Sahabat.

Berjuta arti dari kata ini. Sahabat adalah seseorang yang akan selalu menemani serta berkorban di saat keadaan terburuk diri kita. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti kalian. Kalian hadir dengan rencana yang sangat indah dari Yang Maha Kuasa. Kita dipertemukan saat sedang menimba ilmu akhirat waktu itu. Kala itu kita baru beranjak remaja, kita juga baru merasakan yang namanya jatuh cinta. Ya, kita jatuh cinta dan jatuh cinta itu mungkin hanya kekaguman kita semata ke seorang laki-laki yang sama.

“Hai namaku Dian” aku memulai memperkenalkan diri kepada mereka berdua. “Namaku Virgi. Namaku Heni” kalian pun memperkenalkan diri. Virgilah diantara kita yang lahir lebih dulu. Ya, dia lahir 1 tahun lebih tua dari aku dan Heni. Setelah beberapa kali bertemu dan bercerita kita semakin akrab, tetapi disuatu hari kita bertengkar hebat karena keegoisan kita saat itu. Saat itu Heni jatuh cinta juga dengan laki-laki yang pernah dekat denganku, lalu mereka jadilah sepasang cinta monyet pada zaman itu. Peristiwa itu terjadi saat kita masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Masih labil-labilnya anak remaja awal.

Beberapa hari setelah aku mengetahui itu Heni memutuskan cinta monyetnya itu. Karena memang aku sempat marah dan tak menyangka jatuh cinta itu sakit terlebih dia bersama dengan orang yang sangat dekat dengan diriku. “Kamu milih aku atau sahabatmu?” pertanyaan itu terlontar dari mulut laki-laki itu kepada Heni. Dengan tegasnya Heni menjawab “Sahabatku”. Saat aku mengetahuinya, setelah bertahun-tahun Heni membungkusnya hingga aku tak mengetahui itu, kini aku langsung berpikir seegois itukah aku waktu itu? Setelah mereka selesai tiba-tiba Heni meminta maaf dan kita nangis bersama entah tangisan sedih atau bahagia. Yaampun masih bisa-bisanya Heni meminta maaf padahal kalau dipikir ini salah aku waktu itu. Lagi-lagi sahabatlah yang rela melakukan itu. Kalau hanya teman biasa aku yakin tak ada moment semengharukan seperti itu.

Bertahun-tahun sudah dan kisah itu abadi di kenangan kita, tetapi saat mengingatnya menjadikan kita saling mengetawai diri masing-masing, karena masa awal remaja kita begitu penuh kesan awkward menurut kita saat ini. Bahkan saat mengingatnya kita bisa tertawa bersama. Laki-laki itu dengan percaya dirinya kembali lagi dan entah ada faktor apa laki-laki itu menjadi seperti penyusup yang ingin mengadu antara kita kembali. Laki-laki itu datang dengan berbagai kepalsuan. Dia juga sudah melebih-lebihkan cerita di dalamnya. Tetapi kali ini dia takkan berhasil, karena sekarang kita sudah sama-sama paham bahwa egois itu bisa mematikan, mematikan hati sendiri dan merugikan orang-orang terdekat. Laki-laki itu pergi akhirnya sebelum omong kosongnya menghancurkan benteng persahabatan kita kala itu. Karena dia hanya orang baru sedangkan kita sudah sama-sama merangkul untuk semakin kuat menghadapi sikap laki-laki yang seperti itu.

Advertisement

Dahulu aku memang sangat egois, dahulu saat usia awal remaja pastilah menginginkan semuanya menjadi milik aku. Tetapi saat ini aku mengerti seegois apapun dan sejahat apapun sikap kita dahulu. Masih ada sahabat yang mau merangkul dan memperbaiki semuanya secara bersama tanpa harus menghakimi diri ini secara berlebih. Saat ini jarak memisahkan kita. Tunggu aku di Ibukota Indonesia ya.. aku pasti kembali dengan buku pinjaman aku ke kamu Hen, aku pasti kembali demi mendengar ocehanmu tentang suami impianmu Vir. Kita sahabat, aku akan berusaha menjadi rangkulan kalian. Aku tak akan menjadi bom kembali. “Persahabatan adalah segalanya ! Yeay !” ini selalu terucap saat kita masih sering menghabiskan hari bersama. Aku rindu kalian. Aku rindu kita.

“Cinta tertulus selain cinta orang tua ke anak yaitu Cinta seorang sahabat kepada sahabatnya. Sejauh mana kita melangkah. Setinggi apapun kita berada. Sahabat akan selalu jalan beriringan dengan kita.” -@winggafifisa.