Hallo para wanita kuat yang sedang bersembunyi menyembunyikan lara hati di balik topeng kebahagiaanmu? Masih sehatkah hatimu? Masih sanggup bepura-pura seakan semua its fine? Masih mampu tersenyum di balik perasaan yang digantung? Ketika para barisan kawan dan sederet mantan bertanya "masih dengan si dia?" kita dengan tegasnya menjawab "iya dong, masih." Seakan tak ingin tersaingi dan tak ingin ditertawakan mereka bahwa hubungan kita sebenarnya sedang diujung kehancuran, kita masih saja tampil dengan senyum di bibir seolah kita selalu bahagia bersamanya. Tapi kenyataannya?

Ketika kita berpikir "mungkin masih bisa diperbaiki", "mungkin suatu saat dia akan berubah", "ah, hubungan kita masih baru beberapa bulan. masa harus kandas sampai sini? ", sebagian pemikiran wanita-wanita kuat yang mencoba bertahan dengan hubungannya. Dilema smakin besar ketika kita mencoba membahas hubungan ini dengan pasangan kita tapi dia menjawab "aku tetap mencintaimu, dan tak ingin berpisah", apa yang harus kita lakukan? Jika memang cinta, tolong jangan membuat kita terluka dengan semua sikapmu yang membuat kita makin hari makin ragu akan cintamu.

Jangan memksa hubungan ingin terus berjalan jika kau sudah tak mencinta lagi. Aku ingin bertanya pada kalian wanita-wanita kuat, sudah berapa ribuan perasaan yang dihantam dan mau bertahan hanya karena "sudah terlanjur mencinta", kau termasuk? Ya aku pun termasuk. Sudah berapa rasa yang hancur dan mau bertahan hanya karena "sudah sejauh ini perjalananku, aku harus bertahan", kau ya? Aku pun ya. Kalian memang masih mencintai mereka, tapi mereka?

Sebenarnya mereka sudah tak cinta. mereka memang berkata masih mencintaimu tapi tak ada niat melanjutkan hubungan. Bukan karena ada orang ketiga yang lebih dia cintai, tapi karena rasa ingin terus menjalin hubungan denganmu sudah luntur. Mereka hanya takut dan kasihan jika mereka mengatakan hal itu padamu, sedangkan perasaan kehilangan sudah terbayang dibenaknya. Lalu yang terjadi? Mereka salah menyampaikan rasa itu.

Setelah itu yang mereka lakukan ialah dengan menjauhimu, mengabaikanmu, tak peduli akan dirimu lagi, merubah sikap manisnya, jarang menghubungimu seakan kalian tak pernah ada. Dari situ kita sebagai wanita yang awalnya adalah wanita manja wanita beruntung menjelma menjadi wanita pura-pura kuat yang mencoba tetap mempertahankan hubungannya dan mencoba menerima sikapnya yang menyakitkan hati.

Sudahlah, tak usah lagi berpura-pura menjadi wanita kuat, hati kita bukan terbuat dari baja, hati kita bukan batu yang keras meskipun diterpa badai masih tetap utuh dan tegak, menangislah jika ingin menangis, lepaskanlah apa yang harus dilepas, ikhlaskanlah, kau tidak sendiri. Aku mengalami hal itu. Kini aku pun dilanda dilema bagaimana caranya memutuskannya bagaimana caranya meminta kejelasan sedangkan dia jarang menghubungiku dan ketika satu waktu dia menghubungiku perasaan lega dan senang pun muncul bahkan perasaan ingin bertahan masih lagi ada.

Aku harus bagaimana?

Tapi, jangan pernah menggantungkan harapan padanya lagi, berusahalah berdiri sendiri dengan kepala tegak menoleh ke depan, jangan berpegang tangan pada dia yang ingin lari dari kita, bebaskanlah dan biarkanlah dia ketika dia ingin berlari, jika setelah berlari dia tak kembali lagi padamu sampai waktu yang kau batasi, tandanya dia sudah tak menepati janjinya, maka saatnya kau yang belari tapi jangan searah dengannya. Setidaknya dari persiapan yang telah kamu buat kamu tidak merasakan kehilangan sekali lagi.

Sudah cukup penderitaanmu bertahan. Keputusan untuk pergi dan berhenti bertahan tidak akan menyakitinya, justru membantunya dalam mengungkapkan keinginannya tanpa perlu dia yang mengatakan. Dan keuntunganmu? Banyak. Kau tidak membiarkannya terus menerus membebani hatimu, kau bisa menjadi wanita yang tegas yang mana tegas tak dapat kau terima dari seorang laki-laki gagah sepertinya, kau bisa lega dan bisa feel free, meskipun aku sangat tahu rasa kehilangan dan ketidakrelaan masih menetap di hati, perasaaan, kepala, otak dan jiwamu.

Kini kau benar-benar menjadi wanita yang benar-benar kuat karena sudah berani mengambil keputusan sendiri. Tak perlu berpura-pura tersenyum dan bahagia ketika bersamanya. Tapi itu jika kau berani melakukannya, jika kau berani memutuskannya sedangkan perasaan masih cinta dan tak rela lebih besar dari rasa sakitmu. Kau perlu banyak berdoa dan memantapkan niatmu, jangan ragu dan jangan setengah-setengah.

Mari kita berdoa smoga kita segera langsung dipertemukan pasangan yang baik hati, iman dan sikapnya dan tidak terburu-buru dalam mengenal cinta kembali. Bagaimana nasibku? Aku bisa memberi saran tapi tak bisa aku praktekkan. Ya setidaknya kini aku sudah bisa tak menggantungkan harapanku padanya, kini aku sudah mulai terbiasa sendiri dan tak pernah berpegangan padanya lagi, dan ketika dia benar-benar lari.

Aku sudah siap batin sebelum dia lari. Jadi alian semua adalah wanita hebat dan kuat sempat bertahan di tengah kepedihan, sempat dengan rapinya menyembunyikan luka disetiap inci senyum dan tawamu, dan sempat menjadi sumber kebahagiaan orang lain. kalian hebat! Dan laki-laki kalian pun hebat! jangan menyalahkannya, sebab dari dia kita bisa belajar kuat hebat dan mandiri. Terimakasih kasih sayang dan cinta kalian tetap terkenang dan akan hilang dengan berjalannya waktu tapi bukan aku yang menghapusnya. Semoga kebaikan kalian dibalas oleh Yang Maha Kuasa.