Perpisahan…

Siapa yang tak sedih mendengar kata itu? Apalagi untuk kami, wanita yang lebih dominan dengan perasaan. Kami tak memiliki logika yang lebih dari kalian para lelaki. Terkadang, tanpa berpikir panjang kami mudah sekali mengambil keputusan.

Dalam rumitnya sebuah hubungan, kami mudah lelah saat ego kalian begitu kuat mengalahkan usaha kami untuk selalu bertahan. Ya, sebagian dari kami akan memilih menangis mempertahankan walau sakit. Tapi sebagian lagi, memilih menyerah dan mengucapkan pisah. Karena kami tak sayang atau bosan? Jelas tidak. Kami tak sepenuhnya pergi. Kami ingin kalian mengerti bahwa usaha kami bertahan sudah pada batas lelahnya.

Kami ingin kalian menyadari bahwa kami butuh sosok yang peduli, menghargai, dan rela menurunkan ego. Karena dengan debat dan pertengkaran, tak pernah mampu membuat kalian paham apa yang kami rasakan.

Kami bertahan walau sakit. Tapi kami mencoba tetap kuat, berusaha sabar, dan yakin kalian akan berubah seiring berjalannya waktu.

Diabaikan adalah hal yang tidak mengenakkan bagi siapapun. Keluhan ini seringkali dirasakan oleh wanita yang memiliki pasangan cuek. Bisa seharian penuh atau bahkan seminggu tanpa kabar, wanita mana yang tak sedih? Jelas kesepian pun yang akhirnya menemani. Ujung-ujungnya, wanita berdiam diri di kamar dan menangis menahan rindu. Itulah wanita, sudah diciptakan kodratnya sangat perasa dan sensitif.

Advertisement

Untuk sebagian wanita akan memilih memaklumi kekurangan pasangannya, bertahan mengikuti waktu yang semakin hari menyiksa batinnya sendiri. Atas nama cinta, atas nama kebersamaan yang telah terlalu dalam. Tidak ada yang salah dengan pilihan ini. Tapi sampai seberapa lama lagi air mata kita terbuang percuma untuk sosok lelaki yang asik dengan dunianya sendiri?

“Aku lelah, lebih baik kita pisah saja !” Ini adalah keputusan tersulit, yang mau tidak mau harus diambil.

Dengan tegasnya, wanita yang mengambil keputusan pisah akan merasa jauh lebih baik. Tak semuanya, dalam fase ini musuh terberat adalah kebencian dan kerinduan yang berlomba mengusik hati. Lagi-lagi air mata terbuang menangisi keputusan tanpa pikir panjang. Tapi, bukanlah lelaki yang menyayangi kita akan berjuang dan mengusahakan kita kembali. Lelaki yang bijak akan menganggap keputusan kita hanya emosi sesaat.

Sekali lagi, kami wanita tak punya logika yang lebih. Sedangkan lelaki yang tak bisa menurunkan egonya akan buta dengan kesalahan diri dan menghukum sepihak keputusan kita para wanita. Mereka akan dengan sombong tetap pergi tanpa pertanyaan, tanpa rasa heran.

Bersabar dan berdoalah jika berpisah tak sanggup diucapkan. Semoga Tuhan Yang Maha Baik mampu menguatkan dan merubah kesedihan menjadi kebahagiaan.

Bawalah rasa sedih kita dalam ibadah. Memohon dengan khusyuk perubahan-perubahan yang membahagiakan. Mintalah dengan tulus agar Tuhan memperhitungan lelah kita mempertahankan hubungan yang rumit. Karena kita tahu lelaki dengan ego tinggi tak pernah bisa diajak diskusi dan berubah. Percayalah! Tuhan takkan membiarkan hambaNya tersiksa terlalu lama dalam keadaan yang sulit.

Teguhkan pendirian dan kuatkan hati kita menerima dengan ikhlas keputusan yang telah kita ambil. Yakini ini langkah awal kita meninggalkan sesuatu yang tidak baik.

Setiap hari, kita akan terhanyut dalam sedih. Sedih akan kerinduan dan kebencian pada seseorang yang sebelumnya membuat kita terpesona. Jangan menyesali! Bukankah sudah kita rasakan lelahnya bertahan tapi diacuhkan? Bahkan sekarang, kita sama sekali tidak diperjuangkan. Biarkan saja lelaki egois itu pergi jauh-jauh tanpa menyentuh kehidupan kita lagi. Tetap bawa dalam ibadah dengan khusyuk. Sibukkan diri dengan hal-hal baik.

Pada saatnya, waktu akan membuat kita tersenyum dan bangga bahwa kita berhasil keluar dari keadaan rumit yang sempat kita pertahankan. Tetap semangat!