Selalu ada cerita tentang hujan. Hujan adalah sahabat baik bagi para perindu. Hujan telah menjadi penghantar kerinduan yang mengagumkan. Lewat rinainya sajak-sajak rindu meninggalkan jejak. Suara hembusan angin menyenandungkan kidung-kidung kerinduan yang syahdu dan hujan yang turun setelahnya mengejawantahkan segenap duka dan rasa frustasiku akan rindu yang kian menggerogoti dan membuat dadaku sesak.

Hujan adalah sebuah retorika alam, jawaban akan sebuah harapan di kala kering, ketika getar peristaltik melemah karena haus. Menanti hujan kini menjadi aktivitas favoritku. Seperti makhluk hidup lainnya aku juga ingin merasakan karunia yang dibawa oleh air dari langit itu. Melihat awan gelap bergelantungan di udara, tak sabar rasanya ingin menikmati butiran-butiran hujan. Aku menengadahkan wajah ke langit dan memohon dengan penuh harap. Jika hujan benar-benar turun aku akan segera berlari dan menari dibawah rinainya. Biar hujan menghanyutkan sisi-sisa muhasabah diri masa-masa kelam, agar tercipta ladang subur yang indah dan menjadi dasar penggapaian masa depan. Namun angin segera menggiringnya, awan mendungpun berarak pergi. Mungkin saat ini ada bagian bumi lain yang lebih membutuhkan tetes-tetes airnya.

Hujan, tentang sebuah siklus air. Air yang menguap, mengendap, dan mengembun. Hingga pada titik jenuh ia akan jatuh ke bumi. Menjatuhkan dirinya dengan ikhlas dan berharap ia akan menjadi sumber kehidupan baru bagi seluruh makhluk di bumi. Aku merindukan hujan dan aku pun ingin menjadi air agar selalu bisa menjadi bagian dari siklusnya. Seperti air aku ingin mengalir mengikuti titah Tuhan. Dalam ikhlas, berjalan di alur yang sudah dirancang dengan hebat oleh-Nya.

Aku merindukan hujan yang selalu bisa membuatku merasa cantik. Aku merindukan hujan yang selalu bisa menyejukkan sanubari. Hujan yang mampu meleburkan berbagai masalah yang berjejal di otakku. Hujan yang selalu mengajarkan untuk bersyukur. Hujan yang selalu membuatku merasa damai. Hujan yang mengajarkan tentang makna keikhlasan dalam hidup. Hujan yang selalu bisa membangkitkan memori tentang kejayaan di masa lalu dan mengobarkan semangat untuk menapaki masa depan yang lebih gemilang. Hujan yang akan mengantarkanku melihat keelokan pelangi.

Kini musim telah berganti, tak mudah untuk menemukan dedaunan dan rumput-rumput yang basah karena hujan. Tak banyak yang bisa ku lakukan. Hanya dalam simpul-simpul doa aku sampaikan kerinduan. Tak ada lagi air mata, mungkin sudah terlalu gersang. Jika sudah begini maka cinta tak lagi soal rasa ingin memiliki namun tentang keikhlasan. Sudah barang tentu segara perkaya di dunia ini sudah diatur oleh sang Maha Pemilik Skenario. Seperti hujan yang menjatuhkan dirinya dengan penuh keikhlasan dan ia berharap akan menjadi lebih bermakna. Aku juga akan menjatuhkan hatiku dengan ikhlas, entah akan berakhir remuk atau justru akan menjadi semakin kuat.

Advertisement

Hujan kini tak datang lagi, maka aku akan mulai mencoba untuk terbiasa bertahan di bawah terpaan terik matahari di musim kemarau. Mungkin hujan tak akan pernah tahu tentang betapa besar rinduku padanya. Aku akan tetap menunggu. Sekalipun esok atau lusa hujan tak jua membasahi penjuru kota ini, aku hanya akan tetap merindukannya. Hujan yang selalu bisa membuatku merasa lebih hidup. Aku yakin ini hanya masalah waktu dan perputaran takdir. Segalanya akan indah di waktu yang tepat, hanya butuh sedikit lagi kesabaran dan usaha untuk memperbaiki diri dan semakin dekat pada Sang Maha Pencipta.