***

Minggu depan sudah minggu terakhir musim gugur. Sampai saat ini pun Meylan belum juga datang. Raut wajah Mandala kian hari kian terlihat muram. Antara rasa khawatir, rindu dan rasa yang sulit untuk didiskripsikan bercampur menjadi satu, melemahkan semangatnya.

Sudah kucoba untuk memberinya semangat. Hasilnya? Sama saja, palingan Mandala hanya tersenyum sedikit dan kembali muram wajahnya. Ketika kuajak ke toko buku, dia tak seantusias biasanya. Lebih cenderung aku yang menanyainya dan mengajaknya berbicara.

“Aku takut dia tidak datang!” keluh Mandala dengan wajah muramnya.

“Aku yakin dia akan datang. Mungkin dia akan datang sabtu nanti.” Aku sedikit memberi semangat meski aku tahu itu tak akan berpengaruh apa-apa.

“Tapi, sabtu depan adalah hari terakhir musim gugur,” katanya sambil menyandarkan kepalanya di bahuku. Kurasa dia akan menangis.

Benar dugaanku. Mandala menangis. Ini kali pertama aku melihatnya menangis. Mungkin karena dia seorang lelaki, jadi aku beranggapan dia tidak akan menangis. Dan anggapanku ternyata salah.

Aku mengelus rambutnya yang sedikit kusam. Aku bisa merasakan kesedihan yang dia alami saat. Menanti kekasih yang belum juga datang.

Beberapa hari terakhir, Mandala selalu datang lebih awal dan pulang lebih lama. Berharap kekasihnya segera datang.

Hari ini, hari sabtu dan hari terakhir musim gugur. Sedangkan besok musim sudah berganti dengan musim dingin, di mana salju sebagai inti dari cerita cinta.

Aku dan Mandala sudah standby di halte dari jam dua siang. Sebenarnya percuma juga datang jam dua. Bus yang datang dari kota tempat Meylan kuliah hanya datang sekali pada kisaran jam setengah empat sampai jam setengah lima saja. Dan selalu seperti itu tiap harinya.

Aku melihat wajah Mandala yang menegang. Berkali-kali dia melihat ke arah datangnya bus. Namun, bus yang ditunggunya belum juga datang.

“Masih jam tiga, Nda!” kataku gemas melihat tingkah Mandala.

“Aku takut!”

Menjelang jam setengah empat sore. Wajah Mandala semakin pucat dan terlihat gusar. Pikirannya berkecambuk, aku tahu itu.

Halte sudah mulai ramai. Mandala tak menghiraukannya. Dia berdiri tepat di barisan paling depan. Sering kali dia tertabrak oleh orang-orang yang berebut untuk naik bus ‘idaman’ mereka. Sedangkan aku berdiri di dekat tiang menyangga halte bagian depan. sepertinya di sini tempat yang strategis.

Jarum jam telah meninggalkan angka empat. Bus yang dinanti Mandala pun belum juga datang. Aku melihat wajah letih Mandala. Namun aku tahu Mandala belum menyerah menanti kekasihnya.

Aku melihat bus berwarna hijau daun dan bergambar panda melaju pelan dari arah kanan halte. Aku tahu itu adalah bus yang ditunggu Mandala. Bus yang membawa kekasih Mandala. Aku melihat mata Mandala kembali berbinar.

Bus berhenti tepat di depat halte. Kali ini tak sesepi biasanya. Mandala sudah berdiri tepat di depan pintu bus. Menanti kedatangan Meylan. Hingga pada penumpang terakhir, Mandala tidak melihat kehadiran kekasihnya. Aku melihat wajahnya kembali suram. Lebih suram dari sebelumnya.

Aku menghampirinya. Menepuk pundaknya, memberikan semangat untuknya.

Aku merasakan ada seorang yang mengamati kami, aku dan Mandala. Tanpa diberi instruksi, aku dan Mandala membuang pandangan kami ke sisi kiri halte. Di sana aku melihat sesosok perempuan berjilbab biru muda dengan kaca mata berbingai tebal berdiri. Kemudian tersenyum, kepada kami.

Aku merasakan senyum Mandala mengembang. Mandala berlari menghampiri kekasihnya, memeluknya dengan erat. Aku bisa merasakan kebahagian sekaligus kelegaan yang dirasakan Mandala.

Perlahan aku melangkahkan kakiku mundur menjauh dari mereka berdua. Aku membalikkan badan dan tersadar sesuatu, seharusnya aku pergi ke gereja untuk Misa sore ini.