Aku pernah menyebutmu sahabat. Rasanya menyenangkan menganggapmu demikian. Pada akhirnya, hidupku yang sepi dan canggung, memiliki nuansa lain selain hitam dan putih. Kamu adalah alasanku terlampau bersemangat untuk bangun di pagi hari, memaksakan kantukku menggantung hingga larut sekali hanya untuk menemani obrolan ringanmu setiap hari. Aku tidak pernah menyesali pertemuan kita pertama kali. Aku tidak ingin memaki Tuhan tentang mengapa kita pernah didekatkan. Kamu adalah salah satu dari banyak alasanku bertahan hidup dengan kaki yang kokoh berpijak meski jantung sudah berdarah-darah. Aku sudah terlalu akrab dengan rasa sakit. Jadi merasakannya darimu–juga–bukan hal yang mengejutkan bagiku.

Segala yang ada di dunia punya cacatnya masing-masing. Bahagiaku denganmu pun begitu. Berawal dari keserakahanku, ketidakdewasaanku yang menginginkan perhatianmu harus tercurah hanya untukku. Padahal aku tahu dia sudah ada disana, di sisimu, menempati hampir seluruh ruang di hatimu.

Aku bisa apa? Ketika bahkan hal-hal kecil sekalipun seperti notifikasi pesan atas namamu yang muncul di ponselku, bisa menjungkir-balikan duniaku. Aku merasa diistimewakan dengan cara-cara tertentu. Terlebih saat kamu lebih memilih untuk mempertahanku ketimbang membiarkan kekasihmu tetap berada di sisimu. Kamu marah padanya untukku, membesarkan hatiku yang tiba-tiba murung karena ulah mulut jahat kekasihmu. Kamu membelaku dengan caramu. Cara yang menumbuhkan salah paham berkepanjangan dalam hidupku.

Terkadang aku melupakan fakta bahwa kamu hanyalah sahabatku. Harapan yang aku tanamkan untuk memilikimu semakin membesar dari hari ke hari, meskipun aku tidak pernah menunjukkannya padamu. Bertahun-tahun terjebak dalam flirtationship yang rumit, lalu aku mulai berpikir sesuatu harus terjadi di antara kita ketimbang hanya saling melempar gombalan basi.

Hingga hari itu, kamu bilang kamu mencintaiku. Hal termanis yang pernah kudengar darimu. Aku menandai kalenderku, mengingat hari itu sebagai hari pertama kita berpacaran. Awalnya semuanya berjalan sangat sempurna. Perhatian-perhatian klasik, kata-kata romantis… Aku terlena dengan itu semua sampai kurasakan aku terlalu jenuh karena pola romansa kita hanya begitu-begitu saja, seolah itu hanyalah rutinitas, tidak ada emosi yang terlibat.

Advertisement

Aku tahu itu adalah awal segala kerumitan yang terjadi di kemudian hari. Kita selalu menggembar-gemborkan betapa dekatnya kita berdua, tapi sesungguhnya kita hanyalah dua manusia yang merakit interaksi lewat benda pipih canggih bernama ponsel. Hubungan kedekatan kita selama ini berpusat disana. Coba hitung berapa kali kita benar-benar berkencan? Sekali? Dua kali? Kita tidak seperti pasangan normal yang rindunya baru terobati jika bertatap muka. Aku kemudian menyadari bahwa sebenarnya aku bagimu sama sekali tidak ada harganya.

Hari itu, aku mengingatnya sebagai hari ketika kekesalanku tidak bisa ditakar lagi. Kamu lebih memilih untuk pergi bersama 'teman-teman'mu ketimbang denganku. Garis bawahi ini, 'teman-teman'mu yang di dalamnya ada mantan kekasihmu. Coba kuingat apa alasanmu waktu itu? "Itu sudah masa lalu. Kami hanya berteman dan tidak akan ada yang terjadi di antara teman."

Begitukah?

Bahkan untuk cemburu sebesar itu kamu merasa tidak mau tahu. Lalu, apa artinya aku bagimu?

Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku selama berminggu-minggu. Aku merasa kehilangan arah, merasa tidak diinginkan, merasa hanya jadi batu sandungan bagimu. Berkali-kali aku meminta padamu untuk mengakhiri semuanya, tapi jawabanmu selalu sama, "Mengakhiri apa?"

Kupikir kamu yang bodoh, tapi ternyata kebodohan itu mutlak ada padaku. Hari itu, seorang temanku menceritakan padaku alasan dirimu menghubunginya waktu itu. Temanku hanya berusaha bertanya tentang hubungan kita, namun kamu menebar racun dalam jawabanmu tentang hubungan kita.

"Tidak ada apa-apa. Bukan siapa-siapa. Hanya kakak dan adik. Dia hanya salah paham."

Salah paham? Untuk semua kata-kata romantis, ungkapan cinta, perlakuan manis, kamu menyebutku hanya salah paham? Tidak terkatakan betapa terlukanya perasaanku saat itu. Harga diriku tidak lagi membuatku bangga. Aku merasa menjadi sampah yang tidak berguna. Tahukah kamu betapa sulitnya bagiku membangun kepercayaan diriku lagi? Aku harus menghapusmu dari kehidupanku, menutup semua akses yang memungkinkanmu untuk memberi penjelasan padaku. Ironis, tapi aku merasa beruntung, karena selama ini kehidupan kita hanya berkubang di media sosial. Walaupun lingkungan kita masih sama, setidaknya interaksi sosial kita tidak pernah lebih dari bertatap muka kurang dari sejam. Seharusnya mudah bagiku untuk melangkah maju meninggalkanmu. Hampir tidak ada memori nyata yang bisa kuingat tentangmu, kecuali pesan-pesan penuh rayuan yang bahkan bisa dihapus tak berbekas dari perangkat kita berdua.

Sudah berakhir. Semuanya sudah berakhir bagiku.

Mungkin masih terasa sulit mendengar namamu atau melihat namamu muncul wara-wiri di kehidupanku. Tapi itu sudah berlalu. Aku sudah bangkit dari keterpurukanku dan sedang menata kepercayaan diriku–lagi–yang rusak karenamu. Tidak apa-apa kalau aku harus kehilangan muka, dianggap sebagai perempuan gila yang terlalu delusional dan salah mengartikan perasaan 'hanya teman nge-flirt' itu sebagai perasaan cinta. Ah, harusnya aku sadar, cinta sejati itu hampir tidak ada.

Aku sudah memaafkanmu untuk segalanya. Bagaimanapun, kamu pernah menjadi sahabatku, orang yang pernah memberi warna dalam hidupku. Tapi jejakmu hanya sampai disana. Kamu memang punya tempat di hidupku—sebagai sebuah kenangan, sebuah kesalahan, sebuah malapetaka, seorang teman yang pernah menyenangkan—, tapi ketahuilah, kamu sudah tidak punya tempat lagi di bagian manapun di hatiku.

Semoga hidupmu berbahagia dan rencanamu untuk kembali bersama mantan kekasihmu direstui semesta. Kalau berkenan, undang aku ke pernikahan kalian kelak. Aku akan datang sebagai bekas teman yang pernah salah paham; bukan dengan airmata dan kekecewaan karena dicampakkan, melainkan dengan make-up mahal dan hidup yang terlalu berbahagia. Selamat tinggal!!