Emak dan Bapak, panggilan kami untuk Simbah Putri dan Simbah Kakung kami tercinta. Emak Kamsiyah dan Bapak Noto Prayitno. Kini kerinduanku pada mereka hanya dapat kuhadirkan lewat doa-doa, semoga kedamaian selalu menyertai mereka disana.

Dari Emak dan Bapak, aku memperoleh pembelajaran yang sangat berharga, bahwa sebuah kebaikan tidak akan putus meskipun si penebar kebaikan telah lebih dahulu dipanggil Oleh-Nya.

Sebuah foto berpigura keemasan berukuran 20R yang di pasang di ruang tengah. Berlatar belakang sebuah rumah berbentuk limasan tempo dulu, nampak seorang laki-laki berpakaian safari dan perempuan berkebaya, sepasang renta duduk sederhana dikursi anyaman rotan sederhana pula. Ekspresi mereka datar namun teduh, mata mereka sayu namun memperllihatkan ketegasan. Urat-urat mereka yang nampak karena kulit mereka yang memang sudah keriput. Ah….makin lama kupandangi air mata ini mengalir semakin deras tanpa dapat kubendung, ternyata aku benar-benar merindukan mereka.

Aku merindukan belaian hangat mereka, aku rindu dekapan kasih sayang mereka, aku rindu nasehat mereka, cerita-cerita klasik tentang perjuangan mereka, bau khas mereka, aku ingin emak memanggilku kembali dengan suara khas cemprengnya, aku rindu bapak dengan suara bass memanggilku “nduk”. Tuhan, aku benar-benar merindukan mereka.

Betapa beruntungnya kalian yang masih dapat bersama nenek atau kakek….Sebuah momen yang hanya bisa kukenang. Maka sebagai ungkapan rindu akan sedikit kukisahkan tentang Simbahku, tentang Emak dan Bapak.

Advertisement

Abah dan Ibuk, begitu aku memanggil kedua orang tuaku. Mereka sama-sama berprofesi sebagai guru. Kami tinggal di Magelang. Meski demikian Abah dan Ibuk, keduanya sama-sama di tempatkan di Temanggung. Sedang Emak dan Bapak tinggal di Lereng Gunung Sumbing, tepatnya di Desa Kebondalem Kecamatan Windusari. Meski masih sama-sama di Magelang namun jarak dari rumahku sampai rumah simbah sangat jauh. Belum lagi untuk sampai kesana kami harus menyeberang Sungai Clapar sehingga kendaraan harus dititipkan di rumah penduduk sebelum kami menyeberang. Itupun masih harus berjalan kaki kembali selama kurang lebih setengah jam. Setidaknya itu yang kuingat dulu waktu aku masih kecil, saat mereka masih sering-sering dapat dikunjungi.

Dan kini rumah itu sepi, tak dapat kudengar lagi suara radio yang biasa Bapak setel saat menjelang maghrib untuk memastikan waktu Azan Maghrib dan dini hari untuk memastikan waktu Shubuh. Serta siang hari suara seorang wanita pembaca berita dengan suara khas, dari stasiun radio RRI. “Nduk, tulung radio kui setelno” kebiasaan Bapak menyuruhku menyalakan radio jika aku menginap di sana.

Aku dan Kakakku, Mba Rina hampir selalu menghabiskan waktu liburan di Rumah Simbah. Kepulangan orang tua kami yang kadangkala sampai larut sehingga kami lebih memilih berada di tempat Simbah menghabiskan hari-hari. Melihat pemandangan dari Tegalan, angon kebo, berlari-larian menangkap ayam, itu semua lebih asyik daripada sekedar menonton televisi di rumah.

“Piye Nok Sekolahmu?” pertanyaan rutin Emak di hari pertama kami menginap disana, sambil membobokkan kami yang lelah akibat perjalanan panjang. Listrik hanya dapat membendeng dari rumah tetangga sehingga jatah lampu hanya beberapa watt saja waktu itu. Namun meski remang-remang aku dapat melihat sinar mata emak yang menyala-nyala bahagia akibat kedatangan kami. Maka kami bergiliran menceritakan nilai-nilai dan ranking yang kami dapatkan di sekolah. Terkadang menceritakan teman-teman kami yang nakal. Dan aku masih ingat benar gaya tertawa Emak, “khe,….khe….khe…..” dan akhirnya yang terlihat hanya gigi ompongnya yang membuat kami lebih geli lagi. Riuh kami ternyata membuat penasaran Bapak. Ia membuka gorden pintu yang berwana kelabu yang entah dari kapan terpasang disitu. “Kok rung bobok nduk cah ayu?” aku yakin sebenarnya ia hanya ingin ‘nimbrung’ bersama kami.

Dan dihari kedua, Emak mulai bercerita kisah klasik mereka. Meski berulang-ulang namun kami tak bosan. Dan cerita itu terpatri di sanubari, menjadi pelajaran hidup yang amat berharga bagi kami. Bapak dan Emak dulunya benar-benar bekerja membanting tulang untuk memperoleh uang. Menggarap sawah milik orang lain dan merawat hewan ternak milik orang lain, kadangkala kambing kadang kerbau. Berpuluh-puluh kilo menggendong hasil ladang hanya untuk menjualnya di pasar. Semua itu demi menyekolahkan anak-anak mereka. Ibuk, dua orang bibi dan dua orang pamanku.

