Seseorang yang dulu-bahkan kemarin aku sebut sebagai priaku, aku lelah. Apa kamu tahu? Bukan, bukan karena hubungan kita yang bertahun-tahun membuatku bosan kemudian lelah. Aku lelah dengamu, dengan kita.

Mungkin kamu tahu, aku wanita yang selalu memohon ketika kamu kesal. Kamu tahu, aku wanita yang selalu menangis ketika usahaku tidak kamu hargai. Kamu tahu, aku wanita yang tidak pernah ingin kamu pergi. Kamu tahu, aku wanita yang selalu menahanmu pergi, dengan berbagai cara, yang mungkin terlihat tidak masuk akal.

Kamu yang Selalu Ingin Menang

Aku terkadang membenci sikapmu yang selalu ingin menang. Diperdebatan kita, selalu aku yang merasa terpojokkan. Mungkin karena kepandaianmu dalam berbicara?

Tak pernah sekalipun kamu mengizinkanku menjelaskan mengapa aku berbuat salah. Aku yang selalu meminta, meminta kesempatan untuk menjelaskan. Pada akhirnya, kamu pun pergi tanpa sedikitpun memikirkan keadaanku.

Advertisement

"Pergi" Merupakan Hal Termudah Bagimu

Entah sudah berapa ratus kali aku menjadi pihak yang ditinggalkan, Seolah kata itu melekat pada dirimu saat ada masalah datang. Aku yang ditinggalkan kemudian mencarimu, berusaha membuatmu bertahan. Tapi terkadang pengabaian yang aku dapatkan.

Kisah ini, Selalu Kau Anggap Perih

Dalam kisah ini, di matamu, aku yang menjadi tokoh antagonis dan kamu menjadi tokoh protagonis yang selalu disakiti olehku. Kamu merasa kisah ini perih. Kamu yang merasa aku yang selalu menyakitimu tanpa diingat sudah berapa hal yang telah kita lewati.

Melepaskanmu Tidak Mudah Bagiku

Aku dan kamu berbeda, termasuk dalam hal melepaskan dan merelakan. Aku kalah olehmu. Dalam hal ini kamu selalu menjadi juaranya. Jika kamu pikir aku tidak pernah mencoba hal itu, kamu salah. Setelah aku menangis, aku selalu coba untuk merelakanmu. Tapi tidak pernah bisa.

Dulu, Syarat Bahagia Kita Sederhana

Apa kamu ingat bagaimana awal kedekatan kita? Kita hanya anak SMA biasa, yang selalu mencoba hal baru berdua. Yang tidak peduli panas, hujan dan terjalnya jalan yang kita lewati, yang penting kita sampai pada tempat tujuan kita.

Pernah juga kita menyerah pada jalan yang kita pikir takkan bisa kita lewati. Apa sekarang hal itu terjadi lagi pada kita? Dulu, hanya keliling kota naik roda dua tanpa tujuanpun selalu membuat kita bahagia. Dulu hanya saling diam pun sudah bisa menyamankan hati. Ya semua itu dulu.

Aku Merelakanmu, Aku Terluka

Yang harus kamu ingat bukan hanya kamu saja yang terluka. Aku pun merasakan. Merelakan seseorang yang sudah mendampingi bertahun-tahun tidak mudah. Aku titipkan kamu pada Tuhan. Semoga Ia selalu menjagamu, memberikanmu kebahagiaan, perlindungan dan tawa. Tentunya memberikan seseorang yang bisa lebih menyayangimu dan membahagiakanmu, lebih dariku.