Salah Rindu

Ke-empat, ke-lima atau ….. entah sudah kesekiannya hujan kembali setelah begitu lama terik dan gersang yang setia. Ku hirup dalam-dalam aroma khas yang membuat ku jatuh cinta denganmu meski sebenarnya kehadiranmu yang tiba-tiba membuat daya tahan tubuhku kaget. Hujan, yang ku tahu aku selalu membuat diriku selalu merasa bahagia karnamu meski terkadang aku memaksa. Yang ku maksud bahagia, bukan hanya senyum yang ku perlihatkan kepadamu namun ketika aku meracu akan semua hal yang membuatku merasa bersalah dengan mata tertutup dan lembaran tissu yang terbuang percuma. Ku paksa karena dikala kedewasaan ku itu datang, ada ilham yang membuatku tersentuh atas naskah yang ditulis tuhan untukku. Aku bahagia, sungguh, kau mengajarkanku dan membawaku pada cinta yang hakiki dari penciptaku. Terkadang hadirmu seperti musik orkestra yang menggebu-gebu dengan laju jatuhmu yang entah tak pernah ku hitung kecepatanmu. Dan terkadang kau membentuk irama lembut jazz yang menjadi favoritku. Seiring bulir setiap tetesmu bersatu menjadi sebuah irama, tertegun pula dengan kisah klasik maupun yang terbaru kau munculkan.

Selalu, iya selalu kau munculkan kisah klsik itu. Sebuah perpisahan yang sempurna. Terasa sempurna ketika ku temukan jawaban atas kepahitan yang membuatku berderai air mata setelah dua tahun perayaannya. Dan telah ribuan jam yang telah ku lewati, sekarang aku hanya bisa tersenyum. Kisah klasik yang kejam itu, membuatku tersenyum. Karenanya, kini pemeran utamanya terlihat bahagia. Ku rasa, kisah klasik ini menjadikan proses kehidupan panjang antara aku yang telah terganti oleh pengganti baru. Sudah selayaknya pemeran utama yang telah berjerih payah menuai kebahagiaan yang tlah lama dicari. Perjuangan yang tak terlihat olehku membuatmu menemukan pengganti yang mampu menjadi pelengkap yang lebih baik. Terkadang, ketidakmampuan ku sebagai pengurung rasa membuatku sebagai seorang yang amat jahat. Mengetahui sebagian proses cerita, bahagia, sedih yang diabadikan musium pribadi oleh seorang pemeran utama tanpa sepengetahuan penjaganya. Tapi aku tidak ingin menerus menjadi jahat seperti itu, aku lelah hingga akhirnya ku hilangkan sendiri kunci musium itu. Dengan waktu yang mendesak, tak sengaja tengah alur cerita ku baca disana tercipta sebuah kalimat dimana harap tuk hidup baru bersama pengganti baru tersebut ada dalam doa. Keyakinan dan semangat yang tak ku rasakan ketika berperan denganku.

Dan aku hanya bisa tersenyum disetiap kesuksesan ceritamu. Kebahagiaanmu ikut dirasakan pula oleh sesorang yang pernah menjadi pasangan sepertiku. Karena dengan berkahirnya kontrak naskah denganku. Ku temukan kebahagiaan yang menjadi nyata. Di akhir cerita yang sesunguhnya, yang tidak terselesaikan denganku. Sebagai penonton yang tak diharapkan, rasa syukur ku hadirkan disetiap pagi setelah hujan turun. Pemeran utama itu selalu bisa menjadi sebuah bintang pada malam atau embun dikala pagi. Bukan pelangi, melainkan bintang. Karena sinarnya akan tetap bersinar meski terhadang langit mendung dan masih tetap bersinar setelah awan mendung itu berjalan pergi meninggalkanya.