Namun dibalik cerita klasik perjuangan mereka itu, terdapat sinar mata kebahagiaan disana. Aku dapat merasakannya. Mungkin bangga, bahagia, sedih bercampur menjadi satu karena tak jarang mereka meneteskan air mata. Meski kemudian terkekeh-kekeh kembali jika bercerita betapa kerasnya pendirian Ibukku, betapa mbelingnya Om Maksum dan Bulik Siti, Bulik Istiqomah yang banyak makan, dan Om Budi yang banyak omong. Dan akupun ikut geli, dibalik kewibawaan mereka ternyata menyimpan banyak kelucuan.

“Minggu wingi Budi mrene, Maksum jare wulan ngarep” Emak pasti menceritakan anaknya yang datang berkunjung. Kecuali Ibuk, mereka semua berada di luar kota. Maka semua oleh-oleh dari anak-anaknya dipamerkan pada aku dan Mba Rina. “Ki nok, jarik Parang Kusumo seko Budi. Bapak entuk sarung botol terbang” Sumringah sekali wajah mereka mendapat buah tangan dari anak-anak kesayangan mereka.

“Nduk sesuk tak sembelihke pitik yo, ben makmu sing masak” Bapak selalu ingin menjamu kami dengan makanan enak. Sontak kami berbinar-binar mengetahuinya. Lalu kami membantu Emak menyiapkan bumbu. Emak menyalakan luweng dan menyiapkan peralatan-peralatan sederhana mereka untuk memasak. “Nok, pupune nggo de’e, mbakyumu ben dodone” Emak mulai menjatah bagian kami.

Dan dihari terakhir kami disana pasti kami mendapat jatah angpau dari Emak dan Bapak. Mereka tak kompak, bukannya dijadikan satu tapi masing-masing dari mereka memberi kami. Ah baru kusadari, ternyata mereka hanya ingin memperlihatkan betapa sayangnya mereka pada kami.

Hingga saat itu tiba, Bapak dipanggil mendahului kami semua. Aku kelas satu SMP dan Mba Rina kelas 2 SMA. Dan dua tahun setelah itu Emak. Dua minggu setelah kepergian Emak, mereka berdua hadir di mimpiku. Yang kuingat dimimpiku waktu itu, mereka seperti lebih muda dari terakhir aku lihat. Sinar kebahagiaan nampak dari wajah mereka, dan tak sedikitpun terlihat sedih. Maka aku yakin mereka sudah tenang disana.

Baru beberapa tahun ini aku tersadar. Ternyata di balik cerita-ceritanya ada banyak pesan tersembunyi disana. Bahwa sebenarnya mereka sangat merasa bahagia saat anak dan cucunya dapat menengok mereka. Bahwa buah tangan dari kami seperti benda keramat yang tak ternilai harganya. Maka kadang dulu aku merasa heran plastik pun tak sanggup mereka buang hanya karena itu adalah oleh-oleh dari anak dan cucunya. Bahwa meski mereka bercerita tentang perjuangan dalam mencari uang, namun tak sedikitpun mereka mengeluh.

Dan kini aku tak dapat membayangkan hari-hari yang mereka lalui dulu saat aku tak berada disana. Betapa mereka hanya bisa merindu dan berharap salah satu anaknya pulang dan menengok mereka. Betapa kesepiannya mereka saat hanya berdua, ditemani radio butut kesayangan mereka. Dan tak sedikitpun aku ingat bahwa mereka berkata sedih karena ditinggal oleh anak-anak yang telah mereka bawa menuju gerbang keberhasilan.

Lalu aku sadar pula, kalau bukan karena mereka aku tak dapat berada disini. Jika mereka menyerah dengan keadaan maka akupun tidak akan dapat berada di titik ini. Keberhasilan mereka membawa Ibukku menjadi seorang guru sehingga dapat membiayai semua kebutuhanku. Mengenyam pendidikan, berbaju bagus, memiliki kenyamanan dengan semua fasilitas yang kumiliki. Dan kini semua itu hanya dapat kubalas dengan doa. Meski tak sepadan namun aku percaya kebaikan Emak dan Bapak akan Tuhan balas dengan sesuatu yang lebih Indah.

“Dek, maem” panggilan Ibuk, membuat aku tersadar dari lamunanku tentang Emak dan Bapak. Ya, aku masih bersama orang tuaku, Ibuk dan Abah.

Maka kelak, dimanapun aku berada, sesibuk apapun, Ibuk dan Abah haruslah menjadi prioritasku. Aku sangat sadar mereka juga berjuang demi memenuhi kebutuhanku. Karena kelak Ibuk dan Abah tak jauh memiliki rasa yang sama dengan Emak dan Bapak. Sangat menginginkan kami berada di dekat mereka